Gregeb Besar Solo 2026: Rencana Hari Idul Adha Pada 27 Mei

Rizki W. · 3 min baca · 15 hari lalu · 83 dibaca
Bisik.id
Gregeb Besar Solo 2026: Rencana Hari Idul Adha Pada 27 Mei

Gambar atau konten salah?

Solo – Pihak Paku Buwono XIV Purbaya akan menggelar Grebeg Besar pada tahun ini. Meski begitu, KGPH Panambahan Agung Tedjowulan sudah mewanti-wanti agar Grebeg Besar dilaksanakan sekali.

Pengangeng Sasana Wilapa versi PB XIV Purbaya, GKR Panembahan Timoer Rumbay mengatakan Grebeg Besar bakal dilaksanakan pada hari H Idul Adha atau tanggal 27 Mei 2026. Rangkaian acara Grebeg Besar sama dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Ya kalau kegiatannya kan sudah seperti biasa nggih, kalau di Keraton Grebeg Iduladha itu seperti biasa gunungan, kemudian dibawa ke Masjid Besar, didoakan baru kemudian dibagikan. Nah, hanya ini kan kebetulan yang mengadakan pertama kali diadakan pada masa takhtanya Paku Buwono XIV, Grebeg digelar pada tanggal 27 Mei nanti,” kata Rumbay ditemui di Kori Talang Paten, Keraton Solo, Selasa 19 Mei 2026.

Rumbay menegaskan bahwa semua kegiatan Grebeg, Gunungan, dan Suro sudah diatur oleh Raja. Ia menambahkan, “Oh, Gusti Tedjo mau buat,” ucap Rumbay.

“Gini, tadi kan sudah diatur, sudah dijelaskan oleh Gusti Dipo bahwa acara-acara Grebeg, Gunungan, Suro, itu adalah acara yang cara keraton yang itu adalah perintah Raja. Dhawuh Dalem kan begitu tadi ngendika-nya, perintah, apa mau ya, acara dhawuh Dalem. Nah, dhawuh Dalem-nya itu dari Raja. Makanya saya malah bingung, kalau Gusti Tejo bikin itu terus rajane sapa (siapa)? Kan Gusti Tejo bukan Raja,” sambung Rumbay.

Ketika ditanya tentang keinginan Tedjowulan agar Keraton Solo menggelar Grebeg Besar digelar satu acara saja, Rumbay menanggapi enteng. Ia mengajak Tedjowulan untuk bergabung ke Grebeg Besar yang digelar Paku Buwono XIV Purbaya. “Lo ya bagus, monggo-monggo silakan. Bergabunglah bersama kita, gitu aja toh. Kan kalau kita kan ada Rajanya sudah. Gitu. Kalau masalah beliau mendapatkan SK, itu kan untuk revitalisasi, untuk pengelolaan dalam rangka apa namanya revitalisasi itu sendiri, pelestarian budaya, kan begitu,” tuturnya.

Rumbay menegaskan bahwa ia tidak menyinggung masalah suksesi. “Kan tidak menyinggung masalah suksesi. Bahkan menterinya pun waktu di DPR kan ngendika juga, kalau itu bukan SK ini tidak mencampuri suksesi. Nah, kalau di kami suksesi itu sudah selesai, karena sudah ada yang jumeneng, gitu. Ngoten,” lanjutnya.

Ia juga menegaskan bahwa ia menjalankan titah dari Raja Paku Buwono XIII terkait suksesi Keraton Solo. “Jadi saya juga ingin menyampaikan, saya ini hanya menjalankan titah Raja Paku Buwono XIII dan apa yang saya tahu dari aturan adat atau paugeran yang turun-temurun sejak dulu, itu saja yang saya jalankan. Jadi kalau dibilang jemawa-jemawa itu. Saya hanya menjalankan apa yang saya tahu, apa yang saya mengerti dari paugeran itu sendiri yang sudah turun-temurun,” ujarnya.

Pelaksana Pelindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Keraton Solo, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, sebelumnya mengeluarkan instruksi tegas menjelang pelaksanaan Grebeg Besar Idul Adha Tahun Dal 1959 atau tahun 2026. Tedjowulan meminta seluruh keluarga besar keraton bersatu dan tidak ada lagi kelompok yang menyelenggarakan acara sendiri-sendiri. Langkah ini diambil untuk memastikan tradisi keraton berjalan khidmat tanpa gangguan konflik internal.

“Gusti Tedjowulan memberikan arahan agar jangan lagi menonjolkan ego personal maupun kelompok. Jangan mengadakan Grebeg Besar Idul Adha sendiri-sendiri,” kata Juru Bicara Panembahan Agung, Kanjeng Pakoenegoro melalui keterangan tertulis yang diterima pada 13 Mei 2026. Ia meminta agar tidak ada gesekan dalam keluarga Keraton Solo. “Keluarga Besar Keraton Surakarta harus bersatu. Tidak boleh ada gesekan dari mana pun,” ujarnya.

Selain itu, Tedjowulan mengundang Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) GKR Wandansari atau Gusti Moeng, perwakilan pihak TNI dan Polri, Camat Pasar Kliwon hingga pemangku wilayah dalam rapat Grebeg Besar 2026. Mengenai pelaksanaan Grebeg Besar, Tedjowulan menunggu pengumuman dari Pemerintah Pusat. “Prinsipnya, misalkan Idul Adha ditetapkan pada 27 Mei 2026, maka Gerebeg Besar akan diadakan hari berikutnya atau hari kedua Idul Adha,” jelasnya.

Grebeg Besar merupakan upacara tradisi keraton yang melibatkan berbagai elemen budaya. Paku Buwono XIV Purbaya menegaskan bahwa acara tersebut akan berlangsung sesuai dengan tata cara yang telah ditetapkan. Ia menekankan pentingnya kesatuan keluarga keraton dalam pelaksanaan tradisi ini. Sementara itu, Tedjowulan menekankan perlunya koordinasi dengan pihak pemerintah dan lembaga adat untuk memastikan acara berjalan lancar.

Dalam konteks ini, perbedaan pandangan antara Paku Buwono XIV dan Tedjowulan mencerminkan dinamika internal keraton. Namun, kedua belah pihak sepakat bahwa tujuan utama adalah melestarikan budaya dan menjaga keharmonisan keluarga keraton. Dengan demikian, Grebeg Besar diharapkan menjadi simbol persatuan dan penghormatan terhadap tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.

Grebeg BesarPaku Buwono XIVKGPH Panembahan Agung TedjowulanKeraton SoloIdul AdhaSuksesi KeratonPelestarian Budaya

Komentar

Memuat komentar...