Garuda Tembus ARA, Harga Saham Naik 21,9% di Bursa Pasar

Fandi R. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 43 dibaca
Bisik.id
Garuda Tembus ARA, Harga Saham Naik 21,9% di Bursa Pasar

Gambar atau konten salah?

Garuda Indonesia mencatat kenaikan signifikan pada pembukaan pasar sahamnya, menembus hampir batas Auto Reject Atas (ARA) pada 26 Maret 2024. Pada pukul 09.35 WIB, data perdagangan menunjukkan saham perusahaan naik 21,92 % mencapai Rp 89 per lembar. Di awal sesi, harga sempat mencapai Rp 96 per lembar.

Volume perdagangan mencapai 769,84 juta lembar dengan nilai transaksi Rp 71,80 miliar. Frekuensi perdagangan tercatat 18 510 kali sejak pembukaan. Garuda Indonesia kini keluar dari Full Call Auction (FCA), papan pemantauan khusus yang sebelumnya dipakai karena ekuitas negatif pada laporan keuangan terakhir.

Menurut laporan keuangan tahun 2025, total ekuitas perusahaan sebesar US$ 91,91 juta atau sekitar Rp 1,5 triliun hingga akhir Desember 2025. Namun, perusahaan mencatat kerugian bersih US$ 319,39 juta atau Rp 5,39 triliun sepanjang tahun 2025, meningkat dibandingkan kerugian US$ 69,77 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pendapatan usaha Garuda Indonesia pada tahun 2025 mencapai US$ 3,21 miliar atau Rp 54,22 triliun, turun dari US$ 3,41 miliar atau Rp 57,60 triliun pada tahun 2024. Pendapatan berkat penerbangan berjadwal sebesar US$ 2,14 miliar, penerbangan tidak berjadwal US$ 340,87 juta, dan pendapatan lain-lain US$ 361,05 juta.

Pengeluaran usaha total tercatat US$ 3,10 miliar pada tahun 2025. Beban operasional penerbangan memegang peranan dominan, mencapai US$ 1,54 miliar. Beban pemeliharaan dan perbaikan sebesar US$ 661,36 juta, sedangkan beban kendaraan dan pelayanan penumpang masing-masing US$ 249,14 juta dan US$ 216,35 juta.

Penghentian status FCA menandai perubahan signifikan dalam likuiditas saham Garuda. Meskipun harga saham meningkat tajam pada pembukaan, kerugian bersih yang meluas menunjukkan tekanan finansial yang masih harus diatasi. Kinerja pendapatan dan beban yang terperinci memberi gambaran tentang struktur biaya dan pendapatan, menyoroti ketergantungan pada penerbangan berjadwal dan tantangan dalam mengelola biaya operasional.

Garuda Indonesiasahamkenaikankerugian bersihpenerbangan berjadwalFull Call Auctionbiaya operasionalekuitas negatif

Komentar

Memuat komentar...