Gang Malaka Rawajati: Jejak Tan Malaka di Tengah Jakarta.
Gambar atau konten salah?
Di tengah kompleks perumahan dan pusat perbelanjaan di Rawajati, Jakarta Selatan, tersembunyi sebuah gang sempit yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah bangsa. Gang Malaka, yang terletak tepat di belakang Plaza Kalibata saat ini, pernah menjadi tempat persembunyian salah satu bapak pendiri bangsa, Tan Malaka.
Pada hari Rabu, 01 April 2026, Endang Teguh Pramono—yang akrab dipanggil Pampam—sebagai pemandu wisata jalan kaki dari Step Into Jakarta, membawa rombongan tur kembali ke era 1940-an. Mereka menelusuri jejak pelarian sang revolusioner di gang yang kini dikenal sebagai Gang Malaka.
“Kita kenal sebagai sebuah gang di mana waktu itu salah satu bapak pendiri bangsa bersembunyi di sini, di sebuah rumah kontrakan, jadi bagian kos‑kosan,” ujar Pampam kepada rombongan tur.
Tan Malaka, yang menjadi sasaran utama intelijen dari berbagai negara, dikenal sebagai ahli menyamar. Ia bersembunyi di kawasan Cililitan—yang kini dikenal sebagai Rawajati—mulai 15 Juli 1942 hingga pertengahan 1943. Di sana, ia hidup bersatu dengan warga sekitar.
“Dia menyembunyikan diri dengan nama Iljas Hussein,” kata Pampam. Iljas Hussein hanyalah salah satu dari belasan nama samaran yang ia gunakan. Menurut beberapa buku, Tan Malaka memiliki 23 nama samaran untuk bertahan hidup dan terus bergerak.
- Elias Fuentes
- Hasan Gozali
- Ossorio
- Legas Hussein
- Abdul Rojak
- Eliseo Rivera
- Howard Law
- Cheng Kun Tat
Di bawah identitas palsu ini, Iljas Hussein—yang dikenal sebagai “Bapak Bangsa”—menyambung hidup sambil merajut gagasan kemerdekaan. Di tempat persembunyian ini lahirlah karya legendarisnya: Madilog.
Buku Madilog ditulis selama kurang lebih 8 bulan, mulai 15 Juli 1942 hingga 30 Maret 1943. Tan Malaka menghabiskan waktu 720 jam, atau sekitar 3 jam sehari, untuk menyelesaikan mahakaryanya di tengah keterbatasan.
Proses penulisan ini tidak tanpa hambatan. Tan Malaka sempat kehabisan uang, sehingga memaksanya menunda penulisan buku lain berjudul Gabungan Aslia. Nyawanya pun selalu berada di ujung tanduk. Polisi Jepang (Junsa) pada waktu itu sempat dua kali datang memeriksa dan menggeledah pondok tempatnya tinggal.
Beruntung, naskah Madilog selamat dari penyitaan. “Lantaran huruf Madilog dan Gabungan Aslia terlampau kecil dan ditaruh di tempat yang tidak menarik perhatian sama sekali,” tulis catatan sejarah tersebut.
“Madilog” adalah singkatan dari Materialisme, Dialektika, dan Logika. Buku ini bukan sekadar catatan filosofis, melainkan sebuah “senjata mental” yang disiapkan untuk bangsa Indonesia.
“Beliau merasa prihatin bahwa masyarakat kita waktu itu banyak yang masih percaya klenik‑klenik, jimat, dan nasib yang pasrah, atau logika mistik,” kata Pampam. Melalui Madilog, Tan Malaka ingin mencuci otak bangsa Indonesia agar beralih ke cara berpikir ilmiah.
“Dia mengajarkan kalau kita ingin merdeka, harus melihat fakta (Materialisme), melihat sesuatu yang berubah (Dialektika), dan menggunakan akal sehat (Logika) supaya Indonesia tidak mudah dibodohi oleh penjajah dan takhayul,” kata Pampam.
Jejak pelarian dan pergolakan pemikiran itu kini abadi di tengah pemukiman warga. Untuk mengenang sang tokoh, masyarakat setempat mengabadikan kawasan tersebut dengan nama Gang Malaka I dan Gang Malaka II. Sebuah penanda kecil bahwa di gang sempit inilah, nalar kemerdekaan bangsa Indonesia pernah ditempa dengan begitu hebatnya.
Dengan menelusuri gang yang dulunya menjadi tempat persembunyian Tan Malaka, kita menyadari bahwa sejarah tidak hanya terpatri di buku, tetapi juga di jalanan yang masih menyimpan kisah perjuangan. Gang Malaka menjadi saksi bisu bahwa perjuangan ide dan gagasan dapat bertahan, bahkan ketika tubuh dan materi terancam. Di tengah kehidupan modern, tempat ini tetap menjadi pengingat akan tekad dan strategi yang digunakan para pejuang untuk menuntut kemerdekaan melalui pemikiran kritis dan logis.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Porong Lama: Keramaian Mati Akibat Lumpur Lapindo Sidoarjo
Konflik Gebby Vesta & Sopir Taksi Di Bali Berakhir Damai
Ayo ke Taman Nasional Luncurkan Aplikasi E‑Ticketing 93%
Bandung Minta Status Darurat Sampah, Proses Belum Disetujui
Indofest 2026: 80 Brand Outdoor di JCC, Target Rp60 Miliar
Gamelan Bali dan Tarian Tampil di Pagi SF Indo Cita
Berita Terbaru
Cuaca Berawan di Bandung 05 Juni 2026, Suhu 17‑30°C
Zodiak Gemini 5 Juni 2026: Energi Cinta & Karier Seimbang
Zodiak Aries: Energi Positif di Tanggal 5 Juni 2026
Zodiak Cancer 5 Juni 2026: Peluang Cinta dan Karir
Zodiak Virgo 5 Juni 2026: Hari Perubahan Kecil, Penuhi Potensi
Zodiak Leo 5 Juni 2026: Energi, Hubungan, Karier & Kesehatan
Zodiak Libra 5 Juni 2026: Panduan Harian dan Keberuntungan
Zodiak Taurus 5 Juni 2026: Rasa Aman, Keingintahuan & Peluang Baru
Zodiak Scorpio 5 Juni 2026: Energi Unik Hari Ini, Panduan Harian
Zodiak Sagittarius 5 Juni 2026: Prediksi Harian dan Energi Positif
