Desa Banjarangkan Tutup TPST, Sampah Dipindah TOSS Karangdadi
Gambar atau konten salah?
Desa Banjarangkan di Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, memutuskan menutup Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang terletak tepat di samping Sekolah Dasar Negeri 3 Banjarangkan. Penutupan ini diambil karena bau sampah yang menular ke lingkungan sekolah mengganggu siswa. Keputusan ini menjadi viral di media sosial setelah beberapa orang tua menyebarkan percakapan keluhan di grup WhatsApp.
Perbekel Desa Banjarangkan, AA Gde Indrawan Diputra, menjelaskan bahwa pihak desa sudah mengatasi masalah tersebut. Selain membersihkan tumpukan sampah yang menimbulkan bau, mereka juga menghentikan pengiriman sampah ke TPST. "Jadi TPST ini akan kami tutup. Nantinya semua sampah dari desa ini akan diangkut ke TOSS center Karangdadi," terang Indrawan pada Selasa, 12 Mei 2026.
Indrawan menambahkan bahwa desa berharap mesin pirolisis baru di TOSS Center Karangdadi segera beroperasi. Dengan mesin tersebut, tidak ada lagi sampah yang perlu dibawa ke TPST. "Nanti di sini hanya organik. Tapi tentu ini tantangan kita adalah mengedukasi masyarakat untuk dapat mengolah sampahnya," imbuh Indrawan.
Hingga kini, desa masih menggunakan sistem sanitary landfill, yaitu penimbunan sampah dengan tanah secara berlapis. Ia berharap tidak ada lagi open dumping. Namun, jika TOSS Center belum siap pada 1 Agustus 2026, Indrawan mengancam akan berhenti memungut sampah. "Jadi ini sampai 1 Agustus nanti kita lihat. Kalau belum juga ada solusi, saya juga akan berhenti memungut sampah. Karena bagaimana lagi, tidak ada solusi selain open dumping," jelasnya.
Indrawan menegaskan bahwa selama ini ia selalu meneruskan laporan dari SDN 3 Banjarangkan ke Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Klungkung. "Momen ini (viral) menjadi pengingat juga bagi kita untuk kembali menyadarkan masyarakat memilah sampah," pungkasnya.
Kepala SDN 3 Banjarangkan, Ni Wayan Srinati, menuturkan bahwa pada 7 Mei lalu, pihak sekolah sempat memulangkan siswa karena bau sampah yang cukup mengganggu. "Ini pertama kali baunya cukup mengganggu. Sebelum-sebelumnya tidak sampai sekeras itu baunya. Jadi waktu itu kami pulangkan. Sekarang sudah tidak lagi karena pihak desa sudah langsung mengatasinya. Informasinya sudah ditutup juga," jelas Srinati.
Setelah tindakan pembersihan dan penutupan TPST, kondisi sekolah kini tidak lagi terganggu oleh bau sampah. Pihak desa berencana mengalihkan semua sampah ke TOSS Center Karangdadi, dengan harapan mesin pirolisis dapat segera beroperasi dan mengurangi ketergantungan pada penimbunan di TPST. Jika TOSS Center tidak siap pada 1 Agustus, desa akan mempertimbangkan penghentian pengumpulan sampah, menandai potensi risiko open dumping di wilayah tersebut. Pihak sekolah dan desa terus bekerja sama untuk memastikan lingkungan sekolah tetap bersih dan aman bagi siswa.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Penurunan Wisnus Bali 4,14% Tahun Ini, 2,03% Bulanan
SIM Keliling Kembali Operasi di Badung dan Buleleng Pusat
Cuaca cerah berawan Bali, hujan ringan Badung Denpasar
Kamis 04 Juni 2026: Hari Ala Ayuning Dewasa, Waktu Lahan
Badung Bangun Tempat Penampungan Sampah B3 di Mengwitani
SMPN 5 Pupuan, Disdik Tabanan Atasi Rendahnya Siswa
Berita Terbaru
Surabaya Target 250 Medali Emas Porprov Jatim 2027
Hanya 8 Tim Piala Dunia 2026 Punya Pemain Lokal, 310 Luar Negeri
SPMB Jakarta 2026: Daftar Sekolah dengan Skor UTBK 2022
KAI Butuh Rp1,2 Triliun & 8.000 Petugas Perlintasan Sebidang
Dolar AS Beruat Rp 18.000, Rupiah Terdampak Kuat Pada Hari
PPPK Boleh Dapat Gaji ke-13 2026, Besar Sesuai Masa Kerja
SIM Baru Kini Verifikasi Wajah, Mulai 1 Juli 2026 Indonesia
Pria 65 Tahun di Klampok Lor Berhenti Hidup, Kembali Mati
