Ginjal Rusak di Kalangan Muda: Protein & Suplemen Berbahaya
Gambar atau konten salah?
Di kalangan orang dewasa muda, penyakit ginjal kini semakin sering terdeteksi, meskipun tidak menampilkan faktor risiko tradisional seperti diabetes. Dr Mah Doo Yee, seorang spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit Pantai Ampang, Kuala Lumpur, Malaysia, menyoroti bahwa gaya hidup modern—pola makan, suplemen, dan kebiasaan hidrasi—mungkin menjadi penyebab utama.
Pola makan tinggi protein, yang kini populer di kalangan anak muda, menjadi salah satu fokus utama. Dr Mah menjelaskan, “Seiring waktu, beban kerja tambahan ini dapat memberi tekanan pada ginjal, terutama jika diet dikonsumsi dalam jumla yang sangat berat untuk jangka waktu yang lama,” jelasnya, dikutip dari New Straits Times.
Penggunaan suplemen olahraga secara berlebihan juga dapat memperparah kondisi. Beberapa suplemen mengandung stimulan seperti kafein atau kreatin, yang berpotensi menyebabkan dehidrasi dan meningkatkan tekanan pada ginjal bila dikonsumsi berlebihan.
Orang yang rutin berolahraga intens, bekerja di lingkungan panas, atau kurang minum cairan juga berisiko mengalami gangguan ginjal. Dehidrasi berulang dapat menurunkan aliran darah ke ginjal dan memicu cedera. Dalam kondisi berat, hal ini bisa berkembang menjadi nekrosis tubular akut (ATN), kerusakan sel penyaring ginjal akibat kekurangan darah dan oksigen.
Selain itu, tren konsumsi produk herbal, minuman detoks, dan produk pelangsing juga perlu diwaspadai. Dr Mah menambahkan, “Beberapa minuman detoks mungkin mengandung laksatif yang meningkatkan pergerakan usus dan menyebabkan kehilangan cairan,” jelasnya. Kondisi ini dapat memicu dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit yang akhirnya membebani ginjal. Beberapa obat herbal bahkan mengandung steroid yang dapat meredakan nyeri atau peradangan secara sementara, tetapi berbahaya bila digunakan dalam jangka panjang.
Data registrasi dialisis dan transplantasi di Malaysia pada tahun 2023 menunjukkan bahwa diabetes dan hipertensi menyumbang masing-masing 56 persen dan 30 persen kasus gagal ginjal. Kedua penyakit ini merusak ginjal secara perlahan tanpa gejala yang jelas.
Dr Rosnawati Yahya, konsultan nefrologi dan dokter transplantasi ginjal di Sunway Medical Centre, menegaskan bahwa banyak pasien baru menyadari penyakitnya saat sudah parah. “Tiga tahap pertama CKD biasanya tanpa gejala. Jika Anda menunggu sampai muncul gejala, Anda sudah terlambat,” tegasnya.
Gejala awal penyakit ginjal yang perlu diwaspadai meliputi:
- Urine berbusa
- Sering buang air kecil di malam hari (nokturia)
- Perubahan jumlah urine
- Tekanan darah tinggi
Gejala tambahan yang dapat menandakan masalah ginjal meliputi:
- Kelelahan
- Pembengkakan pada kaki atau wajah
- Sesak napas
- Nafsu makan menurun
- Penurunan berat badan
Kesadaran akan faktor risiko dan gejala awal sangat penting. Perubahan pola hidup seperti mengurangi asupan protein berlebih, menjaga hidrasi, dan memeriksa kesehatan ginjal secara rutin dapat membantu mencegah perkembangan penyakit ginjal kronis, terutama pada kelompok usia muda yang sebelumnya dianggap tidak berisiko.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Trump Lakukan Tiga Pemeriksaan Medis di Walter Reed
Air Kelapa 15 Hari: Hidrasi, Pencernaan, Berat Badan
Gejala Kulit Leukemia: Memar, Benjolan, Infeksi, dan Lainnya
Almond vs. Kacang Tanah: Pilihan Nutrisi Jantung Kesehatan
BPOM Tegaskan Indonesia Jadi Pemain Utama ATMP Terapi Gen
Peringatan WMO: El Nino 2026 Siap Guncang Indonesia
Berita Terbaru
Operasi Patuh 2026: 14 Hari Tepatkan Lalu Lintas Nasional
Vlahovic Bebas: Arsenal Tertarik, Juventus Tak Berikan Kontrak
Fabiola Elizabeth Tersangka Penipuan Online Internasional
Pedagang Valas Kaki Lima di Jalan Kwitang Terima Dolar Rusak
Kebakaran 4 Ha di Bangka Barat Padam dalam 1 Jam pada 3 Juni
Khutbah Jumat Akhir Tahun: Refleksi dan Muhasabah 1447 H
Curacao masuk Piala Dunia 2026, Chong satu pemain asli
