Gim Suyati Kembali ke Kampung Halaman Setelah 31 Tahun

Wahyu T. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 93 dibaca
Bisik.id
Gim Suyati Kembali ke Kampung Halaman Setelah 31 Tahun

Gambar atau konten salah?

Gim Suyati berusia 73 tahun kembali ke kampung halamannya setelah lebih dari tiga dekade terpisah. Pada Kamis, 14 Mei 2026, ia tiba di Desa Adinuso, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Penerimaannya dipenuhi sorak sorai dan pelukan dari warga setempat.

Wajahnya memancarkan haru yang tak terlukiskan. Ia memeluk banyak orang, menampilkan senyum yang menenangkan hati. Semua orang tampak terharu melihatnya kembali setelah 31 tahun.

Semua cerita bermula ketika Anto, anak kedua Gim Suyati, memutuskan untuk pergi ke Malaysia pada tahun 1995. Ia berjanji akan kembali, namun tak pernah sampai di rumah. Pada tahun 1997, ibu sempat berpamitan ingin pulang, namun tak pernah kembali. Sejak saat itu, keluarga kehilangan kontak.

Anto, yang kini tinggal di Malaysia, mengingatkan bahwa ia telah berusaha mencari ibunya selama lebih dari dua dekade. Ia bekerja di sebuah pabrik di Batu Pahat, Johor, antara 2002 hingga 2004, demi mendapat kabar sekecil apapun. “Kalau libur, saya habiskan waktu di terminal, seharian, melihat orang lalu lalang. Barangkali ada ibu di sana. Tapi sampai empat tahun tidak ketemu,” ujarnya.

Setelah kontrak berakhir, Anto kembali ke Indonesia pada 2004. Tahun berikutnya, ia menerima kabar bahwa ayahnya telah meninggal. Anto memutuskan kembali ke Malaysia pada 2005, namun sampai 2008 ia masih tidak menemukan ibunya. Ia berdoa, bahkan menggelar doa bersama tahlil untuk ibunya, mulai dari seminggu, 40 hari hingga seribu hari.

Perubahan hidup Anto datang ketika ia bertemu Kamarudin Harun, warga Malaysia asli yang berusia sebaya dengan ibunya. “Cik Kamarudin Harun orang Malaysia asli, beliau usia sebaya dengan ibu saya. Setelah ketemu ngobrol akhirnya jadi sahabat, sering ketemu berbagi cerita. Akhirnya mereka akrab dan orang Malaysia sering pergi ke kontrakan ibu, sampai suatu ketika beliau memutuskan bulan April mencari keluarganya ibu ke indonesia,” kata Anto.

Pada 14 April 2026, Kamarudin datang ke Indonesia dan langsung menuju Desa Adinuso. Berbekal ingatan tentang Gim Suyati, ia berhasil menemukan keluarga Anto. Pada hari yang sama, Anto dan ibunya melakukan panggilan video pertama. Meski sulit mengenali karena perubahan fisik, keluarga akhirnya memastikan identitas Gim Suyati.

“Awalnya pangling, tapi setelah dikenali oleh saudara yang lebih tua, akhirnya yakin itu ibu saya,” ujar Anto. Ia menegaskan bahwa proses memulangkan ibunya tidak mudah. Saat pertama kali datang ke Malaysia, ibunya berada di status imigran gelap, tanpa dokumen resmi. “Dulu ibu saya itu pergi ke Malaysia karena ditipu orang, cuman lewat agen tidak resmi, tidak dibekali dokumen apa-apa, ya diselundupkan. Sampai Malaysia tidak dibekali paspor atau apapun jadi status ibu saya betul-betul kosong blong,” jelas Anto.

Karena tidak memiliki dokumen identitas, Anto harus mengajukan status kewarganegaraan ibunya di Kementerian Hukum di Jakarta. Ia mengakui bahwa proses ini memakan waktu lama, bahkan dua pekan belum ada hasil. Setelah melalui proses panjang, Anto akhirnya memperoleh dokumen perjalanan sementara atau SPLP (Surat Perjalanan Laksana Paspor). Selain itu, Gim Suyati harus membayar denda imigrasi Malaysia sebagai pendatang tanpa dokumen. Beruntung, saat itu sedang ada program pemutihan sehingga biaya yang harus dibayar jauh lebih ringan.

Anto mengungkapkan rasa syukur atas pertemuan kembali dengan ibunya setelah puluhan tahun terpisah. Ia mengapresiasi bantuan warga Malaysia yang membantu menemukan keluarganya. “Kalau tidak bertemu orang baik itu, mungkin sampai sekarang kami tidak tahu keberadaan ibu,” ujarnya.

Gim Suyati mengekspresikan kebahagiaan yang tak terlukiskan. Ia sempat menangis saat melihat kembali kampung halamannya. “Perasaannya senang sekali, gembira sekali. Ini tak tahu macam mana nak cakap (harus ngomong apa),” ucapnya dengan logat Melayu yang masih kental. Meskipun lama tinggal di Malaysia, ia tetap mengingat kampung halamannya dan merasa lebih nyaman tinggal di Indonesia. “Pasti di kampung halaman. Suka ketemu keluarga,” tambahnya.

Perjalanan Gim Suyati menyoroti tantangan migran yang tidak memiliki dokumen resmi. Ia harus menunggu lama, membayar denda, dan mengandalkan bantuan orang baik. Namun, akhirnya ia kembali ke tanah air, disambut hangat, dan dapat menutup luka lama. Cerita ini mengingatkan bahwa kesabaran dan dukungan komunitas dapat membuka pintu bagi yang terpisah.

Gim SuyatiAntoMalaysiaimigrasi gelapSPLPkembali ke kampung halamannya

Komentar

Memuat komentar...