Gelombang Tabak Pantai Monggalan, Abrasi Parah, Minta Tanggul

Bambang W. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 98 dibaca
Bisik.id
Gelombang Tabak Pantai Monggalan, Abrasi Parah, Minta Tanggul

Gambar atau konten salah?

Di pesisir Pantai Monggalan, Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung, Bali, gelombang tinggi menabrak pantai selama tiga hari berturut‑turut. Akibatnya, abrasi semakin parah, pohon besar tumbang, dan rumah warga yang masih ada di lokasi terendam air.

Ketut Candra Arsadi, 58 tahun, tinggal di tepi pantai. Ia mengatakan ombak tinggi terjadi sejak 16‑18 Mei 2026, dengan gelombang terbesar pada 18 Mei 2026. "Yang terbesar kemarin ini. Air masuk, pohon besar di pinggir pantai tumbang. Malamnya kami mengungsi. Paginya baru kembali ke sini," teriak Candra.

Rumah Candra terletak di lahan pesisir seluas 10 are, menjadi rumah paling tepi yang masih bertahan. Ia menjelaskan bahwa abrasi, yang sudah mengikis garis pantai sejak 2024, kini semakin meluas. Menurut perkiraannya, pengikisan pantai pada tahun ini sudah mencapai sekitar 100 meter.

“Sudah banyak rumah yang rusak dan dimakan abrasi. Semoga segera ada pemasangan tanggul agar tidak meluas,” harap Candra. Ia berharap pemerintah segera membangun tanggul untuk mencegah abrasi semakin meluas, karena jika kondisi itu terus dibiarkan, ia dan warga lainnya terancam harus meninggalkan kawasan tersebut.

Desak Nyoman Suarniti, 56 tahun, juga merasakan dampak. Warung miliknya di pinggir pantai terpaksa tutup dan belum bisa kembali beroperasi. “Warung saya ini jadinya tidak bisa buka lagi. Ini satu‑satunya mata pencaharian saya,” tuturnya.

Pengamatan di lokasi menunjukkan ombak besar masih menyapu pesisir. Suasana pantai tampak sepi, berbeda dengan beberapa pekan lalu ketika aktivitas pengiriman barang ke Nusa Penida masih ramai. Sebuah pohon besar yang sebelumnya membantu menahan gelombang juga telah tumbang, berada di antara puing‑puing bangunan akibat terjangan ombak besar pada 2025.

Bupati Klungkung, I Made Satria, menyatakan bahwa penanganan Pantai Banjar Nyuh di Nusa Penida dan Pantai Monggalan di Kusamba menjadi prioritas utama pemerintah daerah. Dari sejumlah titik abrasi di pesisir Klungkung, dua lokasi tersebut menjadi yang paling parah.

Menurut Satria, langkah yang dilakukan tahun ini adalah meminta bantuan kepada pemerintah pusat. Ia mengaku telah mengajukan proposal perbaikan dan mitigasi bencana secara langsung ke Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PU. “Jadi kami telah memaparkan langsung kondisi Banjar Nyuh dan Monggalan ke pemerintah pusat. Sebernanya ada banyak yang terkikis abrasi, terlebih di Nusa Penida, tapi dua ini yang terparah. Di Monggalan sudah ada 12 KK yang rumahnya rusak. Di Banjar Nyuh sampai sudah mengikis habis sepadang jalan,” terang Satria.

Peristiwa ini menyoroti betapa rapuhnya garis pantai di Klungkung. Gelombang tinggi, abrasi, dan hilangnya infrastruktur membuat warga terpaksa mencari solusi. Pemerintah daerah dan pusat masih menunggu langkah konkret, sementara warga berharap segera ada tanggul yang dapat menahan laju abrasi.

Pantai MonggalanGelombang TinggiAbrasiTanggulKlungkungNusa PenidaSumber Daya Air

Komentar

Memuat komentar...