Galeri Prabangkara Sambut Pameran Seni Jaman Semono Gratis

Vera T. · 3 min baca · 28 hari lalu · 43 dibaca
Bisik.id
Galeri Prabangkara Sambut Pameran Seni Jaman Semono Gratis

Gambar atau konten salah?

03 Mei 2026 – 10 Mei 2026 di Galeri Prabangkara lantai dua, Surabaya, berlangsung pameran seni rupa bertajuk Jaman Semono. 15 seniman dari kelompok perupa Yang Ada menampilkan sekitar 25 karya yang mengangkat tema nostalgia, kritik sosial, hingga refleksi diri. Pameran ini terbuka untuk umum dan dapat dikunjungi secara gratis setiap hari pukul 11.00 WIB sampai 17.00 WIB.

Nama tema Jaman Semono dipilih sebagai wadah untuk mengangkat ingatan masa lalu sekaligus menjadi ajang silaturahmi para perupa yang merupakan alumni Seni Rupa Universitas PGRI Adi Buana (Unipa) Surabaya.

Salah satu seniman, Nyoman Putra, menyebut pameran ini menjadi ruang bebas bagi para perupa untuk mengekspresikan gagasan mereka. “Ini yang kami sajikan adalah kebersamaan, karena setiap tahun kami selalu kumpul bikin pameran. Ini sudah 9 tahun kalau nggak salah kami kumpul ini,” ujar Nyoman kepada detikJatim, Rabu (6/5/2026).

Seniman lainnya, Agung Budi, menambahkan bahwa tema yang diangkat juga menjadi sarana mengenang masa kuliah. “Temanya untuk mengenang kembali, flashback teman-teman dulu waktu kuliah, sekaligus untuk menjaga silaturahmi sesama alumni seni rupa,” tuturnya.

Beragam karya ditampilkan dalam pameran tersebut dengan gaya dan pesan yang berbeda. Salah satunya karya Agung berjudul Do Not Cross Police Line yang menggambarkan tumpukan sampah kaleng dengan garis polisi sebagai simbol. “Sampah itu kan banyak, ini bahasa simbol aja. Kita harus perhatian tentang sampah, tentang kelanjutan bumi kita,” jelasnya.

Karya tersebut juga memunculkan beragam tafsir dari pengunjung. Yoni, mahasiswi Seni Rupa PGRI Adi Buana, menilai karya itu memiliki makna mendalam. “Yang Do Not Cross Police Line ini deep sih maknanya. Di dalam hidup ini memang selalu ada sampah, tidak hanya sampah makanan tapi juga pikiran. Makanya kita harus menyaring supaya nggak banyak sampah,” bebernya.

Karya perupa lain, Nyoman lebih menyoroti tentang bagaimana ia merasakan ketulusan di dalam kehidupannya. Ada empat kanvas berbeda yang dicorat-coret Nyoman menjadi suatu refleksi diri tentang emosi yang bebas dan pengendalian diri. “Warna merah, oranye, kuning itu kan warna panas, emosional dan sebagainya. Tetapi saya tidak ingin emosi saya ini meletup-letup. Jadi saya akan membelenggu dia, saya kendalikan dengan ikatan-ikatan ini. Warna abu-abu melambangkan ketenangan,” urai Nyoman.

Selama pameran berlangsung, pengunjung datang silih berganti di ruang Galeri Prabangkara. Tak hanya dari kalangan seniman dan mahasiswa seni, sejumlah pelajar hingga masyarakat umum juga tampak singgah untuk menikmati karya-karya yang dipamerkan.

Pameran ini sempat menarik perhatian pengunjung mancanegara. Sepasang wisatawan asal Australia yang tengah berkunjung ke kawasan UPT Taman Budaya Jawa Timur turut mampir dan menikmati karya-karya yang dipamerkan pada Senin (4/6/2026).

Bagi para perupa, antusiasme pengunjung menjadi ruang pertemuan yang penting antara karya dan penikmatnya. Sebab, tiap lukisan tak hanya berhenti sebagai medium ekspresi, tetapi juga membuka kemungkinan tafsir yang berbeda dari setiap orang yang datang melihat.

Pameran Jaman Semono juga menjadi bagian dari rangkaian Pekan Seni Rupa 2026 yang digelar sepanjang Mei di Surabaya. Kehadirannya ikut meramaikan agenda tahunan seni rupa di Jawa Timur.

Dengan menampilkan karya 15 seniman beragam tema, pameran ini tidak hanya memperkaya ruang seni lokal, tetapi juga menambah warna dalam Pekan Seni Rupa 2026, mengundang pengunjung lokal dan mancanegara untuk berinteraksi dengan ekspresi visual yang mengajak refleksi sosial dan pribadi.

Pameran Seni RupaGaleri PrabangkaraJaman SemonoSampahRefleksi DiriPekan Seni Rupa 2026

Komentar

Memuat komentar...