Detoks Bukan Kebutuhan Pasca Kurban: Porsi Seimbang

Yuli S. · 1 min baca · 1 bulan lalu · 79 dibaca
Bisik.id
Detoks Bukan Kebutuhan Pasca Kurban: Porsi Seimbang

Gambar atau konten salah?

Setiap kali ada hidangan daging kurban, banyak orang yang memang suka memakannya berlebihan. Setelah menelan banyak potongan daging, muncul pertanyaan: apakah tubuh perlu melakukan detoks pencernaan?

Menurut dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH, konsultan gastroenterologi-hepatologi di Mayapada Hospital Jakarta Selatan, detoks pencernaan tidak diperlukan. Ia menekankan bahwa pola makan yang seimbang sudah cukup.

“Sebenarnya saya rasa keseimbangan pola makan saja sudah cukup. Seperti kalau kita makan daging, protein harus diimbangi dengan serat yang cukup, harus diimbangi juga dengan karbohidrat yang cukup. Yang penting jangan berlebih,”

Dr. Aru menambahkan bahwa ketika tubuh sudah menderita hipertensi, kolesterol, atau diabetes, menambah protein dan karbohidrat secara berlebihan dapat memicu gangguan metabolik. Kondisi tersebut dapat menyebabkan hipertensi tiba-tiba kambuh atau kadar gula darah melonjak.

“Jadi intinya adalah dalam satu porsi piring itu usahakan keseimbangan atau isi dari piring tersebut yang baik,”

Penelitian menunjukkan bahwa daging membutuhkan waktu sekitar lima jam untuk diproses di sistem pencernaan. Serat membantu proses ini, sehingga protein dapat dicerna lebih efisien di usus.

“Rasa begah, kembung pun lebih mudah hilang atau mungkin akan teratasi dengan kita makan banyak serat,”

Dengan demikian, satu kali makan sebaiknya mencakup daging atau protein, serat, dan karbohidrat dalam proporsi yang seimbang. Komposisi ini membantu tubuh tetap sehat dan mencegah lonjakan gula darah maupun kolesterol.

Kesimpulannya, menyeimbangkan porsi daging dengan serat dan karbohidrat cukup untuk menjaga pencernaan, tanpa perlu melakukan detoks tambahan. Menyantap daging kurban dengan pola makan yang teratur dapat meminimalkan risiko kesehatan seperti kolesterol tinggi dan asam urat.

detoks pencernaanpola makan seimbangproteinseratkarbohidrathipertensikolesteroldiabetes

Komentar

Memuat komentar...