Dua Hiu Paus Terdampar Cilacap, Plastik Terselip Pencernaan

Cahyo S. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 79 dibaca
Bisik.id
Dua Hiu Paus Terdampar Cilacap, Plastik Terselip Pencernaan

Gambar atau konten salah?

Dalam satu minggu, dua hiu paus terdampar di pesisir selatan Kabupaten Cilacap. Peneliti Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menemukan sampah plastik di saluran pencernaan kedua hiu tersebut.

Hiu paus jantan dewasa sepanjang 8,36 meter ditemukan terdampar di Pantai Banjarsari, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap pada 23 Mei 2026 pagi. Ini merupakan kejadian kedua dalam seminggu setelah hiu paus berukuran sekitar 4 meter ditemukan terdampar di kawasan pantai yang sama, berjarak sekitar 6 kilometer.

Menanggapi kejadian beruntun tersebut, tim peneliti Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Unsoed bekerjasama dengan Jejaring Penanganan Biota Laut Terdampar Kabupaten Cilacap, Dinas Perikanan, Dinas Pertanian, dan Yayasan Sealife Indonesia untuk melakukan investigasi.

Dosen Ilmu Kelautan FPIK Unsoed, Mukti Trenggono, menjelaskan bahwa analisis oseanografi menunjukkan adanya faktor ekologis yang menarik hiu paus mendekati perairan dangkal di pesisir Cilacap.

Menurutnya, data citra satelit MODIS Aqua pada Mei 2026 menunjukkan konsentrasi klorofil‑a di perairan Cilacap hingga Kebumen berada pada kisaran 1‑3 mg/m³ dengan suhu permukaan laut sekitar 29‑30 derajat Celsius. "Kondisi oseanografi tersebut mengindikasikan adanya peningkatan produktivitas perairan dan potensi agregasi plankton serta nekton kecil. Hal inilah yang menjadi faktor ekologis pendorong bagi hiu paus untuk mendekati perairan dangkal Cilacap guna berburu sumber makanan utama mereka, seperti udang rebon maupun ikan teri," kata Mukti dalam keterangan tertulis yang diterima pada 2 Juni 2026.

Hasil nekropsi atau bedah bangkai yang dilakukan tim gabungan menemukan lambung hiu paus dalam kondisi penuh berisi ikan teri nasi yang belum tercerna. Selain faktor alami tersebut, tim juga menemukan indikasi ancaman akibat aktivitas manusia.

"Selain luka sayatan yang diduga berasal dari baling‑baling kapal, peneliti menemukan sampah plastik di dalam saluran pencernaan hiu paus tersebut," terang peneliti FPIK Unsoed, Dr. Nuning Vita Hidayati.

Dr. Nuning menjelaskan bahwa pencemaran lingkungan laut diduga menjadi salah satu faktor yang memperburuk kondisi satwa hingga berujung pada terdampar. "Penurunan kualitas perairan akibat pencemaran, termasuk akumulasi logam berat, dapat memengaruhi kondisi fisiologis, sistem imun, dan kemampuan navigasi hiu. Gangguan tersebut berpotensi meningkatkan risiko disorientasi, stres lingkungan, bahkan yang terparah dapat menyebabkan keracunan akut yang berkontribusi langsung pada kejadian keterdamparan," ujar Nuning.

Meski demikian, penyebab pasti kematian hiu paus tersebut masih menunggu hasil penelitian lebih lanjut. Tim peneliti Unsoed telah mengamankan sampel perairan dan sampel biologis dari lokasi kejadian untuk diuji di laboratorium.

Pengujian yang dilakukan meliputi analisis kualitas air, analisis genetik, hingga kajian oseanografi. "Pengujian yang dilakukan meliputi analisis kualitas air, analisis genetik, hingga kajian oseanografi," catat peneliti.

Hasil penelitian nanti diharapkan dapat menjadi dasar rekomendasi bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam menyusun kebijakan perlindungan kawasan ruaya (habitat atau wilayah perairan yang digunakan oleh hewan laut—khususnya ikan dan penyu—untuk bermigrasi atau berpindah) hiu paus di pesisir selatan Jawa.

Berbeda dengan hiu paus, dua satwa hiu tutul ditemukan mati dalam kurun waktu seminggu pada pertengahan bulan Mei lalu di kawasan Pantai Cilacap.

Hiu tutul pertama ditemukan terdampar di Pantai Pagubugan, Kecamatan Binangun, Kabupaten Cilacap pada 17 Mei 2026 pagi. Satwa laut dilindungi itu ditemukan dalam kondisi lemas sebelum akhirnya mati di bibir pantai. Hiu tersebut berusia sekitar 8‑10 tahun dengan panjang mencapai sekitar 4 meter. Bobotnya diperkirakan mencapai 600‑800 kilogram.

Seminggu kemudian, pada 23 Mei 2026, hiu dengan ukuran tak jauh berbeda juga ditemukan terdampar dalam kondisi lemas di Pantai Banjarsari, Kecamatan Nusawungu. Satwa dilindungi tersebut kemudian mati karena tidak berhasil kembali ke lepas pantai meski sudah berusaha dievakuasi oleh nelayan dan warga setempat.

Kedua bangkai hiu tersebut kemudian dilakukan autopsi untuk mengetahui dugaan penyebab kematian. Usai autopsi, bangkai satwa ini kemudian dikubur menggunakan alat berat di sekitar lokasi temuan.

Peristiwa ini menyoroti dampak lingkungan dan aktivitas manusia terhadap satwa laut di wilayah pesisir Cilacap. Pencemaran plastik dan potensi kerusakan akibat baling‑baling kapal dapat memicu kondisi kesehatan hiu yang menurunkan kemampuan navigasi dan meningkatkan risiko disorientasi. Sementara itu, peningkatan produktivitas perairan, yang terlihat dari konsentrasi klorofil‑a tinggi, menarik hiu paus ke wilayah dangkal, namun jika dikombinasikan dengan polusi, dapat memperparah kondisi mereka. Penelitian lanjutan diharapkan mengidentifikasi faktor-faktor utama dan memberi dasar bagi upaya perlindungan habitat hiu paus di pesisir selatan Jawa.

Hiu pausPencemaran plastikOseanografiKlorofil-aLogam beratBaling-baling kapalPerlindungan habitat

Komentar

Memuat komentar...