Ekspor Perikanan Indonesia Capai Rekor US$ 6,27 Miliar 2025

Rizki W. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 66 dibaca
Bisik.id
Ekspor Perikanan Indonesia Capai Rekor US$ 6,27 Miliar 2025

Gambar atau konten salah?

KKP mencatat nilai ekspor produk perikanan Indonesia sepanjang Januari hingga Desember 2025 sebesar US$ 6,27 miliar atau sekitar Rp 107,11 triliun (kurs Rp 17.084 per dolar AS). Rekor ini menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Menurut Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Kelautan dan Perikanan, kenaikan ekspor didorong oleh pertumbuhan produksi kelautan dan perikanan yang rata-rata tumbuh sekitar 3,8% sepanjang tahun lalu.

"Produksi mencapai 26,25 juta ton menjadi capaian tertinggi yang terdiri atas 11,65 juta ton rumput laut, 7,85 juta ton perikanan tangkap, dan 6,75 juta ton perikanan budidaya. Nilai ekspor produk perikanan Indonesia meningkat juga mencapai US$ 6,27 miliar di tahun 2025, juga menjadi capaian tertinggi dalam 5 tahun terakhir," kata Trenggono.

Data tersebut menunjukkan bahwa produksi perikanan Indonesia tidak hanya meningkat dalam volume, tetapi juga dalam nilai ekspor. Total ekspor mencapai US$ 6,27 miliar, mencerminkan keberhasilan strategi pemerintah dalam meningkatkan daya saing produk laut.

"Hingga Februari 2026 nilai ekspor tercatat sebesar US$ 960 juta yang secara year-on-year masih menunjukkan perlambatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya," paparnya.

Perbandingan ini menandakan perlambatan realisasi ekspor pada dua bulan pertama 2026. Trenggono tidak merinci faktor spesifik, namun menekankan bahwa tren ini perlu dipantau dengan cermat.

Di luar dinamika ekspor, sektor kelautan dan perikanan menghadapi dua tantangan besar: konflik di Timur Tengah dan siklus El Nino. Kedua faktor ini dapat memengaruhi produktivitas dan distribusi hasil laut.

"Menjelaskan konflik di Timur Tengah berpotensi menurunkan tingkat produktivitas para nelayan dalam negeri sebagai implikasi dari kenaikan harga BBM akibat krisis energi global. Sebab sampai saat ini 100% atau seluruh nelayan di Indonesia masih sangat bergantung pada BBM untuk bisa melaut," sambungnya.

"Lalu kemudian harga-harga akibat dari distribusi juga masih terpengaruh sehingga rantai pasok dari hasil perikanan juga berpotensi mengakibatkan penurunan volume ekspor, hingga penurunan daya saing produk perikanan Indonesia di pasar global," sambungnya.

Trenggono menambahkan bahwa El Nino dapat meningkatkan evaporasi air laut, menambah salinitas, dan merusak ekosistem pesisir. Dampak ini berpotensi menimbulkan wabah penyakit pada komoditas budidaya dan mempercepat degradasi ekosistem karbon biru, yang akhirnya dapat meningkatkan emisi karbon.

Meski menghadapi tantangan tersebut, KKP memproyeksikan produksi ikan dan hasil laut nasional untuk periode April hingga Desember 2026 dapat mencapai 10,56 juta ton. Angka ini terbagi menjadi 5,42 juta ton produksi ikan tangkap dan 5,15 juta ton produksi ikan budidaya.

Selain itu, KKP terus memantau komoditas utama perikanan di delapan kota besar yang menjadi kebutuhan masyarakat. Berdasarkan hasil pemantauan, status ketersediaan ikan berada pada kategori aman hingga Juni 2026.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa meski ada tekanan global, Indonesia masih mampu mempertahankan produksi perikanan yang kuat. Namun, perlambatan ekspor pada awal 2026 menandakan perlunya strategi penyesuaian untuk menghadapi perubahan pasar dan faktor eksternal seperti konflik energi dan perubahan iklim.

Ekspor perikanan IndonesiaProduksi kelautanEl NinoKonflik Timur TengahBBMDaya saing produk lautPerubahan iklim

Komentar

Memuat komentar...