Dindik Jawa Timur Ungkap 196 Inovasi Pendidikan Berpotensi Tinggi

Guntur P. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 87 dibaca
Bisik.id
Dindik Jawa Timur Ungkap 196 Inovasi Pendidikan Berpotensi Tinggi

Gambar atau konten salah?

Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur menampilkan capaian prestasi dan inovasi pendidikan periode 2024‑2025 di hadapan tim penilai Innovation Government Award (IGA) dari Kemendagri.

Sektor pendidikan terbukti memberi kontribusi signifikan terhadap tata kelola pemerintahan dan mutu layanan di Jawa Timur.

Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai, menyoroti program unggulan yang berdampak langsung ke masyarakat, di antaranya Program Terapan Ekonomi Guru Non‑ASN (Proteg) dan East Java Innovative Education Summit (EJIES).

Dari total 398 inovasi yang diajukan, 196 telah mencapai tingkat kematangan tinggi berdasarkan validasi kemanfaatannya.

"Tim dari Kemendagri berkeliling ke berbagai daerah, termasuk Jawa Timur. Dindik Jatim memberikan dukungan jumlah inovasi terbanyak dalam IGA Award dan Jawa Timur menjadi juara satu nasional," ujar Aries di Surabaya, Selasa (19 Mei 2026).

"Inovasi yang lahir merupakan jawaban atas persoalan riil di lapangan. Ia juga mengapresiasi wadah EJIES yang sukses menjaring kreativitas insan pendidikan."

"Inovasi yang lahir merupakan jawaban atas persoalan yang ada di masyarakat. Tujuannya agar pendidikan benar-benar memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekolah dan masyarakat luas," katanya.

"Total ada sekitar 24 ribu inovasi yang masuk dalam EJIES," pungkas Aries.

Dr Drs Yusharto Huntoyungo, Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri Kemendagri, menegaskan bahwa Jawa Timur masih memegang skor tertinggi sebagai daerah terinovatif di Indonesia. Rata‑rata kabupaten dan kota di Jatim juga berada pada klaster tertinggi.

"Jawa Timur bukan dalam posisi aman meskipun sudah menjadi daerah terinovatif. Daerah lain juga melakukan upaya yang sama bahkan bisa lebih kuat. Karena itu akselerasi inovasi harus terus dilakukan," ujar Yusharto.

"Ekosistem inovasi perlu dibangun bersama agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat dan penerima layanan," katanya.

"Tanpa inovasi, akselerasi program tidak akan cukup tercapai hanya dengan cara‑cara biasa," tegas Yusharto.

Prof Dr Dyah Natalisa, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya, bertindak sebagai tim penilai. Menurutnya, Jatim berhasil membentuk ekosistem kompetisi dan kurasi inovasi yang baik antar‑sekolah sehingga dampaknya nyata pada kesejahteraan guru dan murid.

"Kalau hanya berjalan biasa‑biasa saja, akselerasinya tidak akan cepat. Karena itu dibutuhkan terobosan melalui inovasi," ujar Dyah.

"Saya menyebut Jawa Timur selalu one step ahead," katanya.

"Budaya inovasi itu sudah terbentuk. Ini yang sulit. Karena kadang orang ingin berinovasi tetapi khawatir dengan risikonya," ungkap Dyah.

"Inovasi yang baik harus dilembagakan sehingga siapapun pemimpinnya, praktik‑praktik baik yang sudah berdampak nyata tetap bisa dilanjutkan dan dikembangkan," tegas Dyah.

Yusharto mencontohkan pentingnya kolaborasi, seperti sinergi antara Dinas Pendidikan dan Dinas Perhubungan untuk penyediaan transportasi pelajar agar siswa tidak kelelahan di jalan.

Dalam penilaian IGA 2026, Kemendagri berencana mengaitkan tema inovasi dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) serta 54 program prioritas nasional pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pemenuhan perumahan.

Dindik Jatim diharapkan terus memperkuat integrasi digital, transformasi guru berbasis kewirausahaan, dan melakukan survei penerima manfaat pada program seperti Proteg dan EJIES.

Inovasi di Jawa Timur menunjukkan bahwa sektor pendidikan mampu memacu perubahan yang nyata, namun tetap memerlukan kolaborasi lintas lembaga dan regulasi kuat agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas.

Dinas Pendidikan Jawa TimurInnovation Government AwardProtegEJIESKemendagriSDGsMakan Bergizi Gratis

Komentar

Memuat komentar...