Ekosistem Ecommerce dan Affiliate: Tantangan Indonesia
Gambar atau konten salah?
Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan dalam ekosistem e‑commerce di Indonesia. Pemerintah diimbau berhati‑hati agar kebijakan yang dibuat tidak sampai mengganggu mekanisme pasar, apalagi di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.
Fadhila Maulida, peneliti Pusat Ekonomi Digital dan UMKM INDEF, menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar di ekonomi digital. Saat ini, sekitar 80% penduduk atau 232 juta orang sudah terpapar internet. Namun, potensi tersebut tetap bergantung pada daya beli masyarakat yang dinilai masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
“Harus dipastikan ekosistemnya dari sisi platformnya, dari kebijakan pemerintah yang mungkin hanya menghimbau gitu, jangan sampai mengatur mekanisme pasar gitu, terus yang paling penting adalah konsumennya, gimana kalau misalkan ada platformnya, ada penjualnya, ada affiliatenya, tapi tidak ada konsumennya, itu kan juga tidak bisa berjalan kan, makanya mungkin PR kita bersama ya, untuk meningkatkan ekonomi diawali dengan meningkatkan daya beli, masyarakat dulu gitu,” jelas Fadhila dikutip dari podcast The Economeets Episode 3 'Affiliate Marketing Indonesia: Peluang, Tantangan, dan Dampaknya bagi Ekonomi' yang ditayangkan di YouTube INDEF, Rabu (1/4/2026).
Di sisi lain, tekanan ekonomi juga terlihat dari perbandingan pengeluaran dan pendapatan. Riset menunjukkan pengeluaran rumah tangga meningkat hingga 217% sejak 2010, sementara pendapatan lulusan pendidikan tinggi hanya naik sekitar 87% persen. Kondisi ini mendorong masyarakat mencari sumber penghasilan tambahan, termasuk melalui skema affiliate di platform e‑commerce.
Jumlah affiliator di Indonesia tercatat mencapai 3,1 juta orang dan diperkirakan terus bertambah. Dari sisi industri, tren belanja yang semakin interaktif juga ikut mendorong pertumbuhan affiliate. Head of Corporate Affairs Shopee Indonesia, Satrya Pinandita, menyebut ekosistem e‑commerce kini membuka banyak peluang baru, baik bagi penjual UMKM maupun para affiliator.
“Kehadiran platform e‑commerce seperti Shopee menawarkan banyak kesempatan usaha baru untuk masyarakat. Contoh yang bisa kita lihat di dalam platform Shopee dan ekosistem kita, pertama, pastinya ada UMKM sebagai penjual yang dapat mengembangkan jangkauan bisnis lewat ekosistem digital. Dan kita lihat ada tren baru yang sekarang kita lagi bahas, yaitu affiliate,” terang Satrya.
“Dengan kebutuhan masyarakat untuk berbelanja, mereka juga sekarang lebih tertarik untuk mengonsumsi konten yang sifatnya itu lebih video, lebih interaktif, sehingga di balik layar muncul pekerjaan baru, yaitu affiliator yang tugasnya adalah untuk benar-benar bisa mempromosikan produk‑produk penjual UMKM,” tambahnya.
“Keindahan dari ekonomi digital adalah sifatnya yang fleksibel. Masyarakat punya kebebasan untuk memilih sesuai dengan jam kerja dan talenta mereka. Jadi memang peluang ekonomi dari ekonomi digital ini sangat luas sekali dan kita senang banget sih melihat pertumbuhan yang sangat pesat gitu di dalam ekosistem kami,” tutur Satrya.
Hal ini juga dirasakan langsung oleh Susi Esme, yang kini mendapatkan penghasilan dari program Shopee Affiliate. Ia menilai peluang di sektor ini terbuka luas bagi siapa saja yang mau mencoba.
“Affiliate ini sangat terbuka luas dan potensial, meskipun persaingan memang semakin banyak. Semua orang bisa sukses asal mau berusaha, karena profesi ini sangat inklusif. Jadi tidak perlu takut, selama kita mau terus berusaha dan menggali potensi, insyaallah punya kesempatan untuk sukses di dunia affiliate,” pungkas Susi.
Secara keseluruhan, sinergi antara platform, pemerintah, dan masyarakat dinilai menjadi kunci agar potensi ekonomi dari sektor affiliate bisa terus berkembang secara berkelanjutan. Dengan 80% internet penetration, 3,1 juta affiliator, dan peningkatan pengeluaran rumah tangga, ekonomi digital di Indonesia menunjukkan pola pertumbuhan yang dinamis. Keberhasilan sektor affiliate bergantung pada keseimbangan antara kebijakan pemerintah, daya beli masyarakat, dan inovasi platform e‑commerce. Sektor ini menawarkan peluang fleksibel bagi individu yang ingin memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan pendapatan, sekaligus menambah lapisan ekonomi digital yang lebih inklusif.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Nasabah Maybank: Reksa Dana Jatuh Tempo 2023 Belum Cair
IHSG Sentuh 6.300, Saham Konglomerat Jadi Motor
China Beri Peringkat Utang Tertinggi ke Indonesia
Sandwich Generation: 82,96% Rumah Tangga Masih Bergantung pada Lansia
Bank Mandiri Perkuat Keamanan Siber Digital
Menkeu Bantah Rumor S&P Turunkan Peringkat Indonesia
