Gadai Emas di Pegadaian Bima Naik 21,65% Pasca Lebaran
Gambar atau konten salah?
Setelah Idul Fitri 1447 H, masyarakat mulai menata ulang keuangan mereka. Kebutuhan yang meningkat selama Ramadan dan Lebaran menuntut solusi likuiditas cepat. Di tengah fase ini, pemanfaatan aset—terutama emas—menjadi pilihan utama untuk mendapatkan dana tanpa harus menjualnya.
PT Pegadaian Cabang Bima mencatat lonjakan transaksi gadai di wilayah Kota dan Kabupaten Bima. Peningkatan paling menonjol terlihat di unit layanan Pegadaian UPC Ambalawi. Data internal hingga akhir April 2026 menunjukkan transaksi gadai naik dibandingkan periode sebelum Lebaran. Mayoritas transaksi tersebut berasal dari gadai emas perhiasan yang dipakai untuk biaya pendidikan, modal usaha, dan kebutuhan rumah tangga.
Mustofa, Deputy Bisnis Area Pegadaian Bima dan Pegadaian Sumbawa, menjelaskan tren ini. “Pasca Lebaran, kebutuhan likuiditas masyarakat cenderung meningkat. Namun yang menarik, masyarakat kini lebih memilih menggadaikan emas dibandingkan menjualnya terutama di Pegadaian UPC Ambalawi. Ini menunjukkan kesadaran bahwa emas tetap dipertahankan sebagai aset jangka panjang,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat 24 April 2026.
Menurut Mustofa, Pegadaian UPC Ambalawi tumbuh sebesar 21,65% secara Year to Date. Sedangkan secara Area, Pegadaian Bima dan Pulau Sumbawa tumbuh sebesar 23,68%. “Pegadaian UPC Ambalawi mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan sebesar 21,65% secara Year to Date. Sedangkan secara Area, Pegadaian Bima dan Pulau Sumbawa sendiri tumbuh sebesar 23,68%,” sambungnya.
Untuk memfasilitasi kebutuhan dana cepat, Pegadaian menawarkan produk gadai dengan proses cepat, aman, dan transparan. Salah satu daya tarik utama adalah program Gadai Bebas Bunga yang diperpanjang hingga akhir April 2026. Program ini memungkinkan nasabah memperoleh pinjaman dengan biaya sewa modal 0%, sehingga beban finansial menjadi lebih ringan di masa pemulihan keuangan pasca Lebaran. Mustofa menambahkan, “Program ini kami hadirkan untuk membantu masyarakat menjaga stabilitas keuangan tanpa harus kehilangan aset berharganya. Emas tetap aman, kebutuhan tetap terpenuhi.”
Ediy Purwanto, Pemimpin Wilayah Kanwil VII Denpasar, juga mengamati peningkatan signifikan di NTB, khususnya Kota dan Kabupaten Bima. “Kami melihat adanya peningkatan transaksi gadai yang cukup tinggi pasca Lebaran, terutama di Pegadaian Cabang Bima dan unit-unit layanan seperti Pegadaian UPC Ambalawi. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin memahami fungsi gadai sebagai solusi keuangan yang bijak dan terencana,” tutur Edy.
Dengan tren tersebut, PT Pegadaian optimistis bahwa pemanfaatan gadai akan terus berkembang. Gadai tidak hanya menjadi solusi darurat, tetapi juga bagian dari strategi pengelolaan keuangan yang sehat dan berkelanjutan. Perubahan perilaku masyarakat ini menandai pergeseran cara pandang terhadap emas, dari sekadar investasi menjadi aset likuid yang dapat dimanfaatkan secara fleksibel saat dibutuhkan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Nasabah Maybank: Reksa Dana Jatuh Tempo 2023 Belum Cair
IHSG Sentuh 6.300, Saham Konglomerat Jadi Motor
China Beri Peringkat Utang Tertinggi ke Indonesia
Sandwich Generation: 82,96% Rumah Tangga Masih Bergantung pada Lansia
Bank Mandiri Perkuat Keamanan Siber Digital
Menkeu Bantah Rumor S&P Turunkan Peringkat Indonesia
