Desa Jambu: Kampung Sultan Usaha Warung Sembako di Bandung

Ani R. · 3 min baca · 3 bulan lalu · 96 dibaca
Bisik.id
Desa Jambu: Kampung Sultan Usaha Warung Sembako di Bandung

Gambar atau konten salah?

Desa Jambu, yang terletak di Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap, dikenal dengan julukan “kampung sultan”. Meskipun warga desa ini memiliki pekerjaan yang beragam di luar negeri, mereka semua cukup sukses sehingga mampu membangun rumah megah di kampung halaman.

Di antara para penduduk, Taryono, seorang pria berusia 61 tahun, menjadi contoh utama. Ia mengingatkan bahwa tradisi merantau di Desa Jambu sudah mulai berkembang sejak sekitar tahun 1990-an. “Sekitar tahun 90-an lah sudah mulai anak-anak merantau. Awalnya ya jualan sembako, kelontongan,” ujarnya.

Awalnya, para perantau tidak langsung membuka usaha sendiri. Mereka lebih dulu bekerja di tempat orang lain untuk belajar berdagang. “Mulanya kerja di orang lain dulu, sempat jadi karyawan. Tapi begitu sudah tahu caranya dagang, akhirnya buka sendiri di Bandung,” jelas Taryono.

Seiring waktu, usaha tersebut berkembang. Sekarang, mayoritas warga Desa Jambu memulai warung sembako di kota Bandung. “Sekarang mayoritas orang Desa Jambu buka warung sembako. Merantaunya hampir semuanya ke Bandung,” tambahnya.

Taryono sendiri memiliki enam anak, semuanya merantau sejak puluhan tahun lalu. Sebagian besar menetap di Bandung, sementara satu anak bekerja di Jakarta. “Anak saya dari tahun 90 juga sudah mulai merantau semuanya, ada enam. Satu di Jakarta, sisanya di Bandung,” katanya.

Generasi berikutnya juga ikut menetap di kota tersebut. “Cucu saya juga akhirnya sekolah di sana,” tambahnya.

Kerja keras mereka di perantauan telah terlihat hasilnya. Anak-anaknya kini memiliki rumah sendiri di kota tempat mereka bekerja. “Di sana sudah beli rumah sendiri. Di sini juga punya rumah. Tapi rumahnya yang besar justru di sini,” ujarnya sambil tersenyum.

Di Desa Jambu, Taryono menyebut anak-anaknya sudah memiliki enam rumah yang dibangun di tanah milik keluarga. “Total di sini sudah ada enam rumah, masing-masing anak punya satu,” jelasnya.

Usaha warung sembako menjadi sumber penghasilan utama keluarga mereka. Bahkan salah satu anaknya kini memiliki hingga empat warung sembako di Bandung. “Ada yang punya sampai empat warung. Semua di Bandung,” kata Taryono.

Selain itu, ada pula anaknya yang membuka cabang usaha di daerah lain. “Ada juga yang buka dua warung di Cilacap,” ujarnya.

Dalam mencari lokasi usaha, mereka biasanya memilih tempat yang ramai seperti dekat pabrik atau kawasan industri. “Biasanya cari tempat dekat pabrik atau perusahaan-perusahaan yang ramai,” jelasnya.

Dari usaha tersebut, penghasilan yang diperoleh terbilang cukup besar. “Penghasilan warung paling sedikit sekitar Rp 7 juta sebulan,” katanya.

Tradisi merantau di Desa Jambu juga diiringi budaya saling membantu antar keluarga. Anak yang sudah lebih dulu sukses biasanya membantu modal adik-adiknya. “Anak saya yang paling kecil juga merantau. Awalnya dimodalin sama kakaknya, jadi belajar jualan juga,” kata Taryono.

Saat ini, anak sulungnya berusia sekitar 45 tahun, sementara yang paling bungsu masih berusia 20-an tahun.

Meski sudah menetap di kota, para perantau tetap rutin pulang ke kampung halaman, terutama saat Lebaran. “Kalau Lebaran pasti pulang semua. Tahun ini juga katanya pulang tanggal 25 Maret besok,” ujar Taryono.

Kepulangan mereka biasanya membawa suasana berbeda di Desa Jambu. Jalan desa menjadi ramai dengan mobil milik para perantau yang mudik. “Anak-anak saya sekarang sudah punya mobil semua, masing-masing satu,” kata Taryono.

Di luar momen tertentu, Taryono dan istrinya lebih sering tinggal berdua di rumah. Sementara beberapa rumah milik anak-anaknya dirawat oleh warga sekitar. “Ada empat rumah anak saya yang dibersihin orang sini. Mereka digaji buat bersihin rumah. Tapi saya juga kadang bersihin rumah anak yang lainnya. Terus juga berkebun, tinggal berdua sama istri,” ujarnya.

Kesuksesan anak-anaknya ternyata tidak lepas dari usaha kecil yang pernah dirintis Taryono di desa. Ia mengaku dahulu membuka warung sembako sederhana di Desa Jambu sebelum akhirnya usaha itu dikembangkan oleh anak-anaknya di kota. “Dulu saya juga buka warung sembako kecil-kecilan di desa ini. Terus dikembangkan sama anak-anak,” tuturnya.

Ia pun tak menyangka usaha sederhana tersebut akhirnya membawa perubahan besar bagi keluarganya. “Alhamdulillah bisa berkembang sampai seperti sekarang,” pungkasnya.

Tradisi merantau yang dimulai di desa ini kini telah berubah menjadi jaringan usaha kecil yang sukses. Dukungan antar saudara, pilihan lokasi strategis, dan hubungan kuat dengan kampung halaman menjadi kunci kesuksesan yang terus berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Desa JambuMerantauWarung SembakoBandungCilacapKeluargaKampung Sultan

Komentar

Memuat komentar...