Ebola Kembali di Kongo: 543 Kasus, 136 Kematian Bundibugyo

Wulan M. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 93 dibaca
Bisik.id
Ebola Kembali di Kongo: 543 Kasus, 136 Kematian Bundibugyo

Gambar atau konten salah?

Ebola kembali menimbulkan kekhawatiran di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) dengan jumlah kasus yang melonjak menjadi 543 orang. Dari jumlah tersebut, 136 pasien dilaporkan meninggal dunia. Hanya 32 orang yang terkonfirmasi terinfeksi strain Bundibugyo, jenis yang belum memiliki terapi maupun vaksin.

Menurut Menteri Kesehatan RD Kongo, Roger Kamba, penyelidikan masih berlangsung. Ia menegaskan bahwa asal wabah belum dapat diidentifikasi secara jelas. “Kami masih dalam proses investigasi, belum ada petunjuk pasti mengenai asalnya,” ujarnya.

Di Bunia, ibu kota provinsi Ituri, pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Adelheid Marschang Ancia menyatakan bahwa otoritas kesehatan belum berhasil menemukan patient zero atau kasus pertama. Ia mengungkapkan, “Yang kami ketahui saat ini adalah pada 5 Mei ada seseorang yang meninggal di Bunia. Jenazah kemudian dibawa ke Mongbwalu, tempat pemakaman yang kemungkinan memicu penularan.”

WHO menegaskan bahwa wabah ini masih dianggap sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional, namun belum memenuhi kriteria darurat pandemi. Meski demikian, lembaga tersebut memperingatkan bahwa wabah ini berpotensi menjadi “jauh lebih besar” daripada yang saat ini terdeteksi dan dilaporkan. Risiko penyebarannya dapat meluas secara lokal maupun regional, dengan dampak signifikan pada kesehatan masyarakat.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) memastikan bahwa hingga saat ini belum ada kasus Ebola di Indonesia. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengungkapkan bahwa penetapan status darurat ini menandakan perlunya kewaspadaan global. Ia menambahkan bahwa langkah tersebut diambil karena adanya penyebaran lintas wilayah, tingginya tingkat kematian, serta ketidakpastian luasnya penyebaran wabah di Afrika Tengah.

Aji menegaskan bahwa Kemenkes terus memantau situasi global dan melakukan penguatan kewaspadaan lintas sektor. Ia menyebutkan bahwa seluruh pintu masuk negara, baik pelabuhan maupun bandara, akan meningkatkan pengawasan terhadap pelaku perjalanan, terutama yang berasal dari negara terdampak. Pihak Kemenkes juga telah menyiapkan prosedur rujukan rumah sakit untuk pelaku perjalanan internasional yang menunjukkan gejala yang mengarah pada Ebola. Semua laporan dari pintu masuk Indonesia akan dipantau lewat Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) dan Public Health Emergency Operation Center (PHEOC).

Walaupun pengawasan ditingkatkan, Aji mengimbau masyarakat untuk tidak khawatir berlebihan. Ia juga meminta agar tidak mudah terpengaruh informasi tidak valid atau hoaks yang muncul di media sosial. “Ebola merupakan penyakit infeksi virus yang dapat menyebabkan kematian dengan tingkat fatalitas rata-rata mencapai 50 %,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa saat ini terdapat tiga jenis strain virus yang sering menyebabkan wabah: Ebola Virus Disease (EVD), Sudan Virus Disease (SVD), dan yang saat ini berkembang di Kongo yaitu Bundibugyo Virus Disease (BVD).

Menurut Aji, langkah terbaik saat ini adalah tetap waspada dengan rajin mencuci tangan menggunakan air dan sabun, mengenakan masker jika merasa kurang sehat, serta menerapkan etika batuk dan bersin yang benar. Ia menegaskan agar masyarakat menghindari kontak langsung dengan orang atau hewan yang sakit.

Bagaimana Ebola ditularkan? Penyakit ini menyebar antar manusia melalui cairan tubuh yang terinfeksi, seperti darah dan muntahan. Sekitar 30 % orang meninggal dalam wabah virus Bundibugyo sebelumnya. Masa inkubasinya berkisar antara dua hingga 21 hari setelah terinfeksi. Gejala awal muncul secara tiba-tiba dan mirip flu, seperti demam, sakit kepala, dan kelelahan. Saat penyakit berkembang, muntah dan diare muncul, dan organ tubuh tidak berfungsi dengan baik. Beberapa pasien dapat mengalami perdarahan internal dan eksternal.

Wabah ini diperkirakan dimulai ketika seseorang tertular Ebola dari hewan yang terinfeksi, seperti kelelawar pemakan buah. Saat ini, belum ada vaksin yang tersedia untuk strain Bundibugyo. Ada vaksin untuk galur Zaire, tetapi tidak untuk Bundibugyo.

Dengan situasi yang terus berkembang, penting bagi semua pihak untuk tetap mengikuti perkembangan resmi dari lembaga kesehatan. Kemenkes di Indonesia menegaskan bahwa tidak ada kasus Ebola di tanah air, namun tetap meningkatkan kewaspadaan di pintu masuk negara. Sementara itu, WHO terus memantau potensi penyebaran lebih luas dan menekankan perlunya kesiapsiagaan global. Masyarakat diharapkan tetap tenang, menghindari penyebaran informasi palsu, dan menerapkan langkah-langkah pencegahan sederhana seperti mencuci tangan dan memakai masker bila perlu. Dengan kewaspadaan bersama, risiko penyebaran dapat diminimalkan, dan upaya global untuk mengendalikan wabah dapat berjalan lebih efektif.

EbolaRepublik Demokratik KongoBundibugyoWHOKemenkes Indonesiavaksinpenularan

Komentar

Memuat komentar...