Gubernur Khofifah Tekankan Sinergi Ekonomi Jawa Timur
Gambar atau konten salah?
Di Surabaya, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Jawa Timur menggelar seminar Jatim Talk yang dipersembahkan bersama Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Surabaya Koordinator Jawa Timur. Acara ini menampilkan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, sebagai salah satu pembicara utama.
Seminar menyoroti tema “Sinergi Penguatan Daya Saing Jawa Timur melalui Hilirisasi Komoditas Unggulan dan Iklim Investasi Berkelanjutan”. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari penyebaran Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Jawa Timur, yang diterbitkan setiap tiga bulan. LPP ini menjadi landasan bagi rangkaian acara menuju East Java Economic Forum (EJAVEC) 01 September 2026, yang dijadwalkan berlangsung pada September 2026.
Dalam pidatonya, Khofifah menyoroti dinamika geopolitik global yang semakin meningkat, khususnya eskalasi konflik di Timur Tengah. Menurutnya, kondisi tersebut menuntut adanya sinergi, kolaborasi, serta langkah adaptif guna menjaga stabilitas dan melanjutkan momentum pertumbuhan ekonomi Jawa Timur.
“Kinerja ekonomi Jawa Timur tetap solid dengan pertumbuhan sebesar 5,33 persen (year on year) pada tahun 2025. Hal itu menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan ke depan sekaligus memanfaatkan peluang yang ada,” kata Khofifah. Ia menegaskan bahwa ketahanan ekonomi Jawa Timur harus terus diperkuat melalui kerja sama lintas sektor, serta kemampuan beradaptasi dalam menghadapi tantangan dan menangkap peluang di tengah situasi global.
Khofifah juga menekankan peran strategis Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara. Peran ini diwujudkan melalui penguatan kerja sama perdagangan dan investasi antar daerah, percepatan hilirisasi komoditas strategis, serta penciptaan iklim investasi yang kondusif untuk menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi. “Upaya tersebut didukung melalui hilirisasi lanjutan dari bahan baku olahan, penguatan distribusi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Khofifah menekankan bahwa sektor pangan menjadi salah satu kunci dalam menghadapi situasi global yang tidak menentu. Jawa Timur saat ini dinilai memiliki ketahanan pangan yang kuat serta menjadi pemasok berbagai bahan pokok ke sejumlah wilayah di Indonesia, bahkan hingga pasar ekspor. “Kerja sama perdagangan dan investasi antar daerah tentu harus terus diperkuat. Kemudian percepatan hilirisasi komoditas strategis dan penciptaan iklim investasi kondusif itu juga sangat penting,” terangnya. Sebagai salah satu lumbung pangan nasional, Jawa Timur disebut memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas pasokan. “Dan yang utama adalah Jawa Timur harus terus melakukan penguatan di sektor pangan. Kuncinya lahan di sektor pangan kita pastikan memadai, kemudian penguatan distribusi serta penguatan SDM,” tambahnya.
Khofifah juga mengungkapkan bahwa kondisi global saat ini berpotensi memberikan tekanan terhadap perekonomian nasional, termasuk di Jawa Timur. Meski demikian, ia menilai peluang tetap terbuka jika dikelola dengan baik. “Tekanan tentu ada, tapi kita juga harus tetap melihat peluang. Bahwa peluang tetap terbuka melalui pemanfaatan sumber pertumbuhan baru, penguatan iklim investasi, peningkatan kualitas tenaga kerja, serta dukungan kebijakan strategis yang terarah,” jelasnya.
Ia berharap forum Jatim Talk dapat menjadi titik temu para pemangku kepentingan untuk menyamakan persepsi dalam merespons dinamika ekonomi global, termasuk dampak konflik geopolitik. Pada kesempatan tersebut, Bank Indonesia Jawa Timur juga menyerahkan buku Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) kepada Gubernur Jawa Timur. Buku ini memuat sejumlah rekomendasi kebijakan utama, mulai dari pembangunan dan integrasi distribusi barang, percepatan investasi untuk mendukung hilirisasi industri, termasuk komoditas pertanian unggulan.
Selain itu, terdapat pula rekomendasi terkait penguatan ketahanan pangan dan agribisnis dalam pengendalian inflasi, pengembangan sektor pariwisata, ekonomi syariah, serta UMKM, hingga optimalisasi kredit produktif dan peningkatan pendapatan asli daerah. (ihc/dpe)
Seminar ini menegaskan bahwa Jawa Timur memiliki potensi besar dalam sektor hilirisasi, perdagangan, dan ketahanan pangan. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, provinsi ini dapat memperkuat daya saingnya di kancah nasional dan global, sekaligus menanggapi tantangan geopolitik yang terus berkembang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Persebaya Penasaran Ramadhan Sananta, Bebas Transfer
Cuaca Berawan Surabaya Hari Ini, Suhu 24-34°C Kelembapan
Surabaya Tampilkan Jadwal Sholat Lengkap 4 Juni 2026
Kebijakan Baru Pemerintah Mengurangi Plastik Sekali
Gudang Semen Terbakar di Nganjuk, Tidak Ada Korban Jiwa
Jadwal Sholat Jawa Timur 04 Juni 2026: Subuh Paling Awal
Berita Terbaru
Hanya 8 Tim Piala Dunia 2026 Punya Pemain Lokal, 310 Luar Negeri
SPMB Jakarta 2026: Daftar Sekolah dengan Skor UTBK 2022
KAI Butuh Rp1,2 Triliun & 8.000 Petugas Perlintasan Sebidang
Dolar AS Beruat Rp 18.000, Rupiah Terdampak Kuat Pada Hari
PPPK Boleh Dapat Gaji ke-13 2026, Besar Sesuai Masa Kerja
SIM Baru Kini Verifikasi Wajah, Mulai 1 Juli 2026 Indonesia
Pria 65 Tahun di Klampok Lor Berhenti Hidup, Kembali Mati
Persebaya Penasaran Ramadhan Sananta, Bebas Transfer
