Ghazali Juara Swift Challenge 2026, Aplikasi Pedagogi Privasi

Dani L. · 3 min baca · 18 hari lalu · 70 dibaca
Bisik.id
Ghazali Juara Swift Challenge 2026, Aplikasi Pedagogi Privasi

Gambar atau konten salah?

Ghazali Ahlam Jazali berusia 23 tahun, lulusan Ilmu Komputer dari Universitas Sanata Dharma di Klaten, Jawa Tengah, berhasil meraih gelar juara dalam Swift Student Challenge 2026 yang diadakan oleh Apple. Karya yang membuatnya menonjol bukan sekadar aplikasi biasa; ia menciptakan sebuah pengalaman interaktif yang membuka mata tentang metode pelacakan internet yang selama ini beroperasi secara diam-diam di balik layar.

Dengan judul They Have Your Fingerprint!, aplikasi playground tersebut menjadi salah satu karya terpilih dalam kompetisi bergengsi tahunan Apple. Prestasinya membawa Ghazali menerima undangan langsung dari Apple untuk menghadiri Worldwide Developers Conference (WWDC) 2026, yang akan digelar awal Juni 2026. Acara ini merupakan platform bagi Apple untuk memperkenalkan teknologi dan inovasi terbaru kepada para developer di seluruh dunia.

Ide di balik aplikasi ini muncul dari sebuah miskonsepsi umum di masyarakat: banyak orang mengira bahwa menghapus cookies sudah cukup untuk melindungi privasi mereka saat berselancar di internet. Padahal, ada teknik pelacakan yang jauh lebih canggih dan tidak ikut terhapus saat cookies dibersihkan. Salah satunya adalah canvas fingerprinting, metode yang mengidentifikasi pengguna melalui perbedaan halus dalam cara perangkat mereka merender font, warna, dan emoji.

“Tujuan saya adalah mengambil ancaman privasi yang tak kasat mata seperti canvas fingerprinting dan membuatnya terlihat, sehingga orang-orang benar-benar bisa memahaminya,” ujar Ghazali. Ia menambahkan bahwa persoalan privasi digital saat ini bukan lagi sekadar soal cookies. “Saya merasa isu metode tracking perlu lebih banyak dibahas karena sekarang opt-out itu sudah bukan lagi benar-benar pilihan. Dulu kita masih bisa mencegah website mengumpulkan data hanya dengan menghapus cookies. Tapi sekarang ada metode seperti canvas fingerprinting dan supercookies yang tetap bisa mengenali pengguna,” jelasnya.

Ghazali juga menyinggung tentang supercookies berbasis favicon, pelacak yang dapat mengenali pengguna bahkan setelah cookies dihapus karena datanya tersimpan di ikon kecil pada tab browser. Ia menegaskan, “Masalahnya bukan sekadar apakah kita sudah menghapus cookies atau belum. Pihak-pihak dengan niat buruk akan terus menemukan cara baru untuk melacak pengguna.”

Uniknya, aplikasi ini tidak menjelaskan ancaman dari sudut pandang korban. Sebaliknya, Ghazali menempatkan pengguna di posisi pelacak itu sendiri. Dalam sebuah minigame di dalam aplikasi, pengguna berperan sebagai pihak yang melakukan tracking—mencocokkan profil pengguna dengan canvas fingerprint yang tepat berdasarkan sebuah dossier. Konsep abstrak seperti spesifikasi hardware disajikan melalui tampilan dokumen yang familiar dalam kehidupan sehari‑hari: mulai dari name tag, paspor, boarding pass, hingga menu restoran.

“Saya menyederhanakannya menjadi mini‑game di mana pemain hanya perlu mencocokkan name tag dengan fingerprint. Menurut saya itu pendekatan yang paling mudah dipahami,” ujarnya. Ia menambahkan, “Pendekatan tersebut juga terinspirasi dari pengalaman belajar cybersecurity saat kuliah. Dalam pengalaman saya mengajar dan belajar, pendekatan seperti itu sering kali lebih efektif. Seperti saat kuliah cybersecurity—kami diajarkan berpikir seperti penyerang agar tahu cara bertahan.”

Perjalanan Ghazali menuju pencapaian ini melewati banyak kota. Ia lahir di Klaten, pernah tinggal di Mojokerto, Yogyakarta, dan Makassar sebelum akhirnya menetap di Surabaya untuk mengikuti Apple Developer Academy pada 2025. Program beasiswa Apple tersebut menjadi titik balik bagi Ghazali. Ia yang semula mengaku idealis—ingin semua berjalan sesuai rencana—belajar untuk lebih fokus, realistis, dan memangkas fitur yang tidak esensial.

Program di Apple Developer Academy mempertemukannya dengan dunia desain dan ideasi aplikasi, melengkapi kemampuan teknisnya yang sudah kuat sejak mulai belajar coding di bangku SMP. Kini Ghazali menjadi bagian dari angkatan pertama Apple Developer Institute for AI and ML, program lanjutan yang berfokus pada kecerdasan buatan dan machine learning.

“Menjadi juara Swift Student Challenge adalah kehormatan luar biasa karena ini menunjukkan bahwa Apple menghargai bukan hanya cara kita menulis kode, tetapi masalah nyata yang kita coba selesaikan,” kata Ghazali. Di sela program tersebut, ia tengah menyempurnakan aplikasi They Have Your Fingerprint! untuk dirilis ke App Store dalam waktu dekat.

Kompetisi Swift Student Challenge sendiri terbuka bagi pelajar dan mahasiswa di seluruh dunia. Para peserta ditantang membuat aplikasi playground menggunakan Swift Playgrounds atau Xcode dengan penilaian mencakup kreativitas, kualitas teknis, serta dampak dari ide yang diusung. (afr/afr)

Ghazali Ahlam Jazali menunjukkan bahwa pemahaman tentang pelacakan digital dapat disampaikan melalui gamifikasi sederhana. Dengan menempatkan pengguna sebagai pelacak, ia berharap orang dapat melihat secara langsung bagaimana data pribadi mereka dapat diambil dan disalahgunakan. Pendekatan ini menyoroti pentingnya pendidikan digital yang tidak hanya mengajarkan cara menghapus cookies, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan metode pelacakan yang lebih canggih. Dengan demikian, aplikasi ini tidak hanya menjadi pemenang kompetisi, tetapi juga alat edukatif yang dapat meningkatkan literasi privasi di kalangan generasi muda.

Ghazali Ahlam JazaliSwift Student ChallengeAppleCanvas FingerprintingPrivasi DigitalGamifikasiApple Developer Academy

Komentar

Memuat komentar...