Festival Balon Udara Tanpa Awak di Ponorogo Ramai Tinggi

Dian P. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 51 dibaca
Bisik.id
Festival Balon Udara Tanpa Awak di Ponorogo Ramai Tinggi

Gambar atau konten salah?

Ponorogo menyambut festival balon udara tanpa awak dengan antusiasme tinggi. Kegiatan Reog Balon Carnival di Sirkuit Motocross, Jenangan menampung 44 peserta yang bersaing menampilkan balon balon unik.

Menurut Kompol Edi Suyono, peserta terdiri dari perwakilan lokal dan luar daerah. “Peserta balon udara yang lokal awalnya direncanakan 21 peserta, masing-masing kecamatan satu perwakilan. Tapi akhirnya kita tutup di 24 peserta lokal,” ujar Edi, Jumat (27/3/2026).

“Dari Wonosobo ada 20 peserta, jadi total keseluruhan ada 44 peserta. Namun yang dinilai dalam lomba ini adalah peserta lokal,” jelasnya.

Panitia menetapkan kriteria penilaian, termasuk keindahan balon, kekompakan tim, dan tema yang diusung masing-masing peserta. “Penilaiannya meliputi keindahan, kekompakan, tema, dan lain sebagainya,” imbuhnya.

Acara dimulai dini hari. Peserta mulai berkumpul pada pukul 04.00 WIB, dan penerbangan balon dimulai sekitar pukul 05.00 WIB. “Jam 4 subuh sudah ada di lokasi, 4.30 peserta mulai datang, dan jam 5 sudah mulai naik,” terang Edi.

Dewan juri didatangkan langsung dari Wonosobo, daerah yang dikenal memiliki tradisi balon udara serupa.

Melihat tingginya minat, Edi menyebut masih banyak pendaftar yang belum terakomodasi. “Antusiasme peserta sangat tinggi, masih banyak yang ingin daftar lewat aplikasi. Ke depan kami usulkan bisa dibuat dua hari, satu hari khusus lokal, hari kedua bisa skala nasional,” katanya.

Festival ini berawal dari tradisi masyarakat Ponorogo yang kerap menerbangkan balon udara saat Lebaran. Namun, kegiatan tersebut kerap dilakukan secara liar dan berpotensi membahayakan. “Ini berawal dari kebiasaan masyarakat saat Lebaran menerbangkan balon udara tanpa awak. Kemudian Kapolres berinisiatif berkomunikasi dengan dinas terkait untuk mewadahi hobi ini,” jelasnya.

Dengan adanya wadah resmi, diharapkan penerbangan balon liar dapat ditekan karena berisiko mengganggu keselamatan penerbangan hingga memicu kebakaran. “Kalau balon liar ini bisa membahayakan penerbangan, jaringan listrik PLN, bahkan bisa menyebabkan kebakaran jika jatuh ke rumah, seperti yang pernah terjadi sebelumnya,” tegasnya.

Konsep festival ini serupa dengan program penertiban balap liar yang sebelumnya dilakukan kepolisian. “Hampir sama dengan konsep KPDP, setelah kita wadahi harapannya balapan liar bisa berkurang. Dengan festival ini, balon udara liar juga bisa diminimalisir,” pungkasnya.

Ke depan, pihaknya berharap festival balon udara ini bisa menjadi agenda rutin setiap perayaan Idul Fitri di Ponorogo.

Festival ini tidak hanya menampilkan keindahan balon, tetapi juga menjadi upaya pengendalian kegiatan liar yang berpotensi membahayakan. Dengan dukungan komunitas dan kepolisian, harapannya acara ini dapat berlanjut dan menjadi tradisi positif bagi daerah.

Ponorogofestival balon udaraReog Balon Carnivalbalon udara tanpa awakWonosobokeindahan balonpenertiban balapan liar

Komentar

Memuat komentar...