Delapan Macan Tutul Jawa Terekam di Taman Nasional Bromo

Surya B. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 106 dibaca
Bisik.id
Delapan Macan Tutul Jawa Terekam di Taman Nasional Bromo

Gambar atau konten salah?

Delapan ekor macan tutul Jawa (*Panthera pardus*) berhasil terekam oleh kamera trap di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Penemuan ini menjadi kabar baik bagi upaya pelestarian satwa langka ini.

Peristiwa tersebut terjadi selama pelaksanaan Java Wide Leopard Survey (JWLS), sebuah program yang digelar oleh Kementerian Kehutanan, BCA, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS), dan Yayasan SINTAS Indonesia. JWLS bertujuan mengumpulkan data tentang populasi macan tutul Jawa di wilayah tersebut.

Hingga pertengahan 2025, fase pertama survei telah berhasil mengidentifikasi minimal 8 individu macan tutul Jawa. Kelompok tersebut terdiri dari satu jantan, enam betina, dan satu anakan. Data ini menjadi dasar bagi perencanaan konservasi lebih lanjut.

Fase kedua survei masih berlangsung pada tahun 2026. Tujuannya adalah melengkapi gambaran populasi secara menyeluruh, termasuk struktur usia dan hubungan antar habitat di TNBTS.

Direktur Yayasan SINTAS Indonesia, Hariyo T. Wibisono, mengungkapkan bahwa habitat macan tutul Jawa telah mengalami perubahan bentang alam akibat ekspansi aktivitas manusia dalam beberapa dekade terakhir. Perubahan ini membuat satwa sering terdorong keluar dari ruang alaminya, bahkan mendekati pemukiman warga.

“Hutan adalah rumah mereka, dan kehadiran manusia di sekitarnya pasti membawa dampak. Selama kita tidak mengganggu atau memprovokasi, satwa seperti macan tutul Jawa juga tidak akan menyerang. Jika berbagi ruang semakin sulit, berbagi waktu adalah solusi yang paling realistis untuk tetap hidup berdampingan,” kata Hariyo pada 6 Mei 2026.

Hariyo menambahkan bahwa keterbatasan data menjadi tantangan penting. Tanpa informasi akurat mengenai jumlah individu, struktur populasi, dan konektivitas habitat, upaya konservasi berisiko tidak tepat sasaran.

Dalam rangka memperkuat kapasitas pemantauan, program JWLS melatih 84 peserta teknik survei menggunakan kamera pengintai. Selain itu, 16 peserta dilatih dalam manajemen dan analisis data kamera pengintai. Pelatihan ini melibatkan berbagai lembaga, termasuk Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Ditjen KSDAE) Kementerian Kehutanan dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur.

“Sejak 2024, kontribusi ini memperkuat upaya pengelolaan konservasi berbasis data, sekaligus mendukung pemerintah dalam usaha pelestarian macan tutul Jawa di Indonesia,” ujar Hera F. Haryn, EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA.

Di sisi lain, warga setempat juga turut merespons. Randi, salah satu penduduk Ranu Pani, mengamati keberadaan macan tutul tidak jauh dari wilayahnya. Ia menyatakan bahwa satwa liar memang memiliki naluri tertentu, terutama bila dekat ternak warga.

“Macan tutul itu satwa liar, jadi nalurinya memang begitu, apalagi kalau dekat ternak warga. Tapi kami juga paham, mereka turun ke dekat kampung pasti ada sebabnya. Bisa jadi ekosistemnya sudah terganggu,” ujarnya. Randi menekankan bahwa solusi utama bukan mengusir, melainkan menjaga habitat macan tutul.

“Kalau tempatnya aman, mereka tidak akan turun ke warga. Jadi sebenarnya bukan soal mengusir, tapi bagaimana kita sama-sama menjaga supaya manusia dan macan tutul bisa tetap hidup berdampingan,” tambah Randi.

Tuangkat, petugas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, menegaskan bahwa macan tutul bukan ancaman, melainkan bagian dari sistem kehidupan yang harus dihormati. Ia menekankan pentingnya menjaga hutan lestari.

“Macan tutul itu bukan untuk dilawan, tapi dijaga keberadaannya. Kami percaya, kalau hutan tetap lestari, mereka tidak akan turun ke pemukiman,” kata Tuangkat. Ia menambahkan, “Kuncinya sederhana: jaga hutannya, hormati alamnya. Dengan begitu, manusia dan macan tutul bisa hidup berdampingan, seperti yang sudah diajarkan oleh leluhur kami sejak dulu.”

Peristiwa ini menegaskan bahwa pelestarian macan tutul Jawa tidak hanya soal melindungi spesies terancam punah, melainkan juga menjaga keseimbangan antara manusia dan alam di wilayah TNBTS. Dengan data yang terus diperbarui dan kolaborasi antara lembaga, masyarakat, serta perusahaan, harapan akan keberlanjutan habitat macan tutul tetap terjaga.

Macan tutul JawaTaman Nasional Bromo Tengger SemeruJava Wide Leopard SurveyKamera trapKonservasi satwaHabitat hutan

Komentar

Memuat komentar...