Gempa 7,6 di Bitung: 190 Rumah Rusak, 355 Pengungsi

Dwi H. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 56 dibaca
Bisik.id
Gempa 7,6 di Bitung: 190 Rumah Rusak, 355 Pengungsi

Gambar atau konten salah?

Gempa besar berkekuatan magnitudo 7,6 mengguncang kota Bitung di Sulawesi Utara pada 2 Januari 2024 pagi. Guncangan kuat ini dirasakan tidak hanya di Sulawesi Utara, tetapi juga di provinsi Maluku Utara.

Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), 190 rumah di kedua provinsi tersebut mengalami kerusakan. Sebanyak 355 jiwa terpaksa mengungsi karena kerusakan bangunan dan ketidakpastian gempa.

Selama periode hingga 3 April 2024 pukul 11.55 WIB, BMKG mencatat 484 kali gempa susulan yang terjadi di wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara. Gempa susulan terbesar memiliki magnitudo 5,8, sedangkan yang terkecil hanya 1,7. Hasil pemodelan BMKG menegaskan bahwa rangkaian gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

Gempa bumi terjadi ketika energi yang tersimpan di dalam Bumi dilepaskan secara tiba‑tiba. Energi ini berasal dari gerakan lempeng‑lempeng tektonik yang bergerak perlahan di atas lapisan astenosfer. Ketika lempeng‑lempeng ini menekan satu sama lain, tekanan menumpuk. Saat batuan tidak lagi mampu menahan tekanan, energi dilepaskan dan menghasilkan getaran yang menyebar ke seluruh permukaan.

Lempeng‑lempeng tektonik terbagi menjadi beberapa jenis gerakan: saling menjauhi, saling mendekati, atau saling bergeser. Gerakan ini terjadi secara bertahap, hanya beberapa sentimeter per tahun, sehingga manusia tidak merasakannya sampai energi dilepaskan secara mendadak.

Ketika dua lempeng bersentuhan, mereka dapat terkunci dan menahan tekanan lama. Akhirnya, ketika batuan tidak lagi mampu menahan, energi dilepaskan dan gempa bumi terjadi. Getaran ini dirasakan di permukaan Bumi, dan seringkali diikuti oleh rangkaian gempa susulan.

Gempa susulan, atau aftershock, adalah gempa yang lebih kecil daripada gempa utama. Mereka biasanya terjadi di sekitar lokasi gempa utama atau di wilayah yang lebih jauh. Gempa susulan biasanya muncul dalam beberapa hari setelah gempa besar pertama.

Fenomena aftershock berlangsung dalam jarak sekitar satu hingga dua kali panjang patahan. Setelah aktivitas seismik kembali normal, rangkaian aftershock akan berhenti. Penyebab utama aftershock adalah penyesuaian kecil pada bagian patahan yang bergeser saat gempa besar. Batuan yang belum stabil terus bergerak hingga mencapai keseimbangan baru.

Frekuensi aftershock cenderung menurun seiring berjalannya waktu. Meskipun energi gempa susulan lebih kecil, mereka dapat terjadi berulang‑ulang hingga tekanan pada patahan benar-benar mereda. Pada beberapa kasus, aftershock dapat memiliki magnitudo lebih besar dari gempa utama, terutama jika gempa utama memicu pelepasan energi yang tertahan di bagian patahan lain.

Aftershock dapat terjadi di wilayah yang telah mengalami akumulasi energi maksimal. Selama energi belum dilepaskan sepenuhnya, rangkaian aftershock masih mungkin terjadi.

Gempa susulan tetap berbahaya karena tidak dapat diprediksi. Mereka dapat memiliki magnitudo besar, merusak bangunan, memicu tanah longsor, atau bahkan menyebabkan tsunami pada kondisi tertentu. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat di daerah rawan gempa untuk tetap waspada dan mengikuti petunjuk resmi dari BMKG.

Dalam konteks ini, gempa besar di Bitung menunjukkan betapa pentingnya pemantauan seismik dan kesiapsiagaan masyarakat. Meskipun gempa susulan biasanya lebih kecil, mereka tetap dapat menimbulkan risiko signifikan bagi infrastruktur dan keamanan publik. Mengingat jumlah rumah yang rusak dan orang yang mengungsi, upaya perbaikan dan rehabilitasi akan memerlukan waktu dan sumber daya yang cukup besar. Kesiapsiagaan berkelanjutan dan pemahaman tentang proses seismik dapat membantu meminimalkan dampak gempa di masa depan.

Gempa BitungMagnitudo 7,6BMKGAftershockSulawesi UtaraMaluku UtaraKerusakan rumahKesiapsiagaan

Komentar

Memuat komentar...