Gladen Alit Nganjuk: Lomba Panahan Tradisional Budaya Jawa
Gambar atau konten salah?
Di pagi hari Minggu, 19 April 2026, halaman utara GOR Bung Karno Begadung di Kecamatan Nganjuk dipenuhi oleh anak-anak dan remaja yang memegang busur panah kayu. Setiap peserta membawa tas kulit berisi puluhan panah kayu atau bambu yang terikat rapi di pinggang.
Para peserta tampil dengan pakaian tradisional Jawa. Laki‑laki mengenakan surjan lurik dan blangkon, sementara perempuan memakai kebaya dan jarik. Penampilan ini menambah nuansa kebudayaan di tengah kompetisi.
Gladen Alit adalah lomba panahan tradisional yang diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Nganjuk. Ketua pelaksana, Luthfi Wahdyan Rozaqi, menjelaskan bahwa lomba ini tidak hanya menguji ketepatan menembak sasaran, tetapi juga memperkenalkan warisan budaya Jawa kepada generasi muda.
Kompetisi ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke‑1.089 Kabupaten Nganjuk. “Untuk memeriahkan hari jadi Nganjuk. Tahun lalu ada Gladen Ageng yang bersifat open tournament, sedangkan sekarang Gladen Alit khusus peserta lokal,” ujar Luthfi.
Sejumlah 44 peserta berpartisipasi, terbagi dalam kategori U‑11 dan U‑18. Mereka berasal dari ekstrakurikuler sekolah dan klub panahan. Semua berlaga di kelas horsebow, salah satu cabang panahan tradisional selain jemparingan dan barebow.
Berbeda dengan panahan modern yang menggunakan busur pabrikan dan berada di bawah naungan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), panahan tradisional berada di bawah Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI). Ciri khasnya adalah penggunaan busur kayu atau bambu.
Di cabang jemparingan, peserta menembak sasaran sambil duduk bersila, menambah tantangan bagi para atlet.
Salah satu peserta, Muhammad Arham Dewantoro (14) dari MTs Daruth Tholibin, terlihat fokus menembak target. Ia berasal dari Desa Bangle, Kecamatan Lengkong, dan sudah setahun bergabung dengan klub panahan tradisional di Desa Ngringin. “Biasanya latihan dua kali seminggu. Tapi menjelang lomba latihannya setiap hari, biasanya sore pulang sekolah,” ujar Arham.
Gunawan Widagdo, Kepala Disporabudpar Nganjuk, menambahkan bahwa lomba ini selain untuk pengembangan olahraga dan mencetak atlet unggul, juga merupakan sarana rekreasi sekaligus pelestarian budaya. “Panahan tradisional adalah warisan budaya yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram,” ungkap Gunawan.
Di kategori U‑18, juara pertama adalah Ayesha Khalila Aisyah dari SMPN 1 Tanjunganom. Juara kedua diraih Nizam Farihin Ahsan dari MTs Daruth Tholibin Lengkong, dan juara ketiga Ezza Faiq dari SMPN 2 Patianrowo. Juara keempat, kelima, dan keenam masing-masing diraih Fahira Fajrun Nada dari MTsN 3 Nganjuk, M. Arham Dewantoro dari MTs Daruth Tholibin, dan M. Rangga Setiawan dari SMPN 1 Patianrowo.
Untuk kategori U‑11, juara pertama adalah Dzulhilmi Irsyad dari MI Islamiyah. Juara kedua dan ketiga diraih Rafka Zefa Ramadhan dan Muhammad Ikhbad dari SDN Tanjunganom. Juara keempat, kelima, dan keenam masing-masing diraih Hanifah dari SDN 1 Tanjunganom, Medina Aqila Khanza dari MI Miftahul Huda Pandantoyo, serta Syril Hermin Ningtyas dari SDN 1 Tanjunganom.
Acara ini menegaskan bahwa panahan tradisional tetap relevan sebagai sarana pelestarian budaya sekaligus kompetisi olahraga. Dengan melibatkan generasi muda, warisan ini berpotensi terus berlanjut di masa depan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Mihailo Perovic Tinggalkan Persebaya, Tak Lagi Pakai Seragam
Surabaya Pasang Pot Bunga di TPS Liar, Coba Hindari Sampah
Slamet Santoso Resmi Bergabung Sokol Pyrzyce, Klub Polandia
Delapan Kabupaten Jatim Siaga Darurat Kekeringan Surabaya
Persebaya Surabaya Resmi Berpisah dengan Mihailo Perovic
Santerra De Laponte: Tujuan Foto Keluarga di Pujon Malang
Berita Terbaru
Embolo Hadapi Visa Darurat, Swiss Siap Piala Dunia 2026 Cepat
Real Madrid Siap Tambah Bek: Konate, Dumfries, Mourinho
Pasangan Ganda Putri Raih Kemenangan di Indonesia Open 2026
Cisco Luncurkan Foundry Security Spec untuk Keamanan AI
PMDSU 2026: Beasiswa Magister‑Doktor Terbuka, Nambah Riset
BP3D Luncurkan Program Infrastruktur di Daerah Jauh
Menteri Keuangan: Rupiah Menurun, BI Jaga Stabilitas
