El Panta Tarigan: Lulusan Unesa, Atlet Paralimpik, Pendidik

Yuli S. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 79 dibaca
Bisik.id
El Panta Tarigan: Lulusan Unesa, Atlet Paralimpik, Pendidik

Gambar atau konten salah?

El Panta Tarigan lahir di Medan dan kehilangan penglihatan pada usia 12 tahun. Meskipun mengalami keterbatasan fisik, ia tidak menyerah. Ia memilih merantau ke Surabaya untuk mengejar impian pendidikan dan olahraga.

El menempuh studi di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Program Studi Pendidikan Luar Biasa (PLB) di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP). Ia resmi wisuda pada Rabu, 29 April 2026, menjadi lulusan ke-199 Unesa. Selama kuliah, Unesa menyediakan ekosistem inklusif: fasilitas guiding block dan budaya saling bantu yang kuat.

Dalam menyelesaikan tugas akhir, El memanfaatkan teknologi screen reader pada laptopnya. Risetnya mengkaji peran Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) dalam meningkatkan keterampilan sosial bagi disabilitas di Lamongan. Proses penelitian tersebut ia selesaikan dengan bantuan perangkat tersebut.

“Teknologi membantu saya tetap mandiri dalam membaca materi hingga menyusun skripsi. Saya ingin menunjukkan bahwa dengan aksesibilitas yang tepat, kami mampu bersaing secara setara,” kata El, Jumat, 1 Mei 2026.

Kesungguhan El menghasilkan skripsi yang selesai tepat waktu dan memiliki kualitas riset yang baik. Ia tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga aktif berolahraga.

El adalah atlet paralimpik dengan prestasi menonjol. Ia meraih medali tolak peluru pada Pekan Paralimpik Pelajar 2017, menjadi juara satu goalball tingkat provinsi pada 2019, dan berkompetisi dalam berbagai kejuaraan catur.

Dengan tinggi badan 215 cm, El sering menghadapi tantangan praktis seperti mencari ukuran pakaian dan sepatu jumbo. Namun ia menganggap hal itu sebagai bagian dari identitas yang harus disyukuri.

“Meski menghadapi tantangan teknis dalam keseharian, seperti mencari ukuran pakaian dan sepatu jumbo, saya menganggap itu sebagai bagian dari identitas yang harus disyukuri,” ujarnya.

Penghargaan atas prestasinya datang dari Rektor Unesa, Prof. Nurhasan. Ia memberikan El beasiswa untuk melanjutkan studi jenjang Magister (S2). Rektor menyatakan bahwa beasiswa tersebut merupakan apresiasi nyata atas kegigihan dan prestasi El selama menempuh pendidikan tinggi.

“Jika Pak Rektor memberi kesempatan, tentu saya terima dengan penuh tanggung jawab. Rencana saya adalah mendalami bidang pendidikan inklusif di jenjang S2,” ujarnya.

Visi El ke depan jelas: kembali ke Sumatera Utara, khususnya Medan, untuk mengabdi sebagai pendidik. Ia menyadari masih minim perguruan tinggi negeri di tanah kelahirannya yang menawarkan jurusan Pendidikan Luar Biasa.

“Saya ingin menjadi jembatan bagi anak-anak disabilitas di Medan agar mendapatkan akses pendidikan yang layak seperti yang ia rasakan di Unesa,” pungkasnya.

El Panta Tarigan menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk meraih prestasi. Dengan dukungan teknologi, lingkungan inklusif, dan tekad kuat, ia berhasil menorehkan pencapaian akademik dan olahraga, sekaligus menyiapkan diri untuk masa depan sebagai pendidik inklusif di tanah kelahirannya.

El Panta TariganUniversitas Negeri SurabayaPersatuan Tuna Netra Indonesiascreen readerPekan Paralimpik Pelajarbeasiswa S2pendidikan inklusifMedan

Komentar

Memuat komentar...