Gempa M 7,6: Sulawesi Utara–Maluku Utara Guncang Tsunami Minor

Ratna D. · 3 min baca · 3 bulan lalu · 92 dibaca
Bisik.id
Gempa M 7,6: Sulawesi Utara–Maluku Utara Guncang Tsunami Minor

Gambar atau konten salah?

Gempa bumi dengan magnitudo M 7,6 mengguncang wilayah Sulawesi Utara hingga Maluku Utara pada Kamis, 02 April 2026 pukul 05.48 WIB. Gempa ini memiliki kedalaman 33 kilometer dan terjadi di koordinat 1,25°N – 126,27°E, sekitar 132 km barat laut Ternate.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa gempa ini merupakan gempa dangkal yang merusak akibat aktivitas deformasi kerak bumi, kemudian mekanismenya adalah pergerakan naik atau thrust fault. “Ini terjadi merupakan gempa dangkal yang merusak akibat aktivitas deformasi kerak bumi, kemudian mekanismenya adalah pergerakan naik atau thrust fault,” ujarnya dalam rapat daring di BNPB.

Menurut analisis BMKG, gempa ini berpotensi menimbulkan tsunami. Status siaga diumumkan di Ternate, Halmahera, Tidore, Bitung, dan sebagian Minahasa. Sementara Kepulauan Sangihe dan sekitarnya diberi kategori waspada tsunami. Peringatan dini tsunami dikeluarkan pada pukul 05.56 WIB.

Sejumlah wilayah di Sulawesi Utara dan Maluku Utara dilaporkan terkena tsunami minor. Gelombang mencapai ketinggian maksimal 0,75 meter dan terdampak di Halmahera Barat, Gita, Kedi, Bitung, Sitaro, Sidangoli, Minahasa Utara, Belang, dan Bumbulan. Faisal menegaskan bahwa meski gelombang tampak kecil, kondisi teluk dan pulau-pulau kecil di wilayah tersebut dapat memperbesar dampak. “Memang sebagian merasa 0,75 ini terlalu kecil, tapi hati-hati bahwa kondisi Maluku Utara, Sulawesi Utara dengan pulau-pulau kecilnya ada teluk dan sebagainya itu bisa amplifikasi hingga gelombang tsunami penjalarannya bisa melebihi dari estimasi,” jelasnya.

Peringatan dini tsunami dibatalkan pada pukul 09.56 WIB. Faisal menekankan pentingnya mengakhiri peringatan agar dapat dilakukan penyelamatan. “Kita akhiri (peringatan dini tsunami) di 09.56 WIB, harus diakhiri agar bisa dilakukan penyelamatan setelah itu,” ungkapnya.

Di Manado, gempa merusak gedung Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sario. Seorang wanita lanjut usia bernama Deyce Lahia, berusia 69 tahun, tewas tertimpa reruntuhan gedung. Humas Basarnas Sulawesi Utara, Nuriadin Gumeleng, menyatakan bahwa korban tertimpa reruntuhan saat berdagang di sekitar gedung. Jenazah korban dievakuasi ke Rumah Sakit Bayangkara Manado.

Di Kota Bitung, kantor Wali Kota dan BPBD Bitung mengalami kerusakan pada dinding akibat getaran. Kepala Pelaksana BPBD Bitung, Fivy Yurico Kadeke, melaporkan dua rumah warga dan Gereja GMIM Petra mengalami kerusakan. Gempa juga membuat air di beberapa pesisir pantai surut, dengan pengamatan di Pantai Girian Bawah dan Pantai Candi (Bitung Barat Dua) mencatat surut 7–10 meter dan 5 meter, masing-masing.

Rumah Sakit Siloam Manado juga merasakan dampak gempa. Beberapa pasien di ruang perawatan harus dievakuasi ke lobi rumah sakit. Head Marketing RS Siloam Manado, Lisa Walandouw, menegaskan tidak ada korban akibat gempa di RS dan pelayanan darurat tetap berjalan. Setelah situasi stabil, pasien kembali ke ruang perawatan secara bertahap.

Di Maluku Utara, gempa terasa kuat di Kota Ternate. Sebuah gereja di Kecamatan Pulau Batang Dua dan dua rumah di Kelurahan Ganbesi, Kecamatan Ternate Selatan mengalami kerusakan, namun tidak ada korban jiwa. BNPB melaporkan tsunami minor di Halmahera Barat dan Bitung, dengan ketinggian gelombang sekitar 0,3 meter di Halmahera Barat pukul 06.08 WIB dan 0,2 meter di Bitung pukul 06.15 WIB.

Menurut data sementara BNPB hingga Kamis, 02 April 2026 siang, tiga daerah di Sulawesi Utara terdampak: Manado, Bitung, dan Minahasa. Di Maluku Utara, Ternate menjadi satu daerah terdampak. Gempa menyebabkan satu orang meninggal di Manado dan satu orang luka ringan di Minahasa. Di Manado, lima kantor pemerintahan rusak, termasuk satu hotel dan satu fasilitas umum berupa gedung KONI. Di Minahasa, dua rumah rusak berat, sepuluh rumah rusak ringan, satu kantor pemerintah, dan satu fasilitas umum juga terdampak. Di Ternate, satu gereja dan dua unit rumah dilaporkan rusak.

Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, menekankan perlunya pendataan cepat dan akurat. Ia memohon semua kabupaten dan kota terdampak untuk menetapkan status tanggap darurat. Dengan status tersebut, pemerintah pusat dapat membantu pemda secara maksimal, karena setiap bantuan harus akuntabel secara administrasi keuangan. Suharyanto juga meminta tim asesmen untuk segera membentuk dan melakukan pendataan, agar tindak lanjut pascagempa dapat dimaksimalkan. Ia menambahkan, “Meskipun dilaporkan baru 1 yang dilaporkan meninggal dunia, tapi sekali lagi, mungkin ada korban lain yang perlu dicari, perlu ditemukan, perlu ditolong ini segera juga dibentuk tim pencarian dan pertolongan.”

Gempa ini menegaskan bahwa wilayah pesisir dengan teluk dan pulau-pulau kecil rentan terhadap amplifikasi gelombang tsunami, meski gelombang tampak kecil. Penanganan cepat, penetapan status darurat, dan koordinasi antara lembaga pusat dan daerah menjadi kunci dalam meminimalkan korban dan kerusakan. Dengan data yang masih dalam proses, situasi di wilayah terdampak tetap dinilai sangat dinamis, dan upaya pemulihan masih berlangsung.

Gempa bumiSulawesi UtaraMaluku UtaraBMKGtsunamiTernateBitungManado

Komentar

Memuat komentar...