Gubernur Jambi Terima Gelar Adat Depati
Gambar atau konten salah?
Gubernur Jambi, Al Haris, baru saja dianugerahi gelar adat kehormatan. Gelar yang diberikan adalah Depati Amanah Negroi Tanoh Sunge Pnoh. Pemberian ini datang dari Lembaga Kerapatan Adat Enam Luhah Sungai Penuh. Ini bukan sekadar seremoni. Mereka yang memberi gelar ingin menegaskan komitmen terhadap nilai-nilai adat. Terutama di tengah modernisasi yang terus berjalan deras.
Penyematan gelar terjadi dalam rangkaian acara Kenduri Sko Enam Luhah Sungai Penuh. Lokasinya di Tanah Mendapo. Tanggalnya, Sabtu, 04 Juli 2026. Di momen yang sama, Wali Kota Sungai Penuh, Alfin, juga mendapat gelar. Gelarnya adalah Depati Susun Negroi Tanoh Sunge Pnoh. Sementara itu, Bupati Kerinci, Monadi, dianugerahi gelar Depati Sinar Bumi Sakti.
Bagi Al Haris, adat bukanlah sekadar pertunjukan budaya. Bukan pula aksesoris di acara-acara besar. Ia melihat adat lebih dalam dari itu. Menurutnya, adat adalah fondasi. Fondasi yang membentuk jati diri masyarakat Jambi. Adat juga berfungsi sebagai penuntun. Penuntun dalam menjaga harmoni kehidupan bersama.
"Adat bagi masyarakat Kota Sungai Penuh dan Provinsi Jambi bukan sekadar tradisi," kata Al Haris pada Minggu, 05 Juli 2026. Ia melanjutkan, "Adat adalah cara kita memahami hidup, menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah, menunjukkan adat dan agama saling menguatkan."
Al Haris memberikan perhatian khusus pada Kenduri Sko. Acara ini baru kembali digelar setelah hampir dua dekade vakum. Ia menilai momentum ini sangat penting. Momen ini harus menjadi titik kebangkitan adat. Ia khawatir adat semakin terpinggirkan. Terpinggirkan oleh perkembangan zaman dan pengaruh globalisasi yang begitu kuat.
Gubernur juga mengingatkan soal pembangunan daerah. Menurutnya, pembangunan tak bisa hanya mengejar angka-angka. Pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur bukan satu-satunya ukuran. Pelestarian budaya dan adat istiadat juga harus jadi bagian dari pembangunan. Tujuannya jelas. Agar generasi muda tetap mengenal identitas daerahnya sendiri.
Al Haris menekankan pentingnya persatuan. "Kita ini satu, satu Sakti Alam Kerinci. Jangan karena perbedaan pilihan atau kepentingan politik, persaudaraan menjadi renggang. Adat mengajarkan kebersamaan dan persatuan," ujarnya.
Ia mendorong semua rumah adat dan simbol-simbol adat berada dalam satu pembinaan. Pembinaan dari lembaga adat yang sama. Hal ini perlu agar nilai-nilai budaya tetap terjaga. Pewarisannya ke generasi berikut pun bisa berlangsung secara utuh.
Menurut Al Haris, adat harus menjadi kekuatan moral. Kekuatan itu penting di tengah tantangan era digital. Adat juga bisa menjadi benteng. Benteng agar budaya lokal tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Gelar-gelar adat yang diberikan ini mencerminkan upaya menghidupkan kembali tradisi yang sempat redup. Kenduri Sko yang kembali digelar setelah hampir dua puluh tahun menjadi simbol bahwa nilai-nilai leluhur masih dianggap relevan. Gubernur melihatnya bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai perangkat untuk menjaga kohesi sosial di tengah perubahan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Cek Bansos PKH Tahap 3 Mulai 20 Juli, Siapkan NIK
Wapres Cek PSEL Palembang, Sorot Dampak Lalu Lintas Sampah
GoldenEye Kembali Malam Ini, Film Bond Perdana Brosnan
Kapolres Muba Tinjau Titik Longsor, Minta Warga Alih Jalur
Harga Emas Antam Turun Rp2.000 per Gram
Gibran Tinjau Jembatan Musi V, Progres Capai 91,21 Persen
Berita Terbaru
Webinar AI untuk Riset Akademik: Percepat Skripsi dan Tesis
Menteri Dorong Rektor Naikkan Gaji Dosen
Stella Christie: Kunci RI Kuasai AI Ada di Data
SPP SMA Negeri Jawa Barat Akan Dihidupkan Kembali?
Prabowo Hentikan MBG untuk Anak Orang Kaya
BGN Kaji Libatkan Kantin Sekolah untuk MBG
DPR Desak Penataan Taxiway Bandara Halim
Menkeu Purbaya: Surat Tambahan Anggaran IKN Rp 2,86 T Belum Sampai