Fatimah, 38, Berjuang Hidup Mandiri lewat Suara di Hago

Guntur P. · 3 min baca · 3 bulan lalu · 92 dibaca
Bisik.id
Fatimah, 38, Berjuang Hidup Mandiri lewat Suara di Hago

Gambar atau konten salah?

Fatimah berusia 38 tahun tinggal di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Sejak lahir, ia menghadapi osteogenesis, penyakit tulang rapuh yang membuatnya hanya bisa berbaring di tempat tidur. Meski begitu, semangatnya tidak pernah pudar.

Di rumahnya, dua orang—ibu dan adiknya—menjadi pendukung utama. Mereka membantu Fatimah setiap kali ia perlu berpindah ruangan. Meskipun begitu, Fatimah tidak mau tergantung sepenuhnya pada mereka. Ia bertekad mencari cara agar dapat hidup mandiri.

Semangatnya untuk mandiri tidak hanya terbatas pada keinginan finansial. Ia juga ingin menunjukkan bahwa orang dengan disabilitas bisa berkontribusi secara kreatif. Salah satu cara yang ia temukan adalah melalui suara.

Selama pandemi Covid-19, Fatimah memutuskan untuk menjadi pengisi suara di aplikasi game Hago. Sebelumnya, ia pernah menjual boneka secara online, namun pembatasan sosial membuat usahanya terhenti. Ia mencari aktivitas baru di ponsel, dan menemukan Hago sebagai pilihan.

“Tadinya aku ada toko boneka karena ada COVID itu harus tutup, karena buat beli beras sudah susah apalagi beli boneka. Lha karena covid harus di rumah tidak boleh ada kegiatan, saya awalnya niat cari aplikasi untuk main-main gitu,” kata Fatimah ketika ditemui di rumahnya pada 17 April 2026.

Ia menjelaskan bahwa aplikasi tersebut memiliki fitur voice room yang memungkinkan orang berinteraksi tanpa menampilkan wajah. “Karena biasa jualan online pegang hp terus, karena tiba-tiba berhenti total mau ngapain ya kan. Kemudian download game Hago di situ ternyata ada voice room jadi tidak memunculkan wajah, tidak harus menampakkan diri,” jelas dia.

“Mau berteman dari belas kasihan itu tidak enak, jadi aku di sini saja. Di voice room mereka tahu cuma suara,” tambahnya.

Sejak tiga tahun yang lalu, Fatimah rutin mengisi suara di Hago. Ia memulai setiap pagi, mulai pukul 07.00 WIB hingga 10.00 WIB. “Setiap hari minimal 3 jam, jam 07.00 WIB sampai 10.00 WIB. Kalau dulu malam, sekarang pagi. Sebelum 3 tahun itu panggilan buat ulang tahun host religi,” jelas Fatimah.

Penghasilan dari pekerjaan ini memberi dampak besar bagi keluarga. Ia dapat membiayai pendidikan adik-adiknya hingga lulus. “Alhamdulillah bisa membiayai adik sekolah sampai lulus, dan sekarang memang penghasilan untuk makan kebutuhan sehari-hari dari situ,” ujarnya.

Fatimah tidak ingin hanya bergantung pada saudara. Ia ingin menghasilkan uang dari keringatnya sendiri. “Bantuan ada saudara ada tapi kalau minta orang kan nggak enak, lebih enak penghasilan sendiri. Kalau dapat lebih dari saudara punya kita bisa disimpan, kalau pas kepepetnya,” ujarnya.

Selain menjadi pengisi suara, Fatimah juga memulai usaha kerajinan rajut pada November 2025. Ia mendesain rajut dan menjualnya secara online. Karena keterbatasan fisiknya, ia meminta bantuan orang lain yang kondisi normal untuk mengeksekusi kerajinan tersebut. “Merintis banget ini, yang minat by order boleh by request mau mau bentuk juga bebas. Itu berupa kerajinan, yang mengerjakan orang lain, aku cuma desain dan pemasaran lewat online. Sekarang ada aplikasi pemasaran juga di aplikasi,” terang dia.

Kerajinan rajut Fatimah telah diterima di berbagai kota. Ia pernah menerima pesanan untuk souvenir pernikahan dari Bogor. “Orderan dari warga sekitar, dari Bogor kemarin,” ungkapnya.

Fatimah menceritakan bahwa penyakitnya sudah diketahui sejak kecil. Saat berusia 5 bulan, ibu menyadari bahwa ia tidak dapat merangkak. “Aku menderita penyakit dari kecil dan kata ibu ketahuan itu dari usia 5 bulan karena 5 bulan wajar anak bayi bisa tengkurep, merangkak sedikit demi sedikit, itu saya nggak bisa,” jelasnya.

Karena keterbatasan medis, ia pernah mencoba pengobatan alternatif. Ketika akhirnya dibawa ke fasilitas medis, dokter sudah menegaskan bahwa penyakitnya sangat langka. “Di sana kan masih sedikit medis, jadi lebih ke alternatif, terus sempat dibawa ke medis katanya dokter sudah menyerah. Silakan diterima saja dokter sudah vonis seperti itu karena sudah saking langkanya penyakit dan belum menemukan obat yang tepat,” ungkap Fatimah.

Fisiknya sangat terbatas. Ia tidak dapat bergerak dengan spontan karena tulang rapuhnya. “Itu rapuh tulang, jadi tulang gerakku secara spontan, dan kencang itu patah. Kalau lagi patah benar patah di dalam tubuh terasa krek gitu terasa,” jelas dia.

Setelah menjadi viral di media sosial, Fatimah merasakan dukungan yang belum pernah ia alami sebelumnya. “Selama ini sebelum viral kemarin belum ada, jujur nggak ada, setelah viral kemarin itu sudah ada pihak Puskesmas Desa datang, adalah sedikit bantuan, dari Dinkes Kudus juga datang ke sini,” terang dia.

Ia berharap pemerintah daerah dapat lebih peduli terhadap disabilitas. “Harapannya semoga dapat bantuan berupa pemasaran ikut membantu mempromosikan usaha saya,” jelas Fatimah.

Fatimah telah menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak harus menghalangi seseorang untuk berkontribusi. Melalui suara dan kerajinan, ia tidak hanya mengamankan penghidupan keluarga, tetapi juga menembus dunia digital. Keberhasilannya menjadi contoh bagi banyak orang bahwa ketekunan dan kreativitas dapat membuka pintu peluang, bahkan bagi mereka yang menghadapi tantangan kesehatan yang berat.

OsteogenesisFatimahHagoVoice RoomKerajinan RajutDisabilitasDukungan Pemerintah

Komentar

Memuat komentar...