Fadli Zon Kunjungi Keraton Kilen, Revitalisasi Dipertanyakan

Kartika D. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 47 dibaca
Bisik.id
Fadli Zon Kunjungi Keraton Kilen, Revitalisasi Dipertanyakan

Gambar atau konten salah?

Fadli Zon mengunjungi Keraton Kilen pada 26 Maret 2026, menandai langkah awal revitalisasi bangunan bersejarah yang dulu menjadi tempat tinggal Paku Buwono X pada tahun 1932. Saat menelusuri area Keraton Kulon, ia mengungkapkan, “Kita lihat di sini adalah Keraton Kilen (kulon) ya, satu keraton yang dulu ditempati oleh PB X tahun 1932,”. Ia menekankan pentingnya situs tersebut sebagai simbol kejayaan Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan sebagai tempat tinggal pahlawan nasional.

Fadli menjelaskan bahwa revivalisasi bertujuan mengembalikan kemegahan asli, termasuk taman dan kamar pribadi Paku Buwono X. Ia berharap pengunjung dapat menikmati suasana sejarah yang autentik. “Mudah-mudahan bisa kita revitalisasi sehingga pengunjung juga bisa menikmati dan dikembalikan ke aslinya. Dengan taman-tamannya, kamar-kamarnya PB X. Ini saya kira bisa menjadi salah satu prioritas,” ujar ia.

Untuk memulai proses, Fadli menyatakan akan melakukan serangkaian tahapan teknis, mulai dari kajian hingga pemetaan aset. Ia menambahkan, “Segera, kita akan perlu proses dulu nih kajiannya, ada mapping-nya, kemudian perencanaan, pengukuran, dan lain-lainnya. Tapi kalau bisa kita laksanakan tahun ini. Rencananya tahun ini,”. Rencana tersebut menargetkan penyelesaian tahun ini.

Setelah perbaikan selesai, ia berencana membuka area Keraton Kulon untuk publik. Ia ingin menjadikan seluruh kawasan sebagai museum yang hidup, di mana pengunjung tidak hanya melihat koleksi, tetapi juga merasakan atmosfer sejarah secara langsung. “Harusnya begitu, untuk publik lah. Sudah didandani masa tidak ditonton. Jadi bisa menjadi satu museum,” tegasnya.

Fadli juga menyoroti potensi taman dan bangku di lokasi tersebut sebagai museum terbuka. Ia menyatakan, “Tamannya atau bungkernya itu bisa menjadi open air museum kalau kita kembalikan ke masa-masanya dulu. Jadi seluruh keraton ini sebenarnya adalah sebuah museum,”. Ide tersebut menekankan pengalaman langsung bagi pengunjung.

Menanggapi pertanyaan mengenai dana hibah, Fadli mengatakan pihaknya masih menunggu badan hukum. Ia tidak merinci apakah badan tersebut sudah dibentuk. “Ya ini kan karena harus ada badan hukum ya. Nah, ini yang sedang kita atur, ya kalau besok selesai, besok juga bisa,” pungkasnya.

Namun, rencana pembukaan Keraton Kulon untuk umum mendapat penolakan dari Paku Buwono XIV Purbaya. Pengageng Sasana Wilapa, GKR Panembahan Timoer Rumbay, menyatakan bahwa rencana tersebut harus seizin Paku Buwono XIV. Ia menegaskan, “Kalau masalah Keraton Kilen itu bagi kami senang-senang saja untuk dibersihkan kemudian direvitalisasi, tetapi juga harus mengingat manfaatnya untuk apa. Karena sebelum-sebelumnya ketika Keraton Kilen itu selesai dibangun juga dikosongkan kemudian terbengkalai,”.

Rumbay menambahkan bahwa Keraton Kulon masuk wilayah privasi Keraton Solo. Ia menyatakan, “Ya bagaimana ya, ini kan wilayah keputren ya sebenarnya, wilayah privasi keraton. Terutama Keraton Kilen itu kan dulu tempat tinggal raja PB X dengan permaisurinya yang dari Hamengkubuwono. Jadi agak kurang pas menurut saya kalau dibuka untuk umum,”. Pandangan ini menyoroti konflik antara pelestarian sejarah dan hak privasi keraton.

Revitalisasi Keraton Kilen menimbulkan perbedaan pandangan antara pemerintah dan penguasa keraton, menunjukkan tantangan antara pelestarian sejarah dan hak privasi. Keterlibatan kedua belah pihak menandai proses yang kompleks namun penting bagi identitas budaya Surakarta.

Keraton KilenrevitalisasiPaku Buwono Xmuseum terbukaprivasi keratonSurakartaFadli Zon

Komentar

Memuat komentar...