Eighty Mardiyan Jadi Dekan Perempuan Pertama FK Unair

Eko P. · 4 min baca · 1 bulan lalu · 34 dibaca
Bisik.id
Eighty Mardiyan Jadi Dekan Perempuan Pertama FK Unair

Gambar atau konten salah?

Prof. Dr. Eighty Mardiyan Kurniawati, dr, SpOG SubSp.Urogin‑RE, kini menorehkan nama sebagai dekan perempuan pertama di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair). Perjalanan panjangnya dimulai pada tahun 2005, ketika ia masih mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) semester 4. Pada saat itu, ia dipanggil menjadi dosen di Unair.

“Saya dipanggil Ketua Departemen, Prof Lila Dewata beserta Prof Djoko Waspodo dan dr Hari Paraton. Beliau meminta saya untuk menjadi staf dosen dan mengikuti tes PNS yang sedang dibuka. Salah satu kriterianya adalah karena IPK di atas 3 dan mempunyai prestasi,” ujarnya pada Rabu, 22 April 2026.

Di masa kuliah S1, Eighty sudah dikenal sebagai mahasiswa berprestasi. Ia pernah dipersiapkan untuk mewakili Unair di forum nasional pada tahun 1998. Namun, forum tersebut dibatalkan karena maraknya demo reformasi. Selama masa studi, ia juga aktif menorehkan prestasi di bidang penelitian, juara PIMNAS, dan terlibat dalam organisasi. Selain itu, ia menulis sebagai wartawan di Surabaya Post dan kemudian di Jawa Pos pada periode 2000–2002.

Setelah lulus tahun 2008, Eighty memulai praktik sebagai dokter obstetri dan ginekologi. Ia menggabungkan peran dosen dan dokter, menjabat di Fakultas Kedokteran sekaligus menjalani program PPDS. “Pagi sampai siang bersama mahasiswa dan PPDS. Sore hingga malam ganti bersama pasien dan ibu hamil,” jelasnya. Rutinitas ini tidak mudah, terutama ketika jumlah pasien meningkat.

Di samping profesinya, Eighty juga menjalani peran keluarga. Ia adalah suami dan orang tua tiga putra. Untuk tidak kehilangan momen bersama anak, ia sering mengajak mereka bertiga ke rumah sakit. “Supaya tidak kehilangan momen, saat anak-anak masih kecil, saya sering mengajak mereka bertiga ke RS. Menemani saya menolong persalinan atau operasi. Meskipun kadang hanya menunggu di mobil atau di kantin. Ini sekaligus mengajarkan mereka bahwa dokter adalah tugas mulia. Kehadiran dan ilmunya ditunggu oleh pasien,” ujarnya.

Peran Eighty bertambah ketika ia melanjutkan pendidikan konsultan uroginekologi rekonstruksi di FK Universitas Indonesia/RSCM pada periode 2011–2013. Selama periode tersebut, ia juga menjadi mahasiswa program Doktor, sehingga pada tahun 2020 ia memperoleh gelar Doktor. Keberhasilan ini membuka pintu bagi karier akademiknya.

Berbagai jabatan struktural menanti Eighty. Pada periode 2015–2020, ia menjabat sebagai Ketua Humas di FK Unair. Pengalaman jurnalistiknya memberi warna pada tugas tersebut. Selama pandemi COVID‑19 (2020–2023), ia berperan sebagai Staf Khusus Dekanat. Meskipun pandemi mengekang praktik dan pendidikan, Eighty tidak kehilangan kreativitas.

“Saat COVID‑19 ini justru banyak publikasi dan inovasi bersama tim. Termasuk membuat berbagai manekin pembelajaran untuk PPDS Obgin. Mulai manekin untuk robekan jalan rahim, bedah sesar hingga pengangkatan rahim yang dibuat bersama dr Riska Wahyuningtyas SpOG, dr Citra Aulia SpOG dan dr Dara SpOG,” jelasnya. Inovasi ini membantu mahasiswa tetap belajar meski tidak dapat hadir di kelas fisik.

Periode “diam” di era COVID‑19 memberi Eighty kesempatan untuk mempersiapkan pengajuan Guru Besar. Pada tahun 2023, ia resmi diangkat sebagai Guru Besar di bidang Uroginekologi Rekonstruksi, Stem Cell, dan Gangguan Fungsi Seksual Perempuan. Dengan usia terjun, Eighty menjadi guru besar termuda di dunia Obgyn di Indonesia, sekaligus guru besar perempuan pertama di bidang Uroginekologi Rekonstruksi.

Pidato pengukuhan menyoroti pentingnya sel punca dalam pengelolaan fistula vesicovagina, sesuai dengan penelitian disertasinya di tingkat S3. Pidato tersebut mendapat perhatian luas. Banyak pihak menyadari bahwa kesehatan perempuan melampaui kehamilan dan melahirkan. Menjaga kesehatan dasar panggul menjadi kunci untuk mencegah masalah seperti rahim turun, gangguan berkemih, gangguan buang air besar, dan gangguan fungsi seksual. Penanganan yang tepat dan pemanfaatan teknologi, termasuk sel punca, menjadi sorotan utama.

Keberhasilan Eighty tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi. Ia menegaskan bahwa menjadi pemimpin perempuan adalah amanah yang harus dijalankan dengan tanggung jawab. Pada tahun 2023, ia menerima tugas sebagai Wakil Dekan II di Fakultas Vokasi. Awalnya, ia merasa kaget karena harus mengemban jabatan struktural di fakultas yang berbeda. Namun, ia menyadari bahwa seorang pemimpin harus dapat beradaptasi di mana pun.

Sejak 1 September 2025, Eighty kembali menjadi pimpinan utama di Fakultas Kedokteran Unair. Ia bertekad mewujudkan FK Unair sebagai Fakultas Kedokteran yang menghasilkan “dokter bintang tujuh”. Dokter di definisinya harus menjadi penyedia layanan kesehatan, pengambil keputusan, komunikator, pemimpin masyarakat, manajer, pembelajar seumur hidup, dan peneliti, dengan nilai iman dan akhlak yang baik.

Dalam ruang besar fakultas, Eighty memperkenalkan konsep BRIGHT. Ia berharap konsep ini dapat mewujudkan visi dan misi Fakultas Kedokteran Unair serta mendukung Visi dan Misi Universitas Airlangga. Visi Unair adalah menjadi Fakultas Kedokteran yang mandiri, inovatif, terkemuka di tingkat nasional dan internasional, pelopor pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran, serta entrepreneurship dan humaniora berdasarkan moral agama.

Perjalanan Eighty menegaskan bahwa dedikasi, inovasi, dan komitmen terhadap pendidikan serta penelitian dapat membawa perubahan positif dalam dunia kedokteran. Dengan pengalaman luas sebagai dosen, dokter, peneliti, dan pemimpin, ia menjadi contoh bagi generasi muda, khususnya perempuan, untuk mengejar karier di bidang medis dan akademik. Keberhasilannya menunjukkan bahwa peran perempuan dalam ilmu kesehatan tidak hanya penting, tetapi juga dapat memimpin dan menginspirasi.

Prof. Dr. Eighty Mardiyan Kurniawatidekan perempuan pertama FK UnairUroginekologi RekonstruksiGuru Besar termudaInovasi manekinCOVID‑19Sel punca

Komentar

Memuat komentar...