Fadli Zon Tekankan Indonesia Pusat Peradaban Tertua di UNS

Sigit W. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 51 dibaca
Bisik.id
Fadli Zon Tekankan Indonesia Pusat Peradaban Tertua di UNS

Gambar atau konten salah?

Fadli Zon hadir di UNS Solo pada 26 Maret 2026 untuk menghadiri reuni akbar Fakultas Ilmu Budaya (FIB). Acara ini menjadi bagian dari peringatan Dies Natalis ke-50 Universitas Sebelas Maret. Di auditorium, Menteri Kebudayaan menyampaikan pidato yang menyoroti peran budaya dalam identitas bangsa.

Dalam pidatonya, Fadli Zon menegaskan bahwa Indonesia bukan sekadar negara bangsa, melainkan negara peradaban yang kaya akan mega diversity. Ia menyebut, “Kita ini lebih tepat disebut sebagai civilizational state, negara peradaban, karena kita berangkat dari berbagai peradaban yang berbeda-beda. Saking tuanya, kalau kita lihat, kita ini selalu menemukan dari waktu ke waktu hal-hal yang baru, sampai hari ini.”

Selanjutnya, Fadli Zon memaparkan bukti arkeologis yang menunjukkan usia peradaban Nusantara. Ia menyoroti temuan lukisan purba di Gua Metanduno, Sulawesi Tenggara, yang berusia 67.800 tahun sebagai indikasi bahwa Indonesia merupakan pusat peradaban tertua di dunia.

Ia juga mengingatkan tentang lukisan purba tertua yang pernah ditemukan di dunia, berusia 51.200 tahun, di Leang Karampuang di Maros-Pangkep. “Sebelumnya, kira-kira 6 tahun yang lalu dunia dihebohkan dengan lukisan purba tertua di dunia umurnya 51.200 tahun. Itu di Leang Karampuang di Maros-Pangkep. Umurnya 51.200 tahun,” ujarnya.

Dengan data tersebut, Fadli Zon menegaskan bahwa Indonesia dapat menjadi salah satu negara tertua di dunia. Ia berkata, “Jadi sekarang semakin kuatlah dan semakin kokohlah bahwa Indonesia itu adalah peradaban yang sangat tua, salah satu yang tertua di dunia, bahkan mungkin tertua di dunia kalau lukisan purba ini yang ada di dinding-dinding gua yang disebut sebagai rock art atau cave painting itu ada di Sulawesi.”

Ia menambahkan, “Nenek moyang kita itu bermigrasi dengan perahu. Jadi bukan orang Yunan yang baru 'kemarin sore'. Kita bahkan ratusan ribu tahun lebih tua dari Cina dalam temuan arkeologis tertentu.”

Fadli juga menyoroti strategi kebudayaan di era digital. Ia menginginkan Indonesia memiliki “Indonesian Wave” yang mampu bersaing dengan gelombang Korea atau Hollywood. Menurutnya, budaya adalah sumber daya yang tidak akan pernah habis.

“Minyak, gas, nikel, batubara ini akan habis, tapi budaya tidak akan habis selama ada manusianya. Kita ingin membangkitkan Indonesian wave. Budaya harus mengarah pada ekonomi budaya dan industri budaya,” tegas Fadli Zon.

Dalam kesempatan tersebut, ia menitipkan pesan kepada UNS sebagai benteng kebudayaan. Ia meminta perguruan tinggi berperan aktif dalam membangun literasi budaya digital yang tidak sekadar bisa menggunakan aplikasi, tapi juga memahami etika dan hak cipta. “Tugas kita bukan memilih antara tradisi dan digital, tapi membuat digital beradab untuk tradisi. Membuat platform menjadi ruang keadilan bagi para pelaku seni dan budaya kita,” kata dia.

Fadli mendorong Indonesia memiliki platform AI sendiri agar data kebudayaan nasional tidak hanya diambil oleh platform asing seperti ChatGPT atau Gemini. “Penting sekali institusionalisasi budaya termasuk intangible cultural heritage kita. Perguruan tinggi seperti UNS adalah mesin-mesin kebudayaan yang sangat penting,” pungkasnya.

Acara ini menegaskan bahwa Indonesia memiliki warisan budaya yang sangat kaya dan beragam. Pemerintah dan perguruan tinggi diharapkan terus memelihara dan mempromosikan nilai-nilai tersebut, baik melalui pelestarian sejarah maupun inovasi digital, agar budaya Indonesia tetap relevan dan berdaya saing di kancah global.

Fadli ZonUNS SoloLukisan PurbaPeradaban NusantaraIndonesian WaveBudaya DigitalAI Indonesia

Komentar

Memuat komentar...