Golongan Darah A/B: Risiko Jantung Lebih Tinggi Di Riset 2024

Dani L. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 90 dibaca
Bisik.id
Golongan Darah A/B: Risiko Jantung Lebih Tinggi Di Riset 2024

Gambar atau konten salah?

Golongan darah bukan sekadar label yang dipakai saat darurat atau transfusi. Penelitian baru menunjukkan bahwa tipe darah juga dapat memengaruhi kemungkinan seseorang mengidap penyakit tertentu, termasuk penyakit jantung.

Penyakit jantung mencakup beragam kondisi, mulai dari serangan jantung, stroke, gagal jantung, hingga gangguan irama jantung. Pertanyaannya, tipe darah apa yang paling berisiko?

American Heart Association menyatakan bahwa pemilik golongan darah A, B, atau AB memiliki risiko lebih tinggi mengalami serangan jantung atau gagal jantung dibandingkan pemilik golongan darah O.

Dalam sebuah studi tahun 2020, pemilik golongan darah A atau B diketahui memiliki risiko serangan jantung 8 % lebih tinggi, dan risiko gagal jantung 10 % lebih tinggi.

Selain itu, risiko gangguan pembekuan darah juga meningkat. Orang dengan golongan darah A dan B disebut 51 % lebih mungkin mengalami trombosis vena dalam, serta 47 % lebih berisiko mengalami emboli paru. Kedua kondisi ini dapat memperburuk risiko gagal jantung.

Dr. Douglas Guggenheim, ahli hematologi dari Penn Medicine, menjelaskan bahwa penyebabnya diduga terkait peradangan yang lebih tinggi pada pemilik golongan darah A, B, atau AB. Protein tertentu pada golongan darah tersebut dapat menyebabkan penyumbatan atau penebalan lebih besar pada pembuluh darah vena maupun arteri, sehingga meningkatkan risiko pembekuan darah dan penyakit jantung.

“Singkatnya, seolah-olah tubuh telah berevolusi di sekitar lingkungannya untuk melindunginya sebaik mungkin,” ucap Dr. Guggenheim, dikutip dari laman Cnet.

Golongan darah O memang memiliki risiko penyakit jantung dan pembekuan darah sedikit lebih rendah. Namun, pemilik golongan darah O tidak bebas dari risiko. Mereka justru dinilai lebih rentan mengalami perdarahan atau gangguan pembekuan darah tertentu. Beberapa penelitian menemukan risiko kehilangan darah lebih tinggi setelah persalinan pada wanita dengan golongan darah O. Pada kasus cedera berat, pemilik golongan darah O dapat mengalami kondisi lebih buruk akibat kehilangan darah lebih banyak.

Penelitian lain menunjukkan bahwa orang dengan golongan darah AB mungkin memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kognitif dibanding golongan darah O. Kondisi ini meliputi kesulitan mengingat, sulit fokus, hingga gangguan dalam mengambil keputusan.

Apakah gaya hidup harus disesuaikan dengan golongan darah? Meskipun golongan darah dapat memengaruhi risiko penyakit jantung, para ahli menegaskan bahwa faktor terbesar tetap berasal dari gaya hidup. Pola makan, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, stres, hingga paparan polusi jauh lebih menentukan kesehatan jantung seseorang.

Dr. Guggenheim menegaskan tidak ada rekomendasi khusus berdasarkan golongan darah selain menjalani pola hidup sehat.

“Pola makan seimbang dan menyehatkan jantung secara umum akan menjadi rekomendasi dokter mana pun, dan saya katakan bahwa golongan darah ABO tidak mengubah hal itu,” kata Guggenheim. “Saya rasa tidak ada manfaat perlindungan hanya dengan memiliki golongan darah O yang berkontribusi untuk terhindar dari penyakit,” tutupnya.

Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa golongan darah dapat memengaruhi risiko jantung dan pembekuan darah, namun gaya hidup tetap menjadi faktor penentu utama. Menjaga pola makan seimbang, rutin berolahraga, dan menghindari kebiasaan merokok tetap menjadi strategi paling efektif untuk melindungi kesehatan jantung, terlepas dari tipe darah seseorang.

golongan darahpenyakit jantungtrombosis vena dalamemboli paruperadanganpola hidup sehat

Komentar

Memuat komentar...