Eceng Gondok Tutup Sungai Citarum, Nelayan Terhambat

Bayu K. · 3 min baca · 1 jam lalu · 22 dibaca
Bisik.id
Eceng Gondok Tutup Sungai Citarum, Nelayan Terhambat

Gambar atau konten salah?

Di wilayah Ciminyak, Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, aliran Sungai Citarum kini tampak seperti lapangan hijau. Namun, lapangan itu bukan untuk sepakbola. Tanaman air, khususnya eceng gondok, menutupi seluruh permukaan sungai sehingga tidak ada ruang bagi perahu melintas.

Eceng gondok tumbuh subur di sungai ini, menutupi permukaan dengan rapat. Dari kejauhan, gulma air ini terlihat seperti lapisan tebal yang menghalangi arus. Kondisi ini menandakan kualitas air sungai menurun drastis. Restoran terapung yang biasanya menampilkan pemandangan sungai kini tidak memiliki apa-apa yang dapat ditawarkan kepada pengunjung.

Orang-orang yang bergantung pada Sungai Citarum untuk mata pencaharian mereka kini menunggu keajaiban. Mereka berharap arus akan membawa pulau eceng gondok ke hilir, sehingga nelayan dapat melempar jala dan menangkap ikan. “Ya seperti ini kondisinya, permukaan sungainya ditutup eceng gondok. Semakin kesini semakin banyak eceng gondoknya,” kata Awang Widiati, warga setempat, saat dikonfirmasi pada 5 Juni 2026.

Awang, pemilik restoran di Jembatan Ciminyak, biasanya membeli ikan dari nelayan dan petambak di Sungai Citarum. Namun, beberapa pekan terakhir, ia terpaksa membeli ikan dari daerah lain karena tidak ada pasokan ikan dari nelayan setempat. “Ya kan biar sama-sama membantu, ikan yang dari tambak di sini kita beli. Ada juga yang dari nelayang, cuma kan sekarang buat ngejaring ikannya saja enggak bisa. Petambak juga kurang produksi ikannya, memang mengganggu (eceng gondok),” ungkap Awang.

Pertumbuhan eceng gondok yang tak terkendali juga menimbulkan masalah lain. Nyamuk mulai bermunculan di sekitar sungai, menyerang warga, terutama mereka yang tinggal di bantaran sungai. “Saya saja yang rumahnya agak jauh dari sungai masih terganggu sama nyamuk, apalagi yang di pinggir sungai. Sehari saya bisa habiskan 4 buah obat nyamuk bakar, kalau enggak gitu ya enggak bisa tidur karena terys digigit nyamuk,” ucap Awang.

Keberadaan eceng gondok di Waduk Saguling memicu aksi seorang pribumi, Taufik Rahmat Wardani, yang dikenal dengan nama panggilan Mang Kiclik. Ia berasal dari Kampung Bobojong, Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin. Meskipun gerakannya bersifat pribadi, upayanya memiliki dampak besar bagi semua pihak.

Setiap hari, Mang Kiclik menenggelamkan tubuhnya hingga leher untuk mengangkat eceng gondok dari permukaan waduk ke darat. Ia melakukan ini tanpa alat berat, hanya dengan tangan kosong. “Awalnya dari 2017, cuma enggak rutin. Nah baru di Januari 2025, bersih-bersih eceng (gondok) ini saya rutinkan setiap hari. Ya seperti bisa kita lihat, kondisi Waduk Saguling semakin parah tertutup eceng (gondok),” kata Mang Kiclik beberapa waktu lalu.

Sekali waktu, ia menghitung jumlah eceng gondok yang diangkut dari perairan Waduk Saguling. Berat gulma air yang ia bersihkan mencapai 500 kilogram atau 5 kuintal. “Ya pernah saya hitung, sekitar 5 kuintal, tapi kan tanamannya juga berat ya dan basah. Bukan itu sebetulnya yang penting, tapi dampaknya. Minimal kalau setiap hari, bisa berkurang meskipun enggak dibantu alat berat,” ujar Mang Kiclik.

Perubahan ini menunjukkan betapa pentingnya peran masyarakat dalam menjaga kualitas air. Pertumbuhan eceng gondok tidak hanya mengganggu aktivitas ekonomi, tetapi juga menimbulkan masalah kesehatan. Upaya manual seperti yang dilakukan Mang Kiclik menandakan bahwa solusi sederhana dapat memberikan dampak positif, meskipun skala permasalahan masih besar. Dengan kesadaran dan kerja keras, masyarakat di sekitar Sungai Citarum berusaha menanggulangi dampak eceng gondok, demi kelestarian sumber daya air dan kesejahteraan ekonomi lokal.

Sungai Citarumeceng gondokwaduk SagulingMang Kiclikkualitas airCiminyaknyamuk

Komentar

Memuat komentar...