Grebeg Pasa Masjid Agung Solo: Warga Raih Gunungan Tradisi
Gambar atau konten salah?
Grebeg Pasa diadakan di halaman Masjid Agung Solo oleh pihak Paku Buwono XIV Purbaya. Rombongan grebeg dimulai dengan prajurit Keraton Solo, lalu membawa dua gunungan. Dari Kori Kamandungan, rombongan melanjutkan perjalanan sampai halaman Masjid Agung. Warga yang ingin mengambil gunungan sudah menunggu sejak pagi.
Pihak takmir Masjid Agung menunggu untuk dilanjutkan wilujengan dan pembacaan doa. Setelah doa dibacakan, warga langsung berebut gunungan. Salah satu warga, Dina Oktavia (28), mengaku selalu datang ke grebeg setiap tahun. Di tahun ini, ia mendapat telur dan kacang panjang. “Ini dapat telur, dapat kacang panjang, sama rencana mau dibuat sayur. Nanti buat dimasak sama Ibu di rumah,” katanya.
Dina percaya ada keberkahan dari makanan yang diperebutkan. Ia menambahkan, “Nanti biar bisa dapat berkahnya, kan tadi sudah didoain sama Abdi Dalem. Ya, semoga saja dapat berkahnya dari bisa dapat ini.”
Ia datang sekitar pukul 09.30 WIB, meski rombongan tiba pukul 10.38 WIB. “Datang jam 09.30 WIB sampai sini. Iya, soalnya di jadwal kan itu mulainya jam 10.00, ternyata molor. Ke sini sama adik,” jelasnya.
Muhtarom, ketua takmir Masjid Agung Solo, menjelaskan bahwa Grebeg Pasa adalah bagian dari konsep besar grebeg, bersama Grebeg Mulud dan Grebeg Besar, sebagai wujud syukur Raja dan Keraton atas nikmat Allah SWT. Tradisi ini menandai selesainya ibadah puasa satu bulan penuh.
Keraton menyajikan sepasang gunungan yang sarat simbolisme peran laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga. Gunungan Jalu berisi bahan mentah seperti polo kapendem, polo kasampar, dan polo kagantung, melambangkan tanggung jawab kepala keluarga. Gunungan Estri berisi makanan siap saji, melambangkan peran istri sebagai manajer rumah tangga. Selain itu, terdapat judang-judang berisi makanan yang dimaknai sebagai sedekah dan keselamatan.
Muhtarom menekankan esensi rangkaian ini adalah sedekah untuk menolak bala. “Sedekah itu bisa menolak bala. Ketika kita banyak sedekah, insyaallah kita akan dijauhkan dari marabahaya,” pungkasnya.
Acara ini menegaskan nilai kebersamaan dan rasa syukur dalam tradisi Keraton Solo.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Banjir Rob di Demak Meningkat, Warga Minta Tanggul Pantai
SPMB SMA/SMK 2026: Kuota 5% Domisili Desa dan 2% ATS Jateng
KAI Commuter Tandai Penumpang Merokok di KRL di Palur
Kera Liar Merusak Rumah Pak Wahyu, Evakuasi 20 Menit
Prabowo Panggil Nanik S Deyang Jadi Kepala BGN, Ganti Dadan
Kekurangan Sekolah di 5 Kecamatan Semarang: Tanah Belum Tersedia
Berita Terbaru
Pelantikan DPW IAEI Jambi, Gubernur Tekankan Ekonomi Syariah
Bayi Ditemukan Telantar di Sungai Cibinong, Cibogo
Vlahovic Lepas dari Juventus, Cari Klub Baru Luar Italia
Raymond-Indra dan Nikolaus-Joaquin Kalah, Fokus Tampil
BMKG: Hujan Ringan di Way Kanan, Lampung Sore Hari
Zamzam: Air Suci Terus Mengalir Meski Dipompa 24 Jam
Tanggal 04 Juni 2026 Dapat Dihitung 18 Dzulhijjah 1447 H
Terowongan Tijuana‑Otay, 1.000 kg Kokain Ditangkap Besar
Gejala Kulit Leukemia: Memar, Benjolan, Infeksi, dan Lainnya
Almond vs. Kacang Tanah: Pilihan Nutrisi Jantung Kesehatan
