Greenhouse Pangandaran Jadi Ekspor Tanaman Hias ke Jepang

Arif S. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 70 dibaca
Bisik.id
Greenhouse Pangandaran Jadi Ekspor Tanaman Hias ke Jepang

Gambar atau konten salah?

Yahya Saeful Uyun adalah pemuda asal Pangandaran yang memulai usaha greenhouse tanaman hias di Desa Masawah, Kecamatan Cimerak. Ia mengelola ruang pertanian ini dengan memanfaatkan lingkungan rumahnya, menjadikan hobi menjadi sumber pendapatan.

Usaha ini bermula tiga tahun lalu ketika Yahya mulai menanam kadaka dan huperzia. Awalnya, ia hanya menaruh tanaman di halaman rumah dan memposting foto‑foto di media sosial. Namun, aktivitas sederhana itu menumbuhkan ketertarikan lebih dalam.

Keberuntungan datang ketika sebuah perusahaan tanaman di Jepang menemukan foto‑foto Yahya di media sosial. Perusahaan tersebut, Flore 21, mengirimkan perwakilan untuk mengunjungi greenhouse-nya. Kunjungan resmi berlangsung pada 16-18 Mei 2026 di Cimerak.

Setelah melihat cara Yahya mengelola tanaman, Flore 21 menandatangani Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU). Kesepakatan ini menandai awal kerja sama ekspor tanaman hias lokal ke pasar internasional.

Perusahaan Jepang tertarik pada kadaka dan huperzia yang ditanam Yahya. Selain itu, koleksi tanaman lain seperti lidah buaya, aglaonema, lidah mertua, dan anggrek bulan juga menarik perhatian mereka.

"Karena permintaan banyak kini Alhamdulillah saya kelola dengan serius dan green house ini sudah menelurkan banyak beragam tanaman hias," kata Yahya pada 26 Mei 2026. Ia mengaku tidak pernah memikirkan bisnis secara serius pada awalnya, namun kepercayaan dan nilai ekonomi membuatnya mengelola greenhouse secara profesional.

Menurut Yahya, kunjungan pengusaha Jepang menjadi titik awal ekspor bunga hias ke kancah internasional. "Waktu mereka kunjungan ke sini penasaran dengan pengelolaan tanaman hias di sini. Jadi sebelumnya hanya menerima kiriman dari saya saja," ujarnya. Ia menambahkan bahwa berbagai koleksi tanaman sudah dikirimkan sebelum ada kesepakatan ekspor langsung, namun pihak pembeli meminta melihat proses budi daya secara langsung.

Perusahaan Jepang telah mengajukan permintaan khusus untuk pengiriman dua jenis tanaman, yakni kategori hoya dan rhipsalis, yang direncanakan akan diekspor dalam waktu dekat. Selain kiriman ekspor, permintaan pengiriman regional dan daerah juga mulai berdatangan, baik untuk keperluan perumahan maupun perhotelan.

Keberhasilan menembus pasar ekspor memberi dampak sosial bagi masyarakat sekitar. Saat ini, RI-YA Greenhouse menyerap sekitar lima hingga sepuluh tenaga kerja lokal. "Ini menjadi salah satu bentuk syukur kami karena usaha ini bisa ikut membantu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar," kata Yahya.

Ia berharap keberhasilan greenhouse-nya dapat menjadi motivasi bagi para pembudidaya tanaman hias lainnya di Kabupaten Pangandaran. "Terus konsisten dan berani mengembangkan usaha," sarannya.

Selain prospek ekonomi, budi daya tanaman hias juga memberi dampak positif bagi lingkungan. Tanaman membantu menciptakan udara yang lebih sejuk dan asri. Yahya mengajak generasi muda Pangandaran untuk lebih kreatif memanfaatkan potensi alam yang melimpah di daerahnya.

"Potensi alam di Pangandaran sangat besar. Kalau anak muda kreatif mengolahnya menjadi produk bernilai jual, tidak hanya bisa menghidupi keluarga sendiri tapi juga membuka peluang kerja bagi orang lain," tutupnya.

Keberhasilan Yahya menunjukkan potensi pasar ekspor tanaman hias lokal dan dampak positif bagi ekonomi serta lingkungan di Pangandaran. Dengan kerja sama internasional dan dukungan komunitas, usaha kecil ini dapat berkembang lebih luas.

GreenhouseTanaman hiasEksporPangandaranFlore 21KadakaHuperziaYahya Saeful Uyun

Komentar

Memuat komentar...