Golongan Darah B Tertunjukkan Risiko Diabetes Type 2 Lebih Tinggi
Gambar atau konten salah?
Seorang peneliti dari Rumah Sakit Shengjing Universitas Kedokteran China, Fang-Hua Liu, memimpin sebuah studi yang meninjau secara menyeluruh pada 2024 terkait risiko penyakit diabetes militus tipe 2 dan golongan darah. Hasilnya, para peneliti menemukan bahwa orang dengan golongan darah B lebih rentan terkena penyakit tersebut.
Golongan darah manusia terbagi menjadi delapan kelompok utama berdasarkan keberadaan gula dan protein di permukaan sel darah merah. Golongan A, B, dan AB ditentukan oleh adanya antigen atau gula yang dapat memicu respons imun. Golongan darah O tidak memiliki antigen A maupun B. Di sisi lain, faktor Rhesus (Rh) merupakan protein yang menentukan apakah darah seseorang berlabel positif atau negatif.
Sejumlah studi sebelumnya menunjukkan bahwa perbedaan kecil pada sel darah ini bisa berkaitan dengan kerentanan terhadap penyakit tertentu. Dalam studi ini, ahli epidemiologi melakukan evaluasi sistematis terhadap hubungan antara golongan darah dan sekitar 270 hasil kesehatan berbeda.
“Kami secara sistematis mencari di PubMed, Web of Science, Embase, Scopus, Cochrane Library, dan beberapa basis data regional sejak awal hingga 16 Februari 2024, untuk mengidentifikasi tinjauan sistematis dengan meta‑analisis studi observasional yang mengevaluasi hubungan antara golongan darah ABO dan Rh dengan berbagai hasil kesehatan,” jelas peneliti dalam jurnal yang dipublikasikan di BMC Medicine.
Untuk menilai 270 hubungan antara golongan darah dan penyakit, peneliti melakukan serangkaian uji statistik guna menyaring temuan yang lemah atau kurang dapat diandalkan. Mereka menilai kekuatan bukti, konsistensi hasil antar studi, hingga ukuran data yang digunakan. Selain itu, mereka juga memeriksa potensi bias, seperti studi kecil yang cenderung melebih‑lebihkan hasil. Hal yang paling penting, para peneliti mempertanyakan apakah hubungan tersebut akan tetap bertahan jika kembali dalam penelitian lanjutan. Hasilnya, sebagian besar hubungan tidak lolos seleksi ketat ini.
Pada akhirnya, hanya satu hubungan yang mempengaruhi standar bukti tertinggi yakni antara golongan darah B dan diabetes tipe 2. Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan tersebut nyata, meski relatif kecil, sekitar 28 persen lebih tinggi dibandingkan risiko dasar. Namun, angka ini jauh lebih rendah dibandingkan faktor risiko lain seperti pola makan, berat badan, atau gaya hidup.
Sebagai perbandingan, konsumsi 50 gram daging olahan per hari dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 hingga 37 persen. Kurangnya aktivitas fisik bahkan bisa meningkatkan risiko hingga 112 persen. Sementara kelebihan berat badan tetap menjadi salah satu faktor risiko terkuat.
Peneliti juga belum memastikan apa yang menyebabkan peningkatan risiko ini. Sebuah studi tahun 2025 mengindikasikan kemungkinan peran mikrobioma usus, namun masih diperlukan penelitian lebih lanjut.
Studi ini menegaskan bahwa meskipun golongan darah B memiliki risiko sedikit lebih tinggi, faktor gaya hidup tetap menjadi penentu utama kesehatan. Menjaga pola makan seimbang, rutin berolahraga, dan menjaga berat badan ideal tetap menjadi strategi paling efektif untuk mencegah diabetes tipe 2.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus Katup Jantung Naik di Indonesia, Deteksi Awal Penting
Tantangan Menemukan Angka Tersembunyi dalam Foto 7 Soal
Operasi Benjolan Bahu Raffi Ahmad, Dorong Pemeriksaan Rutin
Prabowo Luncurkan Program Makan Bergizi Gratis di Sentul
Bloom Putih Anggur: Lapisan Lilin Alami, Bukan Jamur
Rasa Terbakar Dada: Penyebab Utama dan Tanda Peringatan
Berita Terbaru
Raphinha: Brasil kuat menyerang, butuh pertahanan Piala Dunia
SPMB 2026 Jambi: Mulai 8 Juni, Jalur Afirmasi & Mutasi
Mandian Air Hangat vs Air Dingin: Manfaat bagi Tubuh
Kebakaran Rumah di Musim Kemarau, Asuransi Zurich Lindungi
Trans7 Mengajar Cipasung: Pelatihan Konten Digital Mahasiswa
Cucurella Siap Transfer ke Barcelona, Chelsea Tuntut
Saliba Cedera, Deschamps Pastikan Siap Piala Dunia 2026
Asus ExpertBook Ultra: Laptop Tipis Prosesor Panther Lake
