Grebeg Pasa Masjid Agung Solo: Warga Raih Gunungan Tradisi

Fitri A. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 48 dibaca
Bisik.id
Grebeg Pasa Masjid Agung Solo: Warga Raih Gunungan Tradisi

Gambar atau konten salah?

Grebeg Pasa diadakan di halaman Masjid Agung Solo oleh pihak Paku Buwono XIV Purbaya. Rombongan grebeg dimulai dengan prajurit Keraton Solo, lalu membawa dua gunungan. Dari Kori Kamandungan, rombongan melanjutkan perjalanan sampai halaman Masjid Agung. Warga yang ingin mengambil gunungan sudah menunggu sejak pagi.

Pihak takmir Masjid Agung menunggu untuk dilanjutkan wilujengan dan pembacaan doa. Setelah doa dibacakan, warga langsung berebut gunungan. Salah satu warga, Dina Oktavia (28), mengaku selalu datang ke grebeg setiap tahun. Di tahun ini, ia mendapat telur dan kacang panjang. “Ini dapat telur, dapat kacang panjang, sama rencana mau dibuat sayur. Nanti buat dimasak sama Ibu di rumah,” katanya.

Dina percaya ada keberkahan dari makanan yang diperebutkan. Ia menambahkan, “Nanti biar bisa dapat berkahnya, kan tadi sudah didoain sama Abdi Dalem. Ya, semoga saja dapat berkahnya dari bisa dapat ini.”

Ia datang sekitar pukul 09.30 WIB, meski rombongan tiba pukul 10.38 WIB. “Datang jam 09.30 WIB sampai sini. Iya, soalnya di jadwal kan itu mulainya jam 10.00, ternyata molor. Ke sini sama adik,” jelasnya.

Muhtarom, ketua takmir Masjid Agung Solo, menjelaskan bahwa Grebeg Pasa adalah bagian dari konsep besar grebeg, bersama Grebeg Mulud dan Grebeg Besar, sebagai wujud syukur Raja dan Keraton atas nikmat Allah SWT. Tradisi ini menandai selesainya ibadah puasa satu bulan penuh.

Keraton menyajikan sepasang gunungan yang sarat simbolisme peran laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga. Gunungan Jalu berisi bahan mentah seperti polo kapendem, polo kasampar, dan polo kagantung, melambangkan tanggung jawab kepala keluarga. Gunungan Estri berisi makanan siap saji, melambangkan peran istri sebagai manajer rumah tangga. Selain itu, terdapat judang-judang berisi makanan yang dimaknai sebagai sedekah dan keselamatan.

Muhtarom menekankan esensi rangkaian ini adalah sedekah untuk menolak bala. “Sedekah itu bisa menolak bala. Ketika kita banyak sedekah, insyaallah kita akan dijauhkan dari marabahaya,” pungkasnya.

Acara ini menegaskan nilai kebersamaan dan rasa syukur dalam tradisi Keraton Solo.

Grebeg PasaMasjid Agung SoloKeraton Sologunungantradisi grebegsedekahsyukur

Komentar

Memuat komentar...