Dukuh Pacaran: Nama Tanpa Pacaran, Warisan Tumbuhan
Gambar atau konten salah?
Dukuh Pacaran adalah satu wilayah RW di Desa Tlobong, Kecamatan Delanggu, Klaten. Nama yang terdengar romantis sebenarnya tidak berkaitan dengan banyaknya pasangan di sana. Itu hanyalah nama yang diwariskan dari kata dasar pacar.
Wilayah ini terletak di tepi rel kereta api, tepat di timur Stasiun Delanggu yang sudah beroperasi sejak masa kolonial Belanda. Beberapa rumah di Dukuh Pacaran bahkan berdiri persis di sebelah timur rel, menambah nuansa sejarah yang kental.
Dukuh Pacaran terbagi menjadi tiga RT: RT 1, RT 2, dan RT 3. Penduduknya padat, sebagian berprofesi sebagai pedagang, wiraswasta, dan ada juga pegawai negeri. Kehidupan di sini berdenyut dengan aktivitas ekonomi yang beragam.
“Saya juga asli Desa Tlobong. Saya sendiri tidak tahu sejarah pastinya, sejak saya kecil ya namanya Pacaran,” kata Sukasno (60) warga Dukuh Pacaran pada pertemuan di hari Senin, 27 April 2026.
Menurut Sukasno, dari cerita para sesepuh, nama Pacaran berasal dari tanaman di tengah kampung yang sering disebut Mbah Pacar. “Ada tanaman pacar atau Mbah Pacar. Banyak tumbuhan pacar, sekarang sudah tidak ada, dulu di situ (menunjuk ke simpang empat di selatan rumahnya),” ujarnya.
Sukasno menegaskan bahwa nama tersebut tidak berhubungan dengan hal yang aneh-aneh, apalagi soal pacaran. “Mboten (bukan tempat untuk pacaran), juga bukan karena untuk pacaran. Ya karena ada nama Mbah Pacar, sejak kecil nama dukuh ya Dukuh Pacaran, tidak pernah ganti,” jelasnya.
Dukuh Pacaran, menurut Sukasno, secara wilayah masuk ke RW 7 yang terbagi menjadi tiga RT yaitu RT 1, 2, dan 3. Ia menambahkan, “Nama dukuh Pacaran adalah warisan para orang tua dulu. Kita tinggal menemukan (nama Dukuh Pacaran) dari sesepuh. Sejarahnya bagaimana ya tidak tahu pasti. Ini padat penduduk, nomor dua padatnya di tingkat desa.”
Warga asli lain, Atok Susanto, menceritakan versi berbeda. “Nama Pacaran itu berasal dari nama Mbah Pacar yang makamnya di tengah kampung. Ya mungkin cikal bakal, sesepuh, atau yang babat alas,” kata Atok.
Atok menjelaskan bahwa makam Mbah Pacar dulunya hanya berupa gundukan tanah. Ia berspekulasi bahwa tidak ada yang tahu apakah itu orang yang babat alas atau orang yang ikut proyek sungai zaman Belanda lalu meninggal dikuburkan.
Kepala Desa Tlobong, Basuki, mengatakan sepengetahuannya nama Dukuh Pacaran berasal dari nama pohon. “Dulu ceritanya banyak pohon pacar, infonya dari orang-orang tua. Jadi bukan tempat orang pacaran,” ujarnya.
Basuki menambahkan, “Kalau dekat stasiun zaman dulu banyak mangkal orang nakal, waktu saya masih kecil, jadi masih ingat.”
Dengan latar belakang sejarah yang kaya, Dukuh Pacaran tetap menjadi komunitas padat dengan keragaman profesi. Nama yang unik ini lebih mencerminkan warisan budaya lokal—baik dari tumbuhan maupun tokoh masyarakat—bukan dari aktivitas romantis. Kehidupan di sana terus berlanjut, menyesuaikan diri dengan perubahan zaman sambil menjaga identitas yang telah diwariskan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Juru Parkir Brebes Tahan Perampokan, Simpan Rp3,6 Miliar
Nuri Agus, Mantan Kiper, Ditemukan di Bantul 8 Hari Berkelana
PU Alokasikan Rp21 Miliar Renovasi Pura Mangkunegaran
Pencurian Mobil: Kliwon Simpan Rp3,6M, Kusriyati Teriak
1 Muharram 1448 H: Tanggal Baru, Twibbon Menghubungkan Umat
Hujan Ringan di Jawa Tengah Hari Selasa, 16 Juni 2026
Berita Terbaru
Krisis Air Cimahi: Musim Kemarau & Penurunan Air Tanah
Kirab Santri Jember: 5.000 Peserta Genggam 3 km di Tanggul
Isak, Győkeres Jadi Andalan Serang Swedia Piala Dunia 2026
Konfercab VI PCNU OKU: Momentum Evaluasi dan Konsolidasi
Piala Dunia 2026: Jadwal Laga Hari Ini & Cara Nonton
Piala Dunia 2026: Rekor Tinggi dan Rendah Pemain Terbaru
Denpasar Romantis: Pulau, Kafe Retro, Pantai Tersembunyi
Prancis vs Senegal, Argentina vs Aljazair: Awal Grup 2026
Mbappé: Fokus Bisnis, Tolak Jadi Presiden, Rencana Bisnis