Friendster Kembali: Aplikasi Bertouch untuk Persahabatan

Sinta R. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 48 dibaca
Bisik.id
Friendster Kembali: Aplikasi Bertouch untuk Persahabatan

Gambar atau konten salah?

Friendster muncul pada tahun 2002 sebagai salah satu media sosial terbesar di Indonesia. Di warnet, situs ini sering menjadi pilihan utama para pengguna, biasanya diakses bersamaan dengan tab YouTube. Banyak generasi milenial yang masih mengingat, “pasti kamu pernah punya atau setidaknya pernah lihat medsos yang satu ini.”

Seiring berjalannya waktu, Friendster mulai kehilangan daya tariknya. Facebook, dengan antarmuka yang lebih bersahabat bagi anak muda, mulai menggeser posisi Friendster di pasar. Pada 01 Januari 2015, domain Friendster tidak lagi dapat diakses dan layanan resmi dihentikan. Namun, pada 01 Oktober 2023, situs tersebut tiba‑tiba kembali online. Hanya saja, halaman tersebut dipenuhi dengan iklan pop‑up yang tampak lebih bertujuan menghasilkan pendapatan daripada menyediakan layanan sosial.

Di tengah kebingungan ini, Mike Carson, seorang programmer komputer dan pengusaha, menemukan ketertarikan pada domain Friendster. Ia menyelidiki siapa pemiliknya dan menemukan bahwa pemilik tersebut pernah bertukar email dengannya sebelumnya. Ketika Carson menghubungi pemiliknya dan menyatakan keinginannya membeli domain tersebut, pemilik mengungkapkan bahwa ia telah membelinya seharga USD 8.000.

Carson menegosiasikan pembelian domain Friendster.com dan akhirnya berhasil memperoleh situs itu dengan imbalan Bitcoin senilai USD 20.000 serta domain yang menghasilkan pendapatan iklan tahunan sekitar USD 9.000. Total biaya yang dikeluarkan Carson sekitar USD 30.000 atau setara Rp 517 jutaan.

Setelah proses panjang, pemilik sebelumnya memberi tahu Carson bahwa hak merek dagang Friendster akan segera berakhir. Carson kemudian berkonsultasi dengan pengacara dan, pada 13 Mei 2025, berhasil memperoleh hak merek dagang tersebut.

Di Selasa, 28 April 2026, Carson mengumumkan rencananya untuk menghidupkan kembali Friendster sebagai layanan jejaring sosial. Ia mengaku ingin menciptakan sesuatu yang positif, sesuatu yang akan dinikmati dan bermanfaat bagi orang-orang. “Saya merasa jejaring sosial telah mempromosikan aspek negatif di zaman modern, tetapi saya ingat Friendster sebagai pengalaman yang sangat positif dan menyenangkan (walaupun sangat membuat frustrasi ketika situsnya tidak mau memuat),” ujarnya.

Ide baru Carson adalah “mengetuk ponsel pintar Anda” sebagai satu‑satunya cara untuk berteman di Friendster. Artinya, untuk menambahkan seseorang sebagai teman, pengguna harus berada sangat dekat di dunia nyata dan saling mengetuk ponsel pintar masing‑masing secara bersamaan. Ia percaya konsep ini akan mendorong orang untuk benar‑benar bertemu secara langsung, sehingga persahabatan lebih bermakna.

Carson segera mengembangkan aplikasi Friendster untuk iOS. Awalnya, aplikasi tersebut ditolak oleh App Store karena dianggap tidak memenuhi persyaratan “Fungsionalitas Minimum 4.2”. Tidak mau menyerah, Carson memodifikasi sistem sehingga siapa pun dapat mendaftar ke Friendster, namun tetap mempertahankan aturan bahwa penambahan teman memerlukan pertemuan tatap muka dan saling mengetuk. Setelah revisi, aplikasi tersebut akhirnya dirilis di App Store, memungkinkan pengguna mengunduhnya dari toko aplikasi Apple.

Carson menekankan bahwa ia tidak fokus pada monetisasi awal. Ia berharap aplikasi ini dapat menutupi biaya operasionalnya. Di masa depan, ada kemungkinan meluncurkan paket berbayar yang menawarkan fitur premium. Carson menyoroti dua poin utama yang membedakan Friendster dari layanan jejaring sosial lainnya:

  • Teman dari teman – Pengguna dapat melihat teman dari teman mereka yang sudah ada dan mengirimkan permintaan pesan kepada mereka. Tujuannya adalah “menciptakan peluang bagi orang‑orang untuk bertemu secara langsung,” dan menambahkan seseorang sebagai teman memerlukan pertemuan di kehidupan nyata.
  • Melemahnya koneksi – Jika dua pengguna yang berteman di Friendster tidak saling menyentuh ponsel mereka dalam jarak dekat bahkan sekali dalam setahun, koneksi mereka di aplikasi akan melemah. “Ini bukan hukuman. Ini adalah sinyal lembut bahwa persahabatan sejati harus dipupuk secara langsung, bukan online,” kata Carson.

Dengan pendekatan yang menekankan interaksi fisik, Friendster mencoba mengembalikan nilai asli jejaring sosial yang dulu dimiliki. Meskipun masih dalam tahap awal, inisiatif ini menandai upaya baru untuk menggabungkan teknologi dengan hubungan manusia secara langsung.

FriendsterMike Carsonjaringan sosialponsel pintardomainhak merek daganginteraksi fisik

Komentar

Memuat komentar...