Dua Penduduk Sidoarjo Selama 16 Tahun Menabung, Akhirnya Haji

Ani R. · 2 min baca · 28 hari lalu · 67 dibaca
Bisik.id
Dua Penduduk Sidoarjo Selama 16 Tahun Menabung, Akhirnya Haji

Gambar atau konten salah?

Mochmmad Nurhasan (78) dan Dawama (73) dari Sidoarjo akhirnya dapat menunaikan ibadah haji setelah menabung selama 16 tahun. Mereka menabung dari hasil jualan bubur dan lontong balap yang mereka jual setiap hari.

Setiap pagi jam 8, mereka membuka gerobak kecil di pinggir jalan. Dari jam 8 pagi sampai 3 sore, mereka menjual lontong dan bubur sumsum. “Saya jualan lontong dan bubur sumsum, jualan sudah lama sekitar 30 tahun,” kata Dawama kepada wartawan di Asrama Haji Sukolilo Surabaya pada hari Rabu, 6 Mei 2026.

Dalam satu hari, keuntungan bersih mereka biasanya sekitar Rp 100 ribu, namun pada hari-hari tertentu bisa mencapai Rp 200 ribu. “Saya mulai menabung sejak sebelum daftar haji tahun 2012 (daftar), 2010 menabung,” ujarnya. Sebagian dari keuntungan ini disisihkan melalui arisan di kampung. Setiap minggu, mereka menaruh Rp 200 ribu di dalam kantong kresek, lalu menyimpannya di lemari rumah.

Arisan menjadi sumber tambahan. “Saya ikut arisan, nanti kalau dapat uangnya dimasukkan kresek, terus ikut lagi, nanti dapat dimasukkan kresek lagi, arisan dapat Rp 5 juta, kadang Rp 10 juta,” ceritanya. Ketika dana arisan keluar, mereka menambah tabungan mereka.

Setelah menabung, mereka berhasil mengumpulkan Rp 50,5 juta. “Saat sudah terkumpul Rp 50,5 juta, mereka memberanikan diri untuk mendaftar haji,” kata narasumber. Pelunasan biaya haji kemudian dilakukan dengan menabung lagi. Meski hanya berjualan bubur dan lontong, Dawama dan Nurhasan yakin dapat menunaikan haji berkat ketekunan dan doa.

Nurhasan menegaskan motivasi pribadi. “Ingin berhaji karena kemauan sendiri,” katanya. Ia juga mengakui bahwa tetangganya terkadang terkejut ketika mengetahui rencana haji mereka. Beberapa orang mengira mereka mendapat warisan. “Sering ditanya dapat warisan dari mana, enggak dapat warisan dari mana-mana, (uangnya) asal kerja, orang-orang tau saya gak punya apa-apa,” jawabnya.

Setelah tiba di Asrama Haji Sukolilo pada hari Selasa, 5 Mei 2026, mereka bersiap untuk berangkat. Rasa syukur mengalir deras. “Minta sehat, minta rezekinya lancar,” pungkas Nurhasan dan Dawama. Mereka berharap doa-doa mereka akan terwujud di Tanah Suci.

Perjalanan ini menegaskan bahwa dengan tekad dan disiplin, impian besar dapat dicapai tanpa bantuan warisan. Mereka menjadi contoh bagi banyak orang yang ingin menunaikan haji melalui usaha sendiri.

hajitabunganbuburlontongarisanSidoarjokeuntungan

Komentar

Memuat komentar...