Easter: 7 Tradisi Unik dari Batak sampai Flores Indonesia

Iwan D. · 3 min baca · 3 bulan lalu · 106 dibaca
Bisik.id
Easter: 7 Tradisi Unik dari Batak sampai Flores Indonesia

Gambar atau konten salah?

Perayaan Paskah di Indonesia tidak hanya berfokus pada ibadah di gereja. Setiap daerah menambahkan sentuhan budaya sendiri, menciptakan rangkaian tradisi yang penuh makna dan keunikan. Dari prosesi sakral hingga ritual yang sarat sejarah, tujuh tradisi berikut menampilkan keragaman cara masyarakat Indonesia memaknai kebangkitan Yesus Kristus.

  1. Buha‑Buha Ijuk – Di wilayah Batak, Sumatera Utara, perayaan Minggu Paskah dimulai sebelum matahari terbit. Saat lonceng gereja berderak di fajar, masyarakat melakukan tradisi Buha‑Buha Ijuk. Mereka meninggalkan rumah menuju makam keluarga, berdoa, dan menghormati orang tua atau sanak yang telah berpulang. Bagi Batak, fajar melambangkan kebangkitan; cahaya mengalahkan kegelapan. Setelah berkunjung ke makam, mereka berkumpul kembali di gereja untuk mengikuti ibadah Paskah.

  2. Mendaki Gunung Gandul – Di Wonogiri, Jawa Tengah, Jumat Agung menjadi waktu uji ketahanan fisik dan spiritual. Tradisi Jalan Salib menuju puncak Gunung Gandul, sekitar tiga kilometer, menjadi ritual khas. Beberapa umat membawa salib kayu besar, bukan sekadar pamer, melainkan upaya merasakan beban Yesus menuju Bukit Golgota. Pemandangan dari puncak memberikan hadiah spiritual yang luar biasa bagi para peziarah.

  3. Pesona Religi di Gua Maria Puhsarang – Gua Maria Puhsarang, Kediri, menjadi tujuan ziarah Katolik paling indah di Jawa Timur. Pada Paskah, area ini meriah dengan pementasan Drama Kolosal Jalan Salib. Ekspresi sakit Yesus ditampilkan mendalam, membuat banyak jemaat mengeluarkan air mata. Setelah misa malam Paskah, umat menutup rangkaian ibadah dengan devosi atau doa pribadi di hadapan patung Bunda Maria Lourdes.

  4. Kure Warisan Portugis di Noemuti, NTT – Di Kota Noemuti, Nusa Tenggara Timur, tradisi bernama Kure sudah ada sejak 1642, dibawa oleh orang Portugis. Istilah berasal dari bahasa Latin currere (berjalan). Umat berjalan kaki mengunjungi rumah warga untuk berdoa bersama. Prosesi pembersihan patung suci Yesus dan Maria diikuti dengan persembahan hasil pertanian—buah, sayur—yang dibagikan kembali kepada semua orang, simbol kebersamaan.

  5. Memento Mori – Di Kalimantan Tengah, tradisi ini dilaksanakan secara visual pada Sabtu Suci. Keluarga datang ke tempat peristirahatan terakhir kerabat, membersihkannya, menyalakan lilin, dan menghias lokasi dengan bunga sepanjang malam hingga subuh. Ribuan lilin di pemakaman menciptakan suasana magis dan damai. Gereja bahkan mendirikan tenda agar umat dapat merayakan Minggu Paskah langsung di lokasi pemakaman, menegaskan kemenangan atas kematian.

  6. Labirin Doa di Bukit Getsemani, Tana Toraja – Tana Toraja, lebih dari sekadar perayaan pemakaman megah, menampilkan Bukit Doa Getsemani di Makale. Jalan menuju puncak dibagi menjadi 14 titik perhentian, masing‑masing dilengkapi patung yang menggambarkan penderitaan Yesus. Peziarah mendaki sambil berdoa, berhenti di setiap patung untuk merenungkan. Pendakian ini menjadi pengalaman spiritual pribadi dan mendalam.

  7. Semana Santa, Perayaan Paskah Paling Ikonik di Larantuka – Di Larantuka, Flores Timur, Semana Santa adalah “Pekan Suci” yang terkenal internasional. Rangkaian kegiatan panjang dimulai dari pembersihan patung legendaris Tuan Ma (Bunda Maria) hingga prosesi pengusungan patung yang dilalui melalui jalur laut dengan perahu kecil. Atmosfer sakral menarik ribuan peziarah dari seluruh dunia, menyaksikan perpaduan budaya Portugis dan lokal yang menakjubkan.

Tradisi-tradisi ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Mereka menjadi jembatan bagi setiap suku dan daerah untuk tetap terhubung dengan sejarah, nenek moyang, dan keyakinan mereka. Melalui prosesi, doa, dan ritual, Paskah di Indonesia menampilkan keberagaman budaya yang kaya, memperkaya pengalaman spiritual bagi semua yang terlibat.

Paskah IndonesiaTradisi Buha‑Buha IjukGunung GandulGua Maria PuhsarangKure Warisan PortugisMemento MoriSemana Santa Larantuka

Komentar

Memuat komentar...