Delhi Umumkan Kebijakan Kendaraan Listrik 5 Tahun 2026-2030
Gambar atau konten salah?
Pemerintah Delhi, India, baru saja mengumumkan draf awal Kebijakan Kendaraan Listrik (EV) 2026-2030. Kebijakan ini menargetkan periode lima tahun, bukan satu tahun saja. Tujuannya memberi sinyal stabil bagi investor dan memacu adopsi kendaraan ramah lingkungan.
Menurut Agus Purwadi, pengamat otomotif senior dari Institut Teknologi Bandung, investasi tidak pernah bersifat jangka pendek. “Investasi tidak pernah bicara soal short term. Jadi kalau untuk meyakinkan investor, policy itu harus dibaca secara clear. Jangan setiap tahun berubah, setiap tahun berubah,” ujarnya saat ditemui di Senayan, Jakarta Pusat.
Agus menekankan bahwa kebijakan di Indonesia sering berubah tiap tahun. “Kalau untuk investasi memang kebijakannya harus (berjangka) lima tahun, itu pun minimal. Tapi insentifnya (diberikan) ke industri, harus ekosistemnya. Semua, biar tumbuh. Jadi yang belum tumbuh, ditumbuhin,” tambahnya.
Di India, motor listrik menjadi penerima utama subsidi. Pada tahun pertama pelaksanaan, konsumen dapat menerima subsidi hingga 30 ribu rupee (sekitar Rp 6 juta) tergantung kapasitas baterai. Nilai ini akan turun pada tahun kedua dan ketiga. Selain itu, ada bonus 10 ribu rupee bagi yang menukar motor bensin lama (BS4 atau lebih tua) dengan motor listrik. Registrasi motor bensin akan dihentikan secara bertahap.
Mobil listrik tidak mendapatkan subsidi langsung. Namun, pemerintah memberikan pembebasan pajak jalan dan biaya registrasi untuk mobil listrik dengan harga di bawah Rs 30 lakh (sekitar Rp 550 juta). Ini memberi insentif tidak langsung namun signifikan bagi pembeli mobil listrik.
Vektor kendaraan hybrid juga mendapat perhatian. Pemerintah menurunkan pajak jalan dan biaya registrasi sebesar 50 persen, meskipun tidak ada insentif scrappage. Beberapa model, seperti Toyota Innova HyCross dan Urban Cruiser HyRyder, berpotensi meraih manfaat ini.
Agus menilai pasar mobil listrik di India dan Indonesia berbeda. Di Indonesia, pangsa pasar kendaraan listrik sudah tinggi, sehingga pemerintah sebaiknya menyubsidi industri roda empat secara umum. “Di Indonesia, market share kendaraan tersebut sudah tinggi. Sehingga, yang harus disubsidi pemerintah adalah industri roda empat secara umum,” jelasnya.
Dengan kebijakan jangka panjang, Delhi berharap dapat menciptakan ekosistem yang tumbuh. Insentif yang konsisten dan terukur akan memudahkan produsen, pemasok, dan konsumen dalam beradaptasi. Di sisi lain, Indonesia dapat mengambil pelajaran tentang pentingnya kebijakan yang tidak berubah-ubah untuk menarik investasi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Toyota Hilux Generasi 9: Mesin Diesel 204 PS, Fitur Level 2
Mitsubishi Siapkan 13 Model Baru, Mulai Mini Pajero 2026
Jetour T1 SUV Turbo Dihargai Rp 388 Juta untuk 500 Pembeli
Wuling Eksion Tumbuh Pesat, 1.000 Unit Sudah Diserahkan
Malaysia, Vietnam Produksi Mobil Listrik; Tertinggal
Truk Hijau Putar Balik di Tol Semarang‑Solo, Polisi Tindak
Berita Terbaru
Pelantikan DPW IAEI Jambi, Gubernur Tekankan Ekonomi Syariah
Bayi Ditemukan Telantar di Sungai Cibinong, Cibogo
Vlahovic Lepas dari Juventus, Cari Klub Baru Luar Italia
Raymond-Indra dan Nikolaus-Joaquin Kalah, Fokus Tampil
BMKG: Hujan Ringan di Way Kanan, Lampung Sore Hari
Zamzam: Air Suci Terus Mengalir Meski Dipompa 24 Jam
Tanggal 04 Juni 2026 Dapat Dihitung 18 Dzulhijjah 1447 H
Terowongan Tijuana‑Otay, 1.000 kg Kokain Ditangkap Besar
Gejala Kulit Leukemia: Memar, Benjolan, Infeksi, dan Lainnya
Almond vs. Kacang Tanah: Pilihan Nutrisi Jantung Kesehatan
