Fakhri Fauzi, Lulusan UIN, Sekarang Mengajar di Harvard

Guntur P. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 79 dibaca
Bisik.id
Fakhri Fauzi, Lulusan UIN, Sekarang Mengajar di Harvard

Gambar atau konten salah?

Fakhri Fauzi kini mengajar di Harvard Kennedy School, menambah daftar lulusan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang berhasil melangkah ke dunia internasional. Di kampus tersebut, ia berperan sebagai Asisten Pengajar Bahasa Asing Fulbright (FLTA) dan memimpin kelas bahasa Indonesia yang terbuka bagi mahasiswa, peneliti, staf, dan cendekiawan di Boston Raya.

Menurut pengumuman resmi HKS, “Instruktur Anda, Fakhri Fauzi, seorang Asisten Pengajar Bahasa Asing Fulbright (FLTA), akan membimbing Anda melalui kurikulum komprehensif yang dirancang untuk mengakomodasi semua tingkat kemampuan: pemula, menengah, dan mahir,” tulis HKS pada 16 April 2026. Kelas ini menitikberatkan pada tiga hal utama: tata bahasa dasar untuk konteks formal dan informal, rasa percaya diri dalam percakapan sehari‑hari, serta pemahaman lebih dalam tentang budaya Indonesia.

Perjalanan Fakhri dimulai saat ia lulus dari program Sarjana Bahasa dan Sastra Inggris di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 2015. Setelah itu, ia bergabung di Pusat Pengembangan Bahasa (PPB) UIN sebagai pengawas tes bahasa. Di sana, ia menyadari potensi mengajar bahasa Indonesia kepada mahasiswa asing.

“Saya mulai tertarik lah, gimana caranya saya bisa mengajar mereka. Akhirnya, saya konsultasi sama Koordinator Bahasa Indonesia di sana. Yang saya dengar saya ingat waktu itu, kalau misalkan mau mengajar BIPA seenggaknya kamu harus punya Sertifikat BIPA atau kamu kalau misalkan kamu belum S2 Kamu harus ada sertifikat BIPA,” jelasnya saat diwawancarai detikEdu pada Selasa (14 April 2926), ditulis Kamis (16 April 2026).

Fakhri kemudian mencari program sertifikasi BIPA. Ia mengakui bahwa biaya pelatihan cukup tinggi, namun ia melihat peluang karier yang menjanjikan. “Memang lumayan Mahal waktu itu ya 2015 mungkin 5 juta, habis sekitar 5 juta saat itu. Cuma saya pikir sepertinya ini akan jadi bidang yang menarik, bidang yang menguntungkan kalau misalkan kita berdalam disini.”, ia ungkap.

Setelah menyelesaikan pelatihan, ia mulai mengajar BIPA pada 2016. Untuk memperdalam ilmu, ia melanjutkan studi magister di Universitas Indonesia (UI) jurusan Linguistik Terapan pada 2021. Perjalanan studinya tidak selalu mulus; ia menunda penyelesaian skripsi demi mengikuti konferensi internasional.

“Waktu itu menunda mengambil data untuk penelitian skripsi saya mengikuti di event internasional. Jadi saya telat lulus S1 di semester 9, waktu itu saya Februari baru bisa ikut sidang dan wisudanya di bulan Mei karena saya mengikuti event internasional. Jadi saya tunda dulu,” ceritanya.

Selain mengajar di Indonesia, Fakhri pernah mengajar BIPA di Kamboja, India, dan Myanmar. Ia juga menguasai tujuh bahasa: Indonesia, Arab, Inggris, Korea, Khmer, Prancis, dan Sunda. Selama pandemi COVID, ia tetap aktif mengajar secara daring, termasuk untuk perusahaan asing di Jakarta.

“Betul, ngajar bahasa Indonesia di beberapa negara itu yang offline. Online juga sebenarnya saya mengajar, karena selama pandemi itu pandemi COVID pengajar pengiriman pengajar dari Kementerian Pendidikan itu tidak dilakukan Karena alasan masih pandemi. Jadi selama pandemi itu saya ditugasi untuk mengajar bahasa Indonesia di India, di KBRI India seperti itu,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa sejak 2016 hingga sekarang, ia terus mengajar secara daring bagi murid-murid dari negara lain dan di 2016‑2024 mengajar ekspart di Jakarta di perusahaan‑perusahaan asing.

Pengalaman di Harvard memberi Fakhri perspektif baru tentang sistem belajar. Ia mengamati hubungan profesor dan mahasiswa lebih santai, tanpa hierarki yang kaku seperti di Indonesia. “Saya merasa paling tertinggal kalau di kelas di awal-awal merasa seperti itu, melihat apa namanya persaingan antara mahasiswa ternyata mereka pintar‑pintar. Tapi Alhamdulillah masih bisa bertahan sampai akhir semester sampai sekarang,” ucapnya.

Ia menekankan bahwa hubungan antara dosen atau profesor dan mahasiswa di sini lebih santai, tidak ada gap, seperti kita tahu kalau di Indonesia dan mungkin juga di beberapa negara Asia.

Meski masih menyelesaikan studinya, Fakhri dipercaya menjadi pengajar inti meski statusnya sebagai asisten pengajar. Ia terus menambah pengalaman di dunia akademik dan profesional, serta memfasilitasi pemahaman bahasa dan budaya Indonesia bagi mahasiswa internasional.

Fakhri Fauzi menunjukkan bahwa perjalanan seorang guru dapat melintasi batasan geografis dan disiplin. Dari pengawas tes di UIN hingga asisten pengajar di Harvard, ia tetap fokus pada tujuan utama: menyebarkan bahasa Indonesia ke dunia. Dengan pengalaman mengajar di berbagai negara, penguasaan tujuh bahasa, dan komitmen terhadap pendidikan, ia menjadi contoh nyata bahwa pelajaran bahasa dapat menjadi jembatan lintas budaya.

Fakhri FauziHarvard Kennedy SchoolAsisten Pengajar Bahasa Asing FulbrightBIPAPengajaran Bahasa IndonesiaPengalaman Internasional

Komentar

Memuat komentar...