Festival Balon Tambat Pekalongan: Karya Budaya & Keamanan

Sinta R. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 51 dibaca
Bisik.id
Festival Balon Tambat Pekalongan: Karya Budaya & Keamanan

Gambar atau konten salah?

Langit Kota Pekalongan pada pagi hari dipenuhi warna‑warni balon udara yang terbang di atas Stadion Hoegeng. Festival ini, yang dikenal sebagai Festival Balon Tambat 2026, kembali menarik ribuan warga yang antusias menonton kreativitas tim balon tambat.

Festival tahunan ini menampilkan lebih dari empat puluh tim yang masing‑masing menyiapkan balon dengan tali penambat. Tali tersebut memastikan balon tidak bergerak liar dan mengurangi risiko bagi penerbangan.

Salah satu peserta, Udin dari Tengok Tim asal Kelurahan Sapuro, menampilkan tema Javanese Culture dengan tokoh pewayangan seperti Gatotkaca dan Srikandi. Ia mengaku telah mengikuti festival sejak pertama kali digelar. Dari awal ada festival di Pekalongan sampai sekarang alhamdulillah tidak pernah absen, ujarnya, Sabtu (28/3/2026).

Untuk tahun ini, Tengok Tim menargetkan hasil maksimal setelah sebelumnya meraih juara dua. Proses pembuatan balon pun tidak mudah. Super rumit, pembuatannya sampai dua bulan, katanya.

Tim lain, Pecinta Seni Degayu (Peseni), tampil dengan konsep budaya khas Kota Pekalongan. Mereka mengangkat tema batik sebagai identitas daerah, lengkap dengan ikon‑ikon kota. Kami ingin menceritakan keindahan Kota Pekalongan lewat balon ini, terutama batiknya supaya semakin dikenal luas, ujar Muhammad Taufiq dari tim Peseni.

Taufiq menjelaskan proses pembuatan balon membutuhkan waktu hingga empat bulan dengan delapan orang dalam satu tim. Kadang sampai dua hari tidak tidur demi menyelesaikan balon, tambahnya.

Wali Kota Pekalongan, Afzan Arslan Djunaid, mengapresiasi tingginya antusiasme masyarakat. Menurutnya, kreativitas peserta semakin meningkat dibanding tahun‑tahun sebelumnya. Festival Balon 2026 ini sangat luar biasa, lebih kreatif dan variatif. Pesertanya juga semangatnya luar biasa, ungkapnya.

Ia juga menyoroti munculnya balon dengan motif tokoh‑tokoh ataupun super hero pewayangan. Kalau saya jadi juri, bingung menentukan pemenangnya. Karena penilaian bukan hanya motif, tapi juga kekompakan tim, diameter balon, dan kesempurnaan saat terbang, jelasnya.

Afzan berharap festival ini terus berkembang dan mampu menekan tradisi balon udara liar yang berbahaya, sekaligus menjadi ajang pelestarian budaya dan kreativitas masyarakat. Ia berharap dengan adanya festival balon ini mengurangi bahkan menghilangkan balon udara liar di puncak syawalan.

Dengan cuaca cerah dan angin yang relatif tenang, hampir seluruh balon berhasil mengudara dengan sempurna, menambah semarak langit Pekalongan dalam festival yang kian menjadi kebanggaan daerah tersebut.

Festival balon udara tambat cukup efektif dalam menangkal balon liar. Penerbangan balon liar di tahun ini menurun cukup signifikan. Direktur Keselamatan AirNav Indonesia, Nurcahyo Utomo, mengatakan pada tahun 2025, tercatat 51 laporan pilot terkait balon udara, sementara tahun ini turun menjadi 22 laporan. Balon liar itu muncul tidak hanya di Jawa Tengah, ada juga di Jawa Timur. Area Pekalongan, Wonosobo, dan sekitar Surabaya.

Dua hari terakhir tanggal 26 dan 27 (Maret) tidak ada laporan pilot. Jadi terakhir laporan diterima pada tanggal 25 (Maret), total 21 untuk tahun ini. Kalau tahun lalu 51 (balon liar), hari ini 21, mudah‑mudahan tidak bertambah," ungkap Nurcahyo ditemui di Stadion Hoegeng Kota Pekalongan.

Ia menyebut wilayah udara di atas Pekalongan merupakan jalur penerbangan padat yang dikenal sebagai jalur W45 (Whiskey Four Five). Jalur ini dilalui pesawat dari berbagai rute, mulai dari Semarang, Surabaya, hingga wilayah timur Indonesia. Jadi pesawat yang terbang ke Semarang, Surabaya, Solo, Makassar, Bali, Nusa Tenggara, akhirnya kalau Makassar sampai ke Sulawesi sampai ke Papua itu semuanya lewat di atas Kota Pekalongan. Jadi ini jalur yang paling padat di Indonesia, ungkapnya.

Karena itu, AirNav Indonesia sangat mengharapkan masyarakat bisa menghentikan aksi menerbangkan balon liar ke udara karena membahayakan arus lalintas udara. Tradisi budaya yang baik harus dijaga dan dilestarikan. Tapi, bukan yang membahayakan, tambahnya.

Festival ini menjadi contoh bagaimana kegiatan budaya dapat dikombinasikan dengan upaya keselamatan penerbangan. Dengan pengawasan yang ketat dan partisipasi aktif warga, balon udara liar dapat dikurangi, sementara balon resmi tetap menjadi simbol kreativitas dan identitas daerah.

Festival ini juga menegaskan bahwa upaya keselamatan penerbangan dapat berjalan bersamaan dengan pelestarian budaya.

Festival Balon Tambat 2026PekalonganBalon Udara LiarKeselamatan PenerbanganBudaya JawaBatikJalur W45

Komentar

Memuat komentar...