Fulviana Ramadlonia Agung Putri Jadi Wisudawan Termuda UGM

Lina F. · 2 min baca · 1 jam lalu · 26 dibaca
Bisik.id
Fulviana Ramadlonia Agung Putri Jadi Wisudawan Termuda UGM

Gambar atau konten salah?

Fulviana Ramadlonia Agung Putri adalah mahasiswi yang baru saja meraih gelar wisudawan termuda di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK‑KMK UGM). Pada 20 tahun 4 bulan 27 hari, ia menamatkan studi S1 Kedokteran UGM.

Perhitungan usia rata‑rata 1.644 lulusan program S1 UGM yang diwisuda pada 21 Mei 2026 menunjukkan bahwa wisudawan rata‑rata berusia 22 tahun 6 bulan 15 hari. Dengan usia 20 tahun 4 bulan 27 hari, Fulviana menjadi yang termuda.

Anak ketiga dari empat bersaudara, ia memulai pendidikan dasar pada usia 5 tahun 8 bulan. Setelah lulus SD, ia mengikuti program akselerasi dan menamatkan SMP dalam 2 tahun. Kecepatan belajar ini menandai awal perjalanan akademiknya.

Usia 16 tahun 8 bulan menandai penerimaan Fulviana di FK UGM. Menjalani studi di usia muda menimbulkan tantangan adaptasi, tekanan akademik, dan kebutuhan untuk tetap “waras” di tengah jadwal padat. Semua usaha tersebut akhirnya membuahkan gelar wisudawan termuda.

“Sebenarnya, di awal kuliah saya sempat merasa tertekan karena harus terus belajar dan menjaga konsistensi. Tapi, dengan capaian ini, saya tentu merasa sangat senang, bangga, dan bersyukur. Jujur, saya tidak menyangka akan menjadi lulusan termuda,” ungkapnya, dikutip dari laman resmi UGM, Jumat (5 Juni 2026).

Menurut Fulviana, kunci agar studinya berjalan lancar adalah memahami diri sendiri. Proses adaptasi menjadi tantangan terbesar. Ia menyadari bahwa meski masih muda, ia memiliki keinginan besar menikmati masa remaja, namun programnya menuntut jadwal padat dan ritme belajar konsisten.

“Di usiaku yang masih muda ini, aku masih ada keinginan buat bermain atau menikmati masa remaja seperti teman-teman lain. Tekanan akademik saat aku menempuh studi juga cukup berat bagiku. Tapi, seiring berjalannya waktu, aku belajar untuk menyesuaikan diri dan menjadikan tekanan tersebut sebagai motivasi untuk terus berkembang,” ceritanya.

Dengan semakin memahami dirinya, Fulviana menemukan metode belajar yang cocok. Ia belajar kapan harus fokus dan kapan harus beristirahat agar tidak kelelahan fisik, emosional, dan mental akibat stres atau burnout.

“Bagiku, tidak harus selalu belajar terlalu lama, tapi bagaimana bisa disiplin dan menjaga ritme belajar dengan baik,” imbuhnya.

Walaupun menempuh pendidikan di antara teman-teman yang lebih tua, Fulviana tidak merasa tertinggal. Ia memilih belajar banyak dari teman-teman, baik dalam hal akademik maupun cara menghadapi tekanan. Ia juga bersyukur atas dukungan orang tua, teman, dan pihak lain yang menemani selama studi.

“Menurutku, ini semua bukan tentang usia atau menjadi wisudawan termuda, tapi juga hasil dari proses panjang dengan dukungan hangat dari banyak orang,” kata Fulviana lagi.

Setelah resmi diwisuda, ia berencana melanjutkan ke profesi dokter. Ia berharap menjadi dokter yang kompeten secara ilmu dan memiliki empati tinggi terhadap pasien.

“Aku berharap bisa jadi dokter yang kompeten ilmunya dan bisa memberikan empati serta pelayanan terbaik bagi pasien,” jelasnya.

Fulviana juga mengajak rekan seusianya untuk tidak takut mengejar cita‑cita. Ia menekankan pentingnya mencoba dan tidak membatasi diri karena usia atau kurang percaya diri.

Kesempatan ini menegaskan bahwa usia bukan penghalang, melainkan motivasi untuk terus belajar dan berkembang. Dengan dukungan dan tekad, masa depan di bidang kedokteran terbuka lebar bagi yang berani bermimpi.

Fulviana Ramadlonia Agung Putriwisudawan termudaUGMFakultas Kedokteranprogram akselerasituntutan akademikdokter kompeten

Komentar

Memuat komentar...