Dolar AS Kuat, Rupiah Tertekan ke Rp18.000 per Unit Jumat

Maya K. · 2 min baca · 57 menit lalu · 33 dibaca
Bisik.id
Dolar AS Kuat, Rupiah Tertekan ke Rp18.000 per Unit Jumat

Gambar atau konten salah?

Jakarta – Nilai tukar Dolar Amerika Serikat semakin menguat terhadap rupiah, menembus level Rp 18.000 per unit. Pergerakan ini menambah tekanan pada mata uang domestik.

Menurut Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, pelemahan rupiah saat ini dipengaruhi oleh meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan ini menjaga harga minyak tetap tinggi, menambah risiko inflasi global dan memicu arus dana keluar dari negara berkembang.

Destry menjelaskan bahwa permintaan Dolar di dalam negeri masih besar, terutama untuk repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri. “Selain itu kebutuhan domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran Utang Luar Negeri (ULN),” ujar Destry dalam keterangan tertulis, Kamis (04 Juni 2026).

Di sisi regional, rupiah melemah secara YTD sebesar 7,44 %. Cadangan devisa tetap terjaga di level US$ 146,2 miliar pada akhir 30 April 2026, kata Destry.

BI berencana terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi. Tujuannya agar mekanisme pasar berjalan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai fundamentalnya. “Intervensi yang berkesinambungan akan terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertakan dengan pembelian SBN di pasar sekunder. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar lainnya terus dilakukan secara intensif,” papar Destry.

Destry juga menegaskan BI akan memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro‑market agar tetap menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik.

Selain itu, BI mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap Dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar. Kerja sama LCT telah dilaksanakan dengan China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.

Data menunjukkan diversifikasi transaksi perdagangan melalui LCT terus meningkat. Di bulan April, nilai transaksi mencapai sekitar US$ 22,7 miliar, sementara pada setahun penuh tahun lalu diversifikasi transaksi perdagangan dengan mata uang lokal hanya sekitar US$ 25,7 miliar.

Dengan langkah-langkah tersebut, BI berharap dapat menstabilkan nilai tukar rupiah sekaligus menjaga arus modal masuk melalui instrumen domestik. Pergerakan Dolar yang kuat, dipicu oleh faktor geopolitik dan kebutuhan domestik, tetap menjadi tantangan utama bagi kebijakan moneter Indonesia.

Nilai tukar Dolarrupiahtensi geopolitikintervensi pasarNon-Deliverable ForwardTransaksi Mata Uang LokalBI

Komentar

Memuat komentar...