Empat Anak Polewali Gigit, Warga Takut Serangan Anjing

Wati N. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 33 dibaca
Bisik.id
Empat Anak Polewali Gigit, Warga Takut Serangan Anjing

Gambar atau konten salah?

Di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, warga menjadi cemas karena serangan anjing liar yang menimpa empat anak dalam dua bulan terakhir. Padli (9 tahun), Alif (7 tahun), Ilham (3 tahun), dan Wira (5 tahun) menjadi korban serangan yang memaksa mereka menjalani perawatan di puskesmas setempat.

Serangan pertama terjadi pada 19 Februari 2026 di area sawah Desa Banua Baru, Kecamatan Wonomulyo. Padli dan Alif sedang bermain di saluran air sawah ketika enam anjing liar menyerang. “Itu anak pergi tangkap ikan di saluran air sawah, di situlah digigit (anjing),” kata Kepala Desa Banua Baru, M Taufik. Ia menambahkan bahwa seorang petani yang lewat langsung mengusir kawanan anjing tersebut.

“Kebetulan ada petani lewat langsung diusir itu anjing. Bayangkan, itu orang yang tolong sempat dikira bangkai itu yang dikeroyok, ditarik-tarik anjing, ternyata anak kecil,” ujarnya. Ia juga menilai luka yang dialami Padli dan Alif cukup parah akibat gigitan anjing.

Berbulan kemudian, pada 19 Maret 2026, balita Ilham (3 tahun) diserang dua anjing liar di area sawah warga Desa Bakka-Bakka, Kecamatan Wonomulyo. Kepala Desa Bakka-Bakka, Sudirman, melaporkan bahwa Ilham sedang bermain bersama teman-temannya ketika anjing menyerang. “Katanya lagi main di sawah itu anak (korban) sama teman-temannya, lalu diserang anjing,” ungkapnya. Ilham selamat berkat bantuan keluarganya dan segera dibawa ke puskesmas. Sudirman menyebut luka di kepala dan paha.

Serangan terakhir terjadi pada 31 Maret 2026 di pemukiman Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Wonomulyo. Wira (5 tahun) sedang bermain berdua dengan temannya ketika dua anjing liar menyerang. Camat Wonomulyo, Samiaji, melaporkan bahwa Wira menerima beberapa luka akibat gigitan. “Ada beberapa luka, tadi menurut yang rawat katanya luka gigitan. Korban sudah pulang ke rumahnya, tadi sempat bawa ke rumah sakit untuk perawatan,” kata Samiaji.

Setelah serangan, satu dari dua anjing yang menyerang Wira dibunuh dengan senapan angin. Pemeriksaan di Balai Besar Veteriner (BBVet) Maros menunjukkan bahwa anjing tersebut positif rabies. Sekretaris Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Polman, Akhmad Farid, mengonfirmasi hasil tersebut. “Positif itu (rabies),” ujarnya. Ia menyebutkan Nomor Registrasi 070004/R730801/04/2026 sebagai dokumen hasil uji, yang diterbitkan pada 8 April 2026.

Setiap korban serangan anjing liar langsung menerima suntikan vaksin anti rabies (VAR). Kepala Puskesmas Wonomulyo, Sapriani, menjelaskan prosedur vaksinasi. “Kami dari pihak puskesmas sudah memberikan vaksin sesuai dengan protap. Kami masih akan memantau pasiennya,” katanya pada 11 April 2026. Ia menambahkan bahwa vaksinasi dilakukan secara bertahap, empat kali sampai hari ke-21 setelah gigitan. “Vaksinnya itu ada empat kali, makanya kalau untuk korban di Sidodadi itu hari ini sudah vaksin ketiga. Pada hari ke-21 setelah gigitan diberi lagi vaksin terakhir,” jelas Sapriani.

Selain itu, Sapriani mengungkapkan bahwa korban lain sudah menyelesaikan vaksinasi. “Korban lain juga sudah aman, sudah selesai vaksinnya empat kali. Alhamdulilah ada (vaksin), apalagi pada kondisi seperti sekarang ada kasus, teman-teman selalu mengamprah (ajukan permintaan),” ujarnya.

Dr Gunadil, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Polman, menegaskan bahwa semua orang yang digigit hewan penular rabies harus diberi vaksin. “Orang yang digigit hewan penular rabies, asal sampai di fasilitas kesehatan ditangani sesuai SOP (standar prosedur operasional) termasuk pemberian (vaksin) anti rabies,” katanya. Ia menekankan ketersediaan vaksin di setiap puskesmas, termasuk di Dinkes Polman, untuk mengantisipasi penyebaran kasus serangan anjing liar. “Stok vaksin sementara ini aman. Jadi setiap puskesmas itu diberi stok untuk jaga-jaga, nanti kalau kurang dikasih lagi stok, terus di kabupaten masih ada,” pungkasnya.

Serangan anjing liar di Polewali Mandar menyoroti pentingnya pengendalian populasi anjing liar dan penegakan protokol kesehatan. Rabies, penyakit yang ditularkan melalui gigitan hewan, dapat menjadi fatal jika tidak segera diobati. Pemerintah kabupaten telah menegakkan prosedur vaksinasi rutin bagi korban, serta memantau stok vaksin di fasilitas kesehatan. Sementara itu, upaya mengusir anjing liar di lingkungan pertanian dan pemukiman terus dilakukan oleh warga dan petugas.

Keempat korban kini dalam pemantauan kesehatan, dan semua telah menerima vaksin anti rabies sesuai jadwal. Meskipun luka mereka cukup serius, langkah cepat dan koordinasi antara puskesmas, dinas kesehatan, dan dinas perkebunan menunjukkan respons yang terstruktur. Kasus ini juga mengingatkan masyarakat tentang risiko anjing liar dan pentingnya kewaspadaan serta penanganan medis yang tepat.

serangan anjing liarrabiesvaksin anti rabiesPolewali Mandarpuskesmaskecamatan Wonomulyobalai besar veteriner

Komentar

Memuat komentar...