Gempa 7,6 Manado: RS Siloam Evakuasi Pasien Tanpa Korban
Gambar atau konten salah?
Manado, 02 April 2026 – Sebuah gempa bumi dengan M 7,6 mengguncang Sulawesi Utara dan menimbulkan kerusakan di RS Siloam Manado. Bangunan rumah sakit dilaporkan pecah hingga puing menimpa mobil yang sedang parkir.
Pasien rawat inap di lantai dua dan lima dievakuasi langsung ke lobi. Situasi di ruang perawatan menjadi mencekam, memicu kepanikan di antara pasien dan tenaga medis. Namun, semua pasien berhasil dievakuasi satu per satu, sehingga tidak ada korban jiwa.
“Pasien langsung dievakuasi ke lobi dan setelah itu tetap dilayani dengan baik,” kata Lisa Walandouw, Head Marketing RS Siloam Manado, kepada wartawan pada Kamis (02 April 2026).
Selama proses evakuasi, rumah sakit menyediakan makanan pagi bagi pasien. “Kami support dengan memberikan makanan pagi kepada para pasien, saat dievakuasi,” lanjut Lisa. Ia menegaskan bahwa suasana tetap kondusif dan layanan darurat tetap berjalan.
“Korban tidak ada, karena semua pasien dievakuasi satu per satu,” tegas Lisa.
Setelah gempa, pihak rumah sakit mulai mengatur kembali aktivitas pelayanan secara bertahap. Beberapa pasien yang sebelumnya dievakuasi kemudian dikembalikan ke ruang perawatan. “Secara bertahap pada jam 11 sudah naik kembali,” ungkap Lisa.
Di sisi infrastruktur, rumah sakit mengakui adanya kerusakan akibat gempa. Proses asesmen masih berlangsung untuk memastikan tingkat kerusakan bangunan secara menyeluruh. “Kerusakan bangunan ada, tapi masih dalam tahap asesmen untuk pendataan,” tambah Lisa.
BNPB meminta pemerintah daerah di kabupaten dan kota yang terdampak, baik Sulawesi Utara maupun Maluku Utara, menetapkan status tanggap darurat. “Mohon seluruh kabupaten kota yang terdampak ini bisa menetapkan status kedaruratan,” kata Letjen TNI Suharyanto, Kepala BNPB, saat rapat koordinasi daring pada Kamis (02 April 2026) sore.
Ia menegaskan bahwa status tanggap darurat tidak berkaitan dengan kemampuan seorang pemimpin daerah. “Status tanggap darurat tidak ada kaitannya dengan kemampuan seorang pemimpin daerah dalam menangani bencana. Kita sepakat kita tahu bahwa bencana itu sesuatu yang kejadian luar biasa, siapapun pejabat, sehebat apapun pemimpin, tentu saja tidak akan mengatasi secara sendirian,” jelasnya.
Dalam situasi darurat, koordinasi antara rumah sakit dan lembaga pemerintah menjadi kunci. Evakuasi yang terorganisir, penanganan medis cepat, dan penetapan status darurat membantu menurunkan risiko cedera dan memfasilitasi pemulihan infrastruktur.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Gempa 4,8 M di Manokwari, Papua Barat, Dirasakan MMI II‑III
Mortir Perang Dunia II Ditemukan di Jayapura, Papua, Risiko
Kementerian Agama Tetapkan 16 Juni 2026 sebagai Puasa 1 Muharram
Bom Incendiary Ditemukan dan Dimusnahkan di Sungai Ariyau, Jayapura
Khutbah Jumat Akhir Tahun: Refleksi dan Muhasabah 1447 H
Tanggal 04 Juni 2026 Dapat Dihitung 18 Dzulhijjah 1447 H
Berita Terbaru
Persaingan Tinggi pada UTBK Plus Unair 2026 Untuk Mahasiswa
Influencer Jakarta Viral Cosplay Disabilitas, Kontroversial
Prabowo Tekankan Standar 8 Potong Ayam MBG, Kumink Jelaskan
Gamelan Bali dan Tarian Tampil di Pagi SF Indo Cita
Wuling Eksion: SUV Plug‑In Hybrid dengan Empat Mode Energi
Indonesia vs Timor Leste: Duel AFF U-19 2026 Live Streaming
Fadia/Tiwi Raih Kemenangan di Perempatfinal Indonesia Open
Debat Tutup Program Studi: Wisnu vs Menteri Yuliarto
