Fort Willem Buka Tamu, Narasi Belum Lengkap, Kunjungan Bingung
Gambar atau konten salah?
Setiap kali saya pulang mudik Lebaran, rute dari Bawen ke Magelang melewati Rawa Pening. Di sisi kanan jalan, sebuah bangunan tua peninggalan Belanda menonjol, tampak tidak terurus dan diselimuti tanaman liar. Saya selalu membayangkan mengunjunginya suatu hari.
Berita baiknya, pemerintah daerah telah menggelontorkan dana untuk merenovasi tempat itu. Bangunan ini kini sudah dibuka untuk umum sejak 31 Desember 2025. Nama obyek wisata ini adalah Fort Willem, benteng peninggalan Belanda yang terletak di Ambarawa.
Di mudik tahun 1 Januari 2026, saya menempatkan kunjungan ke Fort Willem di daftar keinginan. Saya datang saat kembali dari mudik, karena lokasi benteng searah dengan jalan pulang. Saat itu, area sudah sangat bersih dan parkir cukup luas.
Benteng ini berbentuk persegi dengan ekstensi pada setiap sudutnya. Bangunan utama terbuat dari bata dan plester, dindingnya dicat putih. Salah satu lantainya sudah dipugar; lantai satu berfungsi sebagai restoran, sementara lantai dua masih terbuka kosong. Banyak ruangan saling terhubung dengan pintu atas melengkung. Hanya sebagian kecil bangunan yang sudah dipugar; sisanya masih tua dan ditumbuhi rumput liar.
Meskipun banyak bangunan, fungsi masing-masing tidak jelas. Saya bertanya-tanya, mengapa Belanda membangun fort ini? Kapan dibangun? Atas perintah siapa? Sebagai turis, ekspektasi saya adalah mendapatkan informasi cukup memuaskan tentang sejarah dan cerita menarik. Namun, informasi di lokasi masih minim.
Kurangnya narasi atau storytelling menjadi masalah utama. Dengan biaya masuk 15 ribu untuk berkeliling dan 25 ribu kalau ingin masuk ke arena mobil antik, saya mengharapkan narasi layaknya museum modern. Namun, narasi apa yang akan dibangun bersama pameran mobil antik di benteng Belanda di belantara Jawa ini? Di loket tiket, poster bergambar Panglima Sudirman dan Pangerang Diponegoro menambah kebingungan. Apakah kedua tokoh ini memiliki hubungan dengan fort ini? Informasi ini tidak saya dapatkan saat berkeliling.
Di dalam benteng, restoran sepi dan deretan penjaja jajanan menampilkan dekor toko dengan barang-barang tua. Ada TV tua merek nasional, radio tape JVC, motor tua, dan lampion khas Tiongkok. Dekorasi ini tampak tidak berhubungan dengan sejarah benteng.
Menurut saya, ide merestorasi fort ini adalah langkah cemerlang. Restorasi bangunan adalah tahap pertama. Tahap selanjutnya adalah mengisi bangunan dengan memorabilia sejarah yang sesuai. Misalnya, menyediakan guide yang paham betul tentang sejarah fort ini dan cerita-cerita yang terjadi sepanjang bangunan ini berdiri.
Dalam kunjungan saya, tidak ada guide yang siap bercerita. Untuk membuatnya lebih menarik, perlu instalasi multimedia dan diorama interaktif agar pengunjung betah berlama-lama. Juga, siapkan spot foto dengan latar belakang sejarah, bukan spot berfoto dengan burung hantu.
Fort ini baru saja dipugar dan dibuka kurang dari satu tahun. Dibutuhkan waktu dan biaya untuk merenovasi dan mengisi konten Fort Willem, sehingga kunjungan wisatawan lebih terasa.
Kesimpulannya, Fort Willem telah dibuka sejak akhir tahun 2025, namun masih dalam tahap pertama restorasi. Tanpa narasi yang kuat, guide, dan instalasi interaktif, pengunjung tidak mendapatkan pengalaman yang memuaskan. Investasi lebih lanjut diperlukan agar benteng ini dapat menampilkan sejarahnya secara lengkap dan menarik bagi semua kalangan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Turis Australia Siram Pasangan China di Pulau Padar Viral
Arkeolog Temukan Kota Bizantium dan 'Lidah Emas' di Mesir
Perpustakaan Nyi Ageng Serang Kembali Dibuka, Diserbu Gen Z
Prancis Tetap Primadona Wisata Usai Kalah Piala Dunia
Hari Bastille 2026: Prancis Rayakan, Timnas Tersingkir
Perpustakaan Jakarta Kini Buka Lagi, Ada Vinyl dan Board Game
