Gen Z Lebih Mendalam: Google Search Kini AI di Indonesia

Dian P. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 72 dibaca
Bisik.id
Gen Z Lebih Mendalam: Google Search Kini AI di Indonesia

Gambar atau konten salah?

Gen Z masih mengandalkan Google Search untuk menemukan informasi, namun cara mereka menggunakan alat ini berbeda jauh dari generasi sebelumnya. AI menjadi faktor utama yang mengubah perilaku pencarian mereka.

Selama sesi online bertajuk “Gen Z and the Rise of AI-powered Search”, Sapna Chadha, Vice President Google Southeast Asia dan South Asia Frontier, menyatakan bahwa Gen Z adalah pengguna Google Search paling aktif di dunia. Menurut data, 89% Gen Z di Indonesia menggunakan pencarian ini setiap hari. Angka yang sama tercatat di Filipina, sementara Thailand mencatat 82%.

Gen Z tidak sekadar menggunakan Search. Mereka mendefinisikan ulang cara penggunaannya, mereka mencari lebih dalam, lebih panjang, lebih visual, dan lebih banyak menggunakan suara dibanding generasi mana pun sebelumnya,” ujar Chadha pada 23 April 2026.

Perbedaan terletak pada panjang kueri. Gen Z sering menggunakan kalimat yang tiga kali lebih panjang dan lebih spesifik. Sebelum, orang mungkin mengetik “kafe dekat sini”. Sekarang, mereka menambahkan detail seperti “kafe dekat sini untuk empat orang, ada sudut tenang, Wi‑Fi stabil, ramah hewan peliharaan, dan ada colokan listrik”.

Google menegaskan bahwa kecerdasan buatan adalah dampak terbesar. Model Gemini 3 menjadi fondasi semua produk Google, sehingga Google Search tidak hanya menampilkan tautan, melainkan memahami konteks, melakukan penalaran, dan menyajikan jawaban melalui percakapan alami. “Ini adalah pergeseran paling signifikan dalam sejarah Search. Kita meninggalkan era mengambil informasi dan memasuki era kecerdasan yang sesungguhnya,” tambah Chadha.

Di sela sesi, Chadha memperlihatkan Search Live, kemampuan mencari menggunakan kamera dan suara sekaligus tanpa mengetik. Dalam demo, seorang pengguna mengarahkan kamera ke sepatu di etalase mall dan langsung mendapat rekomendasi berdasarkan kondisi kaki datar, perbandingan harga, hingga pilihan warna yang tersedia. Kecerdasan buatan bahkan membantu pengguna tersebut membandingkan produk yang diinginkan dengan kompetitor.

Selain belanja, Gen Z memanfaatkan Search sebagai alat belajar. Chadha menjelaskan bahwa pelajar dapat bertanya berulang kali tanpa rasa canggung, mendapatkan penjelasan kontekstual, bahkan visualisasi interaktif untuk memahami konsep sains atau matematika. “Ini adalah pengubah permainan untuk kepercayaan diri siswa. Mereka bisa bertanya sebanyak yang mereka mau, kapan pun, tanpa rasa takut,” ungkapnya.

Gen Z juga menggunakan Search untuk verifikasi. Mereka menyaring hype media sosial, membandingkan harga, menelusuri asal usul tren, dan memastikan nilai suatu merek dengan keyakinan mereka. “Bagi mereka, Search adalah lapisan penyaring yang mengubah viralitas menjadi keputusan yang bisa dipercaya,” jelas Chadha.

Terakhir, Chadha memperkenalkan fitur Personal Intelligence dari Google, yang memungkinkan pencarian terhubung secara aman dengan aplikasi Google lain seperti Gmail, Drive, dan Photos. Fitur ini membuat hasil pencarian lebih personal. Catatan: fitur ini bersifat nonaktif secara bawaan, artinya hanya dapat diaktifkan atas pilihan pengguna.

Secara keseluruhan, generasi muda kini memanfaatkan pencarian online dengan cara yang lebih mendalam, terperinci, dan terintegrasi dengan teknologi AI, menjadikan Google Search lebih dari sekadar alat menemukan link, melainkan sumber pengetahuan yang interaktif dan kontekstual.

Gen ZGoogle SearchAIGemini 3Search Livepersonal intelligenceverifikasi

Komentar

Memuat komentar...