Gen Z Serba 'Zero Post': Akun Aktif Tanpa Unggah Sosial

Sari D. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 77 dibaca
Bisik.id
Gen Z Serba 'Zero Post': Akun Aktif Tanpa Unggah Sosial

Gambar atau konten salah?

Zero post adalah istilah yang menggambarkan akun media sosial yang tetap aktif namun tidak pernah mengunggah konten. Fenomena ini semakin populer di kalangan Gen Z, yang sering terlihat hanya scrolling tanpa menambahkan foto atau cerita.

"Fenomena 'zero post' menggambarkan akun yang tetap aktif, tapi tanpa unggahan. Ada yang hanya menjadi pengamat, bahkan ada yang sebelumnya aktif lalu memilih diam. Ini dipengaruhi kesibukan, kebutuhan validasi, sampai tekanan untuk tampil ideal di media sosial," ujarnya saat diwawancarai, Kamis (02 April 2026).

Menurut psikolog klinis Sairah, perilaku ini muncul karena kebutuhan akan validasi. Di dunia digital, orang sering menampilkan versi terbaik diri mereka untuk mendapatkan like, komentar, atau pengakuan. Namun, ketika dorongan ini berlebihan, bisa menimbulkan dampak negatif.

"Gen Z tumbuh di era digital, sehingga ada dorongan untuk tampil ideal demi mendapat like, komentar, atau pengakuan. Tapi ketika itu berlebihan, justru bisa berdampak negatif," jelasnya.

Selain itu, banyak yang merasa tidak nyaman membagikan kehidupan pribadi mereka di ruang publik. Untuk mengatasi hal ini, beberapa orang menggunakan dua akun: satu untuk diri asli dan satu lagi untuk citra ideal.

"Tidak semua hal ingin dibagikan. Ada juga yang menggunakan dua akun, satu untuk diri apa adanya dan satu lagi untuk citra ideal. Tapi ketika validasi itu justru memicu kecemasan, seseorang cenderung memilih tidak posting," tambahnya.

Kesadaran akan jejak digital, risiko oversharing, dan keamanan data membuat Gen Z semakin selektif dalam bersosialisasi online. Mereka lebih berhati-hati dalam memutuskan apa yang akan dibagikan.

Meski begitu, zero post tidak selalu berdampak buruk. Sairah menilai kebiasaan ini dapat membantu mengurangi tekanan untuk tampil sempurna, sekaligus menjaga keseimbangan antara kehidupan di dunia maya dan nyata.

"Secara psikologis, 'zero post' bisa mengurangi tekanan performatif, menjaga privasi, dan membuat relasi di dunia nyata lebih sehat," katanya.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa dampak negatif tetap bisa muncul jika tidak diimbangi dengan interaksi sosial yang sehat. Tanpa keseimbangan, seseorang dapat terus membandingkan diri dengan orang lain, merasa terisolasi, dan mengalami kecemasan.

"Kalau tidak seimbang, seseorang bisa terus membandingkan diri dengan orang lain, merasa terisolasi, hingga mengalami kecemasan. Apalagi jika hanya scrolling tanpa interaksi, itu berisiko terhadap kesehatan mental," ujarnya.

Fenomena ini dirasakan langsung oleh banyak anggota Gen Z. Andi, seorang mahasiswa, mengaku sering merasa terbebani saat ingin mengunggah sesuatu di media sosial.

"Aku ngerasa kalau mau posting harus sesuatu yang achievement. Tapi di sisi lain juga takut, takut orang nggak suka atau malah jadi boomerang buat diri sendiri," katanya.

Anggi, seorang pekerja, juga mengalami ketidakpercayaan diri saat membagikan aktivitas. Ia sering menghapus postingan sebelum 24 jam.

"Bahkan buat upload story aja aku mikir panjang. Sering juga udah upload, tapi sebelum 24 jam malah aku hapus lagi," ungkapnya.

Dengan semua pertimbangan psikologis dan sosial yang ada, zero post menjadi cara bagi sebagian orang untuk melindungi diri dari tekanan media sosial. Sementara bagi yang lain, fenomena ini dapat menjadi titik awal untuk menilai kembali cara berinteraksi di dunia maya.

zero postGen Zvalidasiprivasikesehatan mentaloversharingmedia sosial

Komentar

Memuat komentar...