Elsbeth Cari Jejak Kakek Buyut di Rumah ELS Magelang
Gambar atau konten salah?
Elsbeth de Jager adalah seorang perempuan asal Belanda yang memutuskan untuk menelusuri jejak kakek buyutnya di Magelang. Ia membawa sekeping kartu pos sebagai petunjuk awal pencariannya.
Nama kakek buyutnya adalah Johanes Dionijsius Winnen, yang lebih dikenal dengan singkatan JD Winnen. Ia pernah mengajar di Eurospeech Lagere School (ELS), sekolah setingkat SD yang didirikan oleh kongregasi Franciscanessen pada sekitar tahun 1902. Bangunan ELS kini berfungsi sebagai Pengadilan Negeri Magelang.
JD Winnen mengajar di ELS hingga sekitar tahun 1906. Pada tahun 1907 ia pindah ke Bandung, lalu kembali ke Magelang setahun kemudian. Di sana ia mengajar di OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren), sekolah kolonial Belanda yang bertujuan melatih calon pegawai negeri pribumi.
Lokasi OSVIA tidak jauh dari Alun‑Alun Magelang. Bangunan bekas sekolah ini sekarang menjadi Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Magelang.
Setelah periode di OSVIA, JD Winnen sempat berpindah‑pindah ke Ambon, kembali ke Bandung, dan pada bulan September 1914 ia ditugaskan di Purworejo. Di Purworejo, ia menjadi kepala sekolah Hoge Kweekschool (HKS), sebuah sekolah pendidikan guru berasrama yang didirikan oleh kolonial Belanda.
Bangunan HKS kini berfungsi sebagai SMAN 7 Purworejo.
Beberapa tahun lalu, Elsbeth menemukan foto kakeknya saat bertugas di Purworejo melalui internet. Ia menghubungi kepala sekolah SMAN 7 Purworejo lewat Facebook dan diberi tahu bahwa HKS sekarang menjadi SMAN 7.
“Saya tiga tahun yang lalu menemukan foto (kakek buyut) berada di rumah dinas di Purworejo. Foto tersebut saya temukan di internet dan saya bertanya di Facebook rumah masih ada, sekolah masih ada,” kata Elsbeth kepada awak media, Jumat 22 Mei 2026.
Setelah mengetahui lokasi HKS, Elsbeth berangkat ke Magelang untuk melacak jejak kakeknya. Namun pencariannya pada saat itu tidak membuahkan hasil.
Ia kembali ke Magelang tahun ini. Di sana ia sempat melihat bekas gedung ELS sebelum mengunjungi Museum Mosvia atau bekas markas Polres Magelang Kota. Namun, usahanya mencari tempat tinggal kakek buyutnya belum mendapatkan jawaban.
“Sekarang saya mencari rumah tempat kakek buyut (Magelang). Karena saya napak tilas. Belum (ketemu) rumahnya,” tutur Elsbeth.
Ia menjelaskan kendala yang dihadapi: tidak ada alamat pasti pada surat yang dibawanya.
“Ya kesulitan (mencari rumah) kami tidak punya alamat dan hanya punya satu foto. Dan saya tahu dari kartu pos kakek buyut saya ditulis ELS dulu,” ujarnya yang juga baru belajar Bahasa Indonesia.
Ia juga menebak jarak rumah kakeknya dari tempat yang diketahui.
“Karena kakek buyut saya menulis tentang trem. Saya kira 4 menit jalan (dari lokasi rumahnya). Mungkin jalan kaki, sepeda, saya tidak tahu,” imbuhnya.
Walaupun memiliki foto, ia tidak dapat menemukan informasi apapun tentang rumah tersebut.
“Tapi, tidak bisa mencari apapun tentang rumah itu,” ujarnya.
Dalam perjalanan napak tilasnya, Elsbeth didampingi oleh suaminya, Melvin van Deventer, serta perwakilan Komunitas Kota Toea Magelang, Bagus Priyana.
Bagus mengungkapkan bahwa kedatangan Elsbeth bersama suaminya sangat bermakna. Ia memiliki ikatan sejarah dan emosional terhadap Magelang melalui garis kakek buyutnya yang pernah menjadi guru di dua sekolah di kota tersebut.
“Di ELS pada tahun 1906 dan OSVIA pada tahun 1908. Dan pada akhirnya berpindah‑pindah tempat dan menjadi kepala sekolah di HKS di Purworejo tahun 1916,” lanjut Bagus.
Bagus menambahkan bahwa Elsbeth berusaha menelusuri jejak leluhurnya dan menunjukkan perhatian terhadap Magelang melalui penelusuran sejarah keluarganya. Meskipun kunjungan kedua ini merupakan salah satu misi mencari rumah kakek buyutnya, tantangannya tetap besar.
“Dia berusaha menelisik ini. Dia ingin menyambung jejak‑jejak leluhurnya bahwa punya perhatian terhadap Magelang melalui penelusuran sejarah keluarganya. Walaupun kedatangan kedua (kalinya) ini salah satu misinya mencari rumah kakek buyutnya,” kata Bagus.
Bagus menegaskan bahwa pencarian belum berhasil.
“Tentu ini tidak mudah. Meskipun ada fotonya, tetapi hingga (saat ini) masih belum menemukan rumah yang pernah ditinggali oleh kakek buyutnya,” lanjutnya.
Ia menutup dengan catatan bahwa bangunan rumah tersebut belum ditemukan, serta foto‑foto lama belum terungkap.
“Bangunan rumah itu hingga ini, kami belum menemukan. Foto‑foto lama juga belum menemukan. Ini benar-benar foto (rumah kakek buyutnya) autentik tidak ada di media sosial apapun. Ini sebuah tantangan untuk menelisik, mencari rumahnya tersebut,” pungkasnya.
Perjalanan Elsbeth menegaskan betapa pentingnya jejak sejarah keluarga bagi pencarian identitas. Meski belum menemukan rumah kakek buyutnya, pencarian ini tetap menjadi usaha berharga untuk menghubungkan masa lalu dengan masa kini di Magelang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
