Dukuh Tombol: Warisan Pewarna Alami di Tengah Sawah Klaten

Wahyu T. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 34 dibaca
Bisik.id
Dukuh Tombol: Warisan Pewarna Alami di Tengah Sawah Klaten

Gambar atau konten salah?

Dukuh Tombol terletak di Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, dan masuk dalam wilayah administrasi Desa Dalangan. Nama unik ini menonjol di tengah sawah padi yang subur dan air melimpah. Perkampungan ini hanya setengah kilometer ke barat dari Umbul Ponggok, objek wisata air yang sudah terkenal.

Setiap musim, ladang di sekitar Dukuh Tombol tetap hijau berkat curah hujan yang tinggi. Di utara, sejumlah objek wisata air lainnya mulai berkembang, menambah daya tarik kawasan ini.

Menelusuri asal‑asalan nama Dukuh Tombol tidak mudah. Beberapa warga yang ditemui tidak mengetahui latar belakang nama tersebut. Namun, seorang kepala desa memberikan penjelasan yang cukup menarik.

"Setahu saya dari cerita orang tua, nama Tombol itu berasal dari nama tanaman. Namanya pohon tom (tarum)," ungkap Kades Dalangan, Agung Pramana pada 04 Mei 2026.

Menurut Agung, pohon tom sering ditemukan di bekas sawah. Warga kemudian mulai menanamnya untuk membuat pewarna kain alami. Pohon tom memiliki bentuk menyerupai tanaman jahe yang berkelompok, sehingga masyarakat memberi julukan tombol.

Pewarna dari tanaman tom ini sudah terkenal sejak zaman dulu. Karena bentuknya yang berkelompok, warga menamai daerah tersebut tombol. Namun kini, pohon tom sudah tidak ada lagi dan tidak ada warga yang mengekstrak pewarna untuk kain.

Dukuh Tombol dibagi menjadi empat RT. Pekerjaan warga mayoritas adalah buruh dan wiraswasta. Warga setempat, Sri Sarmini, berusia 60 tahun, mengaku tidak mengetahui asal‑asalan nama dukuh.

"Ya tidak tahu, sejak dulu namanya juga itu. Orang tua juga tidak cerita," ungkap Sri Sarmini.

Warga lain, Wahono berusia 50 tahun, juga tidak mengetahui asal nama dukuh. Ia pernah menduga nama itu berasal dari kata tombol yang berarti sakelar.

"Ya tombol setahu saya ya sakelar lampu. Apa begitu juga tidak tahu, mungkin zaman dulu," katanya.

Sesepuh desa, Jasmanto berusia 76 tahun, menegaskan bahwa nama Dukuh Tombol sudah ada sejak lama. Ia mengingat pabrik gula Belanda di Ponggok.

"Bukan baru, sejak dulu sudah ada. Zaman Belanda memang ada pabrik di Ponggok tapi pabrik gula," ungkap Jasmanto.

Dengan sejarah yang kaya dan keindahan alam yang menawan, Dukuh Tombol tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya Klaten. Meskipun nama dan tradisi pewarnaan telah hilang, cerita tentang pohon tom dan hubungan masyarakat dengan alam masih hidup dalam ingatan warga setempat.

Dukuh TombolKecamatan TulungUmbul Ponggokpohon tompewarna kain alamipabrik gula Belandawarisan budaya Klaten

Komentar

Memuat komentar...